Opini

Pemulihan Untuk Bumi

BTN iklan

Oleh: Dr. Wahyu Nugroho, Pengajar Hukum Lingkungan USAHID Jakarta dan Peneliti Kolegium Jurist Institute

Jakarta, LEI,    Bumi masih nyaman untuk dihuni manusia  dan makhluk hidup lainnya, segala sesuatu yang menjadi kebutuhan manusia semua tersedia, namun disaat perilaku manusia yang menunjukkan tidak memiliki etika terhadap bumi,maka bumi juga punya reaksi. Wabah covid 19 ini adalah salah satu “bentuk protes” bumi karena etika manusia terhadap lingkungannya kian rendah.

Dengan beragam tindakan atau perilaku yang menunjukkan pencemaran atau kerusakan terhadap bumi dan penopang ekosistem lainnya, misalnya saja masih saja terjadi kebakaran hutan dan lahan sejumlah daerah salah satunya provinsi Riau di masa pandemic ini, maka pada saat itulah covid 19 akan kian lama bertahan di wilayah Indonesia jika bumi terus tersakiti. Oleh karenanya sudah saatnya kita menunjukkan  sikap manusia hormat terhadap alam semesta, sama seperti manusia sebagai subjek yang harus dihormati, dilindungi dan dipenuhi hak-haknya.

Sudah menjadi perbincangan internasional bahwa permasalahan lingkungan menjadi permasalahan global, bukan hanya issu regional dan nasional dalam menghadapi krisis ekologi, kerusakan lingkungan dan maraknya pencemaran industri, termasuk akibat eksploitasi terhadap sumber daya alam secara berlebihan tanpa adanya pemulihan kembali. Saat ini bumi sedang dalam masa proses pemulihan ditengah “pandemic covid-19” dari kerusakan dan pencemaran lingkungan akibat beragamnya permasalahan lingkungan dari polusi asap, limbah industri, hingga kegiatan eksploitasi terhadap sumber daya alam.

Tanggal 22 April lalau,  sebagai hari bumi internasional seakan lepas dari perhatian negara dan masyarakat, untuk melakukan refleksi, penyadaran kembali akan pentingnya kehidupan planet bumi yang masih “dianggap nyaman” untuk bertempat tinggal, dan gerakan  pelestarian lingkungan dengan berbagai cara dapat dilakukan demi penyelamatan terhadap bumi.

Save our earth yang menjadi slogan untuk kampanye atas perlindungan bumi kita, kemudian diikuti dengan langkah yang konkret untuk melakukan gerakan nyata terhadap pelestarian lingkungan dan menghentikan aktivitas yang berdampak pada kerusakan dan pencemaran lingkungan dalam skala besar dan sulit untuk mengatasinya. Langkah manusia yang protektif terhadap alam, bumi dan lingkungan sekitar sejak dari kehidupan di rumah hingga aktivitas sosial ekonomi berskala besar sebagai antisipatif menjadi perhatian utama, sementara manusia baru menyadari setelah ada kejadian yang menunjukkan tidak ramah terhadap alam, bumi dan lingkungan, sehingga melakukan tindakan-tindakan di kemudian hari.

Gelombang permasalahan lingkungan kontemporer di Indonesia sebenarnya sudah muncul beberapa tahun terakhir ini akibat ketimpangan kebijakan yang tidak pro terhadap lingkungan, atau minimal instrumen perizinan lingkungan sebagai fungsi pengendalian dapat berjalan dengan baik. Sejak awal memasuki 2020 dengan banjir akibat ketidak seimbangan alam, proyek infrastruktur, alihfungsi lahan dan pelanggaran terhadap tata ruang, hingga saat ini hampir semua negara di dunia diguncang dengan pandemic covid-19.

Beragam dampak yang ditimbulkan dari pandemic covid-19 dari ekonomi, sosial budaya, hukum, kesehatan, dan lingkungan hidup. Dalam perspektif lingkungan hidup, menjadi bahan refleksi bahwa selama ini menunjukkan perilaku manusia dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi yang tidak seimbang dengan alam, dan Tuhan  menyediakan segala bentuk sumber kehidupan untuk keberlangsungan seluruh ekosistemnya.

Sudah saatnya kita melakukan re-interpretasi terhadap konstitusi ekonomi yang semakin bergeser dan menyimpang dari prinsip-prinsip efisiensi berkeadilan, berkelanjutan dan wawasan lingkungan. Kegagalan negara berkembang dalam pembangunan lebih didominasi oleh penggunaan paradigma antroposentris, sehingga bumi menjadi objek yang harus dikuasai dan ditaklukkan oleh manusia yang sudah berwujud menjadi “penguasa”.

Oleh karenanya,  re-interpretasi makna itu sudah seharusnya dilakukan dengan berparadigma holistik, karena akan diikuti oleh kebijakan maupun regulasi turunannya hingga pelaksana pemerintah daerah dalam kewenangannya untuk mengelola sumber daya alam.

Negara menggunakan dasar hak menguasai negara pada akhirnya tergeser dengan pertimbangan  ekonomi dan investasi. Pada akhirnya memaksakan negara untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi terhadap apapun yang tersedia di alam, penggunaan lahan untuk kegiatan ekonomi dan investasi dilakukan secara berlebihan.

Dampak Kerusakan

Dampak kerusakan lingkungan di berbagai sektor kegiatan usaha dan alihfungsi lahan, sedangkan bumi dicemari dengan polusi asap kendaraan bermotor, pembukaan lahan dan usaha dengan cara pembakaran hutan, ditambah lagi dengan limbah-limbah padat, cair maupun udara.

Manusia hendaknya memperbaiki kembali hubungannnya dengan Tuhan Sang Pencipta alam semesta dan dengan alam sendiri, melakukan refleksi terhadap perilaku yang selama ini tidak etis terhadap lingkungan, maka kemudian melahirkan apa yang namanya “etika lingkungan”, dan lingkungan menjadi subjek yang sama seperti manusia, memiliki “hak” untuk tidak dirusak, dieksploitasi berlebihan, dan tidak dicemari dalam bentuk apapun hanya untuk memenuhi hasrat manusia.

Saat ini ekonomi kian  sulit,  maka mengingatkan negara untuk tidak “ego” melaksanakan aktivitas pembangunan yang justru tidak berkelanjutan, proyek-proyek infrastruktur, dan mengalokasikan semua anggarannya untuk jaminan kebutuhan hidup dan ekonomi warga negaranya. Manusia pada umumnya dalam penggunaan bahan bakar dan energi yang tersedia di alam secara berlebihan sehingga berdampak tercemar dan rusaknya bumi, sementara sumber bahan bakar dan energi tersebut tidak dapat diperbaharui. Sikap penguasa yang tidak mempertimbangkan prinsip wawasan lingkungan dan berkelanjutan kemudian akan melahirkan krisis energi, pangan, air, udara bersih, dan deforestasi.

Pembangunan ekonomi melalui investasi dengan memanfaatkan sumber daya alam akan berdampak pada kerusakan lingkungan secara terus-menerus apabila tidak memiliki ketaatan terhadap berbagai instrumen perizinan lingkungan hidup, sementara fungsi pengawasan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Cara pandang negara yang reduksionis terhadap sumber daya alam dan sebagai objek yang harus dikuasai dan dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis, disini negara berada dalam posisi pengejaran terhadap angka pertumbuhan ekonomi menjadi sekala prioritas, namun mengabaikan  lingkungan, dan disitulah terjadi sebuah antinomi antara ekonomi dengan lingkungan.

Witter dan Bitmer memetakan tiga aliran besar, pertama (conservasionis) bergumentasi bahwa diperlukan kawasan yang dilindungi secara hukum dan tidak diganggu oleh kegiatan manusia guna mewujudkan keseimbangan ekologi. Pada dasarnya pemikiran ini mengangap  penduduk setempat merupakan ancaman bagi upaya konservasi sumberdaya alam,  kedua, (eco-populis) menyatakan bahwa masyarakat adat dan lokal  penanggung resiko terbesar yang perlu dilindungi. Mereka juga mempunyai kemampuan untuk melakukan konservasi sumberdaya alam lebih baik daripada pemerintah, dan  ketiga (developmentalis) mempunyai anggapan  kerusakan sumberdaya alam ditimbulkan oleh kemiskinan, sehingga penanganan dan kebijakannya lebih berwatak ‘pembangunanisme’. Aliran ini beranggapan  kaum eko-populis terlalu romantis dan memperalat masyarakat lokal, sedang kaum konservasionis dianggap tidak memperhatikan persoalan kemiskinan masyarakat di sekitar hutan konservasi.

Witter dan Bitmer  mencermati perkembangan saat ini negara cenderung pada aliran developmentalis. Pembangunan ekonomi nasional yang bertumpu pada pengelolaan sumber daya alam, telah mengakibatkan dampak kerusakan dan atau pencemaran lingkungan di bumi, hingga diterpa pandemic covid-19 secara global. Semakin tumbuh pesatnya investasi di sektor kehutanan, pertambangan mineral dan batubara, sawit, proyek infrastruktur, belum lagi dalam konteks politik legislasi nasional dilanjutkannya pembahasan rancangan undang-undang omnibus law, pemindahan ibukota negara baru, agenda lain kontraproduktif dan yang tidak etis untuk dilanjutkan. Bumi yang sedang berada dalam masa pemulihan dari kerusakan lingkungan dengan berbagai bentuknya maupun pencemaran akibat polusi asap kendaraan bermotor dan kegiatan usaha berskala besar untuk sementara dapat berhenti.

Sebagai bangsa Indonesia perlu menggali kembali filosofi budaya lokal sebagai bagian dari nilai luhur kemanusiaan yang terhubung dengan Tuhan dan alam semesta. Hukum adat merupakan manifestasi yang mencerminkan akan nilai dan filosofi budaya lokal merupakan kumpulan norma yang merefleksikan nilai-nilai budaya bangsa.

Salah satu filosofi dan nilai tersebut ada pada masyarakat hukum adat atau masyarakat lokal dalam bentuk participerend cosmish, bagian dari kearifan lokal mengajarkan manusia harus selalu menghormati dan bersahabat dengan alam semesta, apabila manusia menghormati dan bersahabat dengan alam, maka alam akan bersahabat dan memberikan apa yang dibutuhkan oleh umat manusia di bumi, sebaliknya, apabila tidak menghormati dan merusak alam, maka ada yang perlu diperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan dan alam semesta, sehingga mengandung unsur religius magis.

Manusia yang hidup di bumi beserta ekosistem pendukung lainnya dalam masa pandemic covid-19 akan lebih menyadari akan pentingnya peremajaan bumi dan bumi terinstall seperti layaknya komputer, jika manusia butuh kesegaran dan kesehatan, maka bumi pun juga butuh kesegaran dan kesehatan. Berbagai cara dilakukan guna penyelamatan bumi dari kerusakan dan pencemaran lingkungan, termasuk keberlangsungan kehidupan dan generasi manusia di masa yang akan datang, sehingga keadilan antar generasi dapat diwujudkan. Berbagai disiplin ilmu mempertautkan persoalan covid-19 secara holistik dari bidang ilmu eksakta hingga bidang ilmu humaniora, sehingga manusia memandangnya secara holistik terhadap kondisi planet bumi.

Semoga  umat  sedunia yang tinggal di planet bumi dapat melewati masa-masa sulit atas pandemic ini, dengan segala cara dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar manusia, dan lebih sadar demi terwujudnya keadilan lintas generasi di masa yang akan datang.

***dew.

 

 

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami