Liputan

Penerbitan Obligasi Sentuh Rekor

BTN iklan

JAKARTA/lei — Jumlah badan usaha milik negara (BUMN) di bawah koordinasi Kementerian BUMN yang telah menerbitkan obligasi sebanyak enam perusahaan yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., PT Waskita Karya (Persero) Tbk., PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), dan PT Angkasa Pura II (Persero).

Nilai obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan pelat merah mencapai Rp22,9 triliun hingga September 2016. Angka itu menyentuh rekor baru mengingat hingga akhir 2015 nilai penerbitan sebesar Rp19,5 triliun.

BRI menjadi BUMN yang menerbitkan obligasi dengan nilai paling besar senilai total Rp9 triliun dengan dua kali penerbitan masing-masing sebesar Rp4,65 triliun dengan masa penawaran pada kuartal I dan Rp4,35 triliun ditawarkan kuartal II.

Dua bank milik negara lainnya, Bank Mandiri dan BTN, juga menerbitkan obligasi dengan nilai lebih besar dibandingkan dengan BUMN dari sektor di luar keuangan masing-masing senilai Rp5 triliun dan Rp3 triliun.

Dengan kata lain, jumlah obligasi yang diterbitkan oleh tiga bank BUMN itu mencapai Rp17 triliun atau mendominasi penerbitan obligasi BUMN sepanjang Januari—September 2016. BUMN sektor lain, seperti Waskita Karya, Pelindo I dan AP II, menerbitkan obligasi senilai total Rp5,9 triliun.

Sama seperti BRI, Waskita Karya juga menerbitkan obligasi dalam dua tahap sepanjang tahun ini masing-masing senilai Rp2 triliun (ditawarkan kuartal II) dan Rp900 miliar (masa penawaran awal pada 22-23 September 2016). AP II dan Pelindo I baru pertama kali menerbitkan obligasi pada 2016.

Akuntino Mandhany, analis PT BNI Asset Management, mengatakan perbankan menerbitkan obligasi dengan nilai cukup besar karena ingin mendapatkan sumber pendanaan alternatif. “Untuk mendapatkan dana pihak ketiga cukup susah sekarang,” katanya ketika dihubungi, Rabu (14/9).

Selain itu, BUMN banyak menerbitkan obligasi pada saat ini karena situasinya dianggap lebih tepat. Kupon obligasi cenderung lebih rendah pada saat ini. Dengan demikian, ujar Akuntino, perusahaan menanggung biaya yang lebih ringan dari penerbitan obligasi tersebut.

Akuntino mengatakan investor korporasi pada saat ini masih merasa nyaman dengan obligasi yang diterbitkan oleh BUMN, termasuk perusahaan yang bergerak di sektor terkait infrastruktur.

“Dengan adanya pipeline infrastruktur, biasanya ada back up dari pemerintah,” katanya.

Dihubungi terpisah, Head of Fixed Income PT Manulife Asset Manajemen Ezra Nazula mengatakan permintaan investor terhadap obligasi korporasi, termasuk obligasi BUMN, cenderung meningkat pada saat adanya tren penurunan suku bunga deposito pada saat ini.

Menurutnya, dengan adanya penurunan suku bunga deposito maka investor akan mencari aset investasi lain. “Investor mencari aset investasi lain, salah satunya obligasi BUMN,” katanya ketika dihubungi.

Ezra mengatakan sejauh ini memang ada persepsi investor yang menganggap potensi gagal bayar obligasi BUMN relatif kecil. Namun, ujarnya, penilaian investor tidak hanya berdasarkan hal tersebut akan tetapi juga peringkat BUMN tersebut dan dukungan pemerintah.

Selain itu, Ezra mengatakan rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berencana mengeluarkan peraturan investasi obligasi BUMN sebagai pengganti dari kewajiban investasi dari Surat Berharga Negara (SBN) juga menjadi salah satu pendorong adanya peningkatan penerbitan obligasi oleh BUMN.

Seperti diketahui, regulator tengah menyiapkan perubahan Peraturan OJK No.1/2016 tentang Investasi SBN Bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank. Dalam POJK No.1/2016, lembaga jasa keuangan seperti perusahaan asuransi jiwa, perusahaan asuransi umum, dana pensiun, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan wajib menempatkan investasi pada SBN.

Dalam draf perubahan peraturan itu, OJK berencana menyisipkan pasal yang mengatur perusahaan dapat memenuhi ketentuan batas minimum penempatan investasi SBN itu dengan melakukan penempatan investasi di obligasi atau sukuk yang diterbitkan oleh BUMN atau BUMD yang penggunaannya untuk pembiayaan infrastruktur.(bisnis.com)

Perlihatkan Lebih

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami