KesehatanLifestyle

Pengobatan Minimal Invasif Untuk Pembesaran Tiroid Jinak

BTN iklan

Tangerang (lei) – Kelenjar tiroid adalah kelenjar kecil di bagian leher yang berguna pada hampir semua proses di dalam tubuh. Kelenjar tiroid di leher menghasilkan hormon yang bisa menjadi tidak seimbang dan dapat menimbulkan penyakit. Hormon ini bisa sangat aktif atau juga kurang aktif. Jika penyakit homron ini tidak diatasi dengan benar bisa membahayakan dan bsa menyebabkan pembengkakan kelenjar tiroid di leher.

Saat ini banyak penderita tiroid atau kanker tiroid yang memiliki angka harapan hidup yang tinggi dengan pengobatan yang tepat pada waktu yang tepat. Pembesaran kelenjar tiroid yang terletak di leher sering ditemukan dengan pemeriksaan Ultrasonografi (USG) berkisar antara 33%-68% pada orang dewasa, dan Penyakit tiroid ini lebih umum terjadi pada wanita dibandingkan pada pria. Penyakit tiroid juga dapat memengaruhi semua orang pada usia berapa pun.

Biasanya tanpa gejala dan tidak dirasakan oleh pasien. Sebagian besar bersifat jinak dan tidak membutuhkan pengobatan khusus. Jika sudah ada gejala penekanan, tanda-tanda keracunan tiroid seperti gemetar, berdebar-debar, keringat berlebihan, berat badan turun drastis, gelisah atau masalah kosmetik maka pasien biasanya baru meminta pertolongan dokter.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Sub Spesialis Endokrin dan Penyakit Metabolik Rumah Sakit Awal Bros Tangerang dr. Rochsismandoko, Sp.PD-KEMD, FACE mengatakan bahwa saat ini sudah dikembangkan tindakan minimal invasif tanpa operasi untuk menghilangkan pembesaran kelenjar tiroid jinak seperti Percutaneous Ethanol Injection Ablation (PEIA), Percutaneous Laser Ablation (PLA) dan Radio Frequency Ablation (RFA). PEIA digunakan untuk menghilangkan kista tiroid yang berisi cairan, sedangkan PLA dan RFA untuk pembesaran yang bersifat solid/padat. FRA pertama kali dilakukan di Korea sejak tahun 2006 dan diterima diseluruh dunia sejak tahun 2012. “Dengan metode RFA pembesaran tiroid dapat berkurang antara 47.7% sampai 96.9%,”ujar dokter Rochsismandoko.

Rumah Sakit Awal Bros Tangerang memiliki pusat layanan Diabetes dan Tiroid untuk menegakkan diagnosa dan terapi kasus diabetes dan tiroid secara komprehensif. Seiring dengan hadirnya inovasi di bidang teknologi medis, penanganan masalah kesehatan, seperti tiroid kini dapat ditangani dengan teknik minimal invasif. Tindakan modern ini dilakukan tanpa sayatan. Dengan tindakan ini, pasien dapat pulih lebih cepat sehingga menjadi pilihan alternatif tindakan yang lebih nyaman untuk pasien.

Persiapan untuk tindakan RFA pasien sebelumnya dilakukan pemeriksaan fisik, skrining USG leher, pengambilan contoh darah untuk menilai faktor pembekuan darah, gula darah, fungsi tiroid dan lainnya jika dibutuhkan. Untuk menentukan apakah pembesaran kelenjar tiroid bersifat jinak atau ganas dibutuhkan biopsi dengan jarum halus (FNAB/Fine Needle Aspiration Biopsy). Prosedur RFA tidak membutuhkan sayatan dan hanya menggunakan pembiusan lokal, sehingga pasien lebih nyaman, aman dan persiapan untuk tindakan juga jauh lebih sederhana. “Pada metode ini sebuah elektroda dimasukkan ke dalam leher dengan bimbingan USG sampai mencapai tumor di dalam kelenjar tiroid, kemudian dialirkan energi termal yang dibangkitkan melalui generator listrik frekuensi tinggi untuk merusak struktur tumor. Lama tindakan kurang lebih 1 jam dengan masa observasi setelah tindakan antara 10-12 jam. “Efek samping yang mungkin terjadi adalah rasa nyeri, panas atau bengkak dileher yang sebagian besar akan sembuh sendiri tanpa memerlukan obat,” jelas dokter Rochsismandoko.

Beberapa keuntungan Radio Frekuensi Ablasi antara lain:

  • Biaya lebih rendah dibandingkan operasi
  • Aman dan nyaman
  • Tanpa sayatan
  • Hanya anestesi lokal
  • Masa pemulihan lebih cepat
  • Komplikasi paska tindakan minimal

 

 

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close