Hukum

Peranan Masyarakat Adat dalam Menjaga Keseimbangan Alam Ditengah Pandemi Covid-19

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Ketika gencar-gencarnya pemerintah pusat dan daerah memutus mata rantai virus Covid-19, ternyata masyarakat adat mempunyai caranya sendiri. Bahkan, mereka melakukan di tengah permasalahan di wilayah hukum adatnya.

Para Pengajar Hukum Adat, memaparkan berbagai cara masyarakat adat memerangi virus Covid-19.

Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Adat Indonesia atau APHA Indonesia, Laksanto Utomo mencontohkan, masyarakat yang mendiami Pegunungan Kendeng sejak ratusan tahun lalu itu memegang prinsip dalam menjaga kelestarian alam.

Mereka menganggap bumi layaknya ibu yang harus dilindungi sebagai pemberi kehidupan. lbu Bumi yang harus dijaga agar tetap lestari.

Webinar bisa anda saksikan di sini:

Eksistensi Sedulur Sikep di tengah pandemi Corona, kata Laks ada istilah sethitik kang den tindakna atau Ibu Bumi nyata wiwit ngadili Ingkang wujud pagebluk Kanti aran corona, Gawe goreh sedayanya dadi bingung Wis akih ingkang pralaya. Larang pangan nguwatiri, (Sedikit yang dilakukan lbu Bumi, i telah memulai “MENGADIL” dengan adanya wabah Corona. Kejadian pandemi memang telah membuat bingung semua kalangan. Kesulitan mendapatkan bahan pangan mengancam).

Ewodene tetep ana. Sing paring lilah ngkrusak Ibu Bumi Nambang den prentah trus laju. Kroso yen banget nantang Apa iki melu sing katut dikukut. Amung ngenteni sangat, Corona bakal mungkasi, (Namun demikian masih tetap ada yang memerintahkan melakukan kegiatan pengrusakan lbu Bumi (penambangan) dilanjutkan. Ini jelas menantang Ibu Bumi. Apakah yang seperti ini bagian yang akan “Dibersihkan” dengan corona? Kiranya hanya tinggal menunggu waktu, corona akan mengakhiri semuanya.)

“Kondisi darurat penanganan terhadap pandemi virus corona (Covid-19) memang hal yang urgent untuk di kedepankan. Namun, Kartini Kendeng melakukan aksi di jalan tambang Pabrik Semen di Rembang untuk menyampaikan beberapa hal penting mengenai perkembangan perjuanganya, yang ternyata memiliki irisan penting dengan kondisi hari ini terkait fenomena Covid-19,” kata Laks dalam diskusi melalui aplikasi zoom, soal Peran Masyarakat Adat di Tengah Pandemi Covid-19, Selasa (12/5/2020).

Laks menegaskan, mereka menuntut aktivitas penambangan dan pabrik semen Rembang dihentikan, dan melestarikan habitat asli jutaan kelelawar yang memiliki keterkaitan erat sebagai asal usul virus Corona yang tengah mewabah.

Sementara itu, Wayan P. Windia Guru Besar Hukum Adat Fakultas Hukum Unud, memaparkan Peranan Desa Adat di Bali dalam Mencegah Penyebaran Covid 19. Ia mengakui tingkat kesembuhan di Bali, persentasenya tertinggi di lndonesia. Penanganan Covid-19 di Provinsi Bali

bahkan sampai dibawa ke rapat kabinet oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan disebutkan bahwa penanganan Covid-19 di Provinsi Bali terbaik di Indonesia.

Namun memang diakui ada hambatan dalam penyembuhan Covid-19, langkah yang ditempuh oleh Pemerintah Provinsi Bali. Dimana ada krama desa adat yang bengkung dan protektit berlebihan, orang terpapar Covid-19 kurang disiplin dan tidak jujur, dilema penjelasan domisili orang positif Covid-19. LPD yang dimiliki oleh desa adat di Bali sukses dalam pendistribusian sembako dengan dukungan Satgas gotong royong di Desa Adat. Sementara BPDA belum berfungsi seperti yang diharapkan.

“Hambatan tersebut diatasi dengan melakukan sosialisasi dan pendekatan secara terus menerus kepada warga masyarakat yang bengkung (membundel); maboya (menyepelekan); dan sejenisnya oleh pihak berwenang termasuk Satgas Gotong Royong, di Desa Adat guna menumbuhkan kesadaran kolektif untuk bergerak bersama pada waktu bersamaan mencegah penyebaran Covid-19.

“Cara ini dapat dibilang relatif behasil. Terbukti pasien positif Covid- 19 di Provinsi Bali yang sudah berhasil disembuhkan persentasenya tertinggi di lndonesia dan sejak 2 Mei 2020 Sampai sekarang jumlah yang meninggalnya,” ungkap Wayan.

Lain halnya melihat penanganan Hukum Adat di Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Pengajar dari Fakultas Hukum Universitas Jember, Dominikus Rato menerangkan, dari hal penelitian di lapangan.

Dimana masyarakat adat menggunakan upacara adat pengusir roh jahat dalam hal ini Corona. Hal itu berupa Daun lontar digantung pada ranting bambu (teong koli wojong) dan diletakkan di pintu masuk desa untuk menghalau roh jahat pembawa virus

Setelah meletakkan sesajen (Piong) di masing-masing Lepo mereka menguburkan dagu anjing simbol bahwa roh jahat pembawa Corona akan diusir oleh anjing

“Ranting dan daun lontar serta dagu anjing dikubur menghadap Wu Han (Cina) Corona dikembalikan ke China,” jelas Rato.

” Masyarakat hukum adat di NTT mempunyai pola pikir dan logika sendiri. Memandang bahwa dirinya tunggal dan manunggal dengan alam,” tambahnya.

Sehingga, ketika alam diserang oleh Covid-19, juga bermakna merusak hubungan manusia dengan alam.

” Dengan demikian, alami juga harus dibela dengan caranya sendiri,” tutupnya. [Bernas.id]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami