Nasional

Perbedaan TNI di Masa Lalu dan Massa Kini

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Tepatnya tanggal 5 Oktober TNI memperingati hari kelahirannya, ini merupakan Pelestarian Tradisi, Nilai Juang dan Memupuk Kebanggaan serta Jiwa Korsa TNI. Sejak pertama dibentuk hingga saat ini banyak perubahan signifikan yang terjadi ditubuh TNI.

Inilah perubahan di beberapa sisi TNI:

1. Mengemudikan Pesawat

Dulu

Di masa perjuangan, sangatlah mudah bagi seseorang untuk menjadi pilot angkatan udara. Cukup berani naik pesawat, maka ia sudah resmi jadi pilot di AU. Terlepas apakah ia punya kemampuan untuk itu, hanya melakukan hal kecil langsung bisa masuk angkatan.

Alasan kenapa hal ini bisa terjadi adalah karena tidak cukupnya waktu untuk melakukan rekrutmen panjang. Indonesia butuh seseorang yang bisa cepat diajak berjuang. Tak punya kapabilitas tapi berani mencoba, sangat jelas kalau orang-orang dulu rela berjuang dengan risiko yang sangat besar.

Sekarang

Untuk menjadi pilot pesawat tempur di Indonesia bisa dari lulusan Akademi AU, atau ikatan dinas pendek. Ikatan dinas pendek ini memiliki masa dinas terbatas di TNI AU. Setelah itu, mereka harus lulus seleksi. Lalu mereka menjalani pendidikan penerbang mulai dari latihan dasar dan lanjut, kemudian akan dinilai apakah memenuhi syarat atau tidak.

Sementara itu, sesuai prosedur, mereka yang mengambil ikatan dinas pendek hanya dapat berdinas di lingkungan TNI AU selama 10 tahun. Sedangkan penerbang yang berasal dari Akademi AU bisa terus menjadi pilot pesawat tempur hingga usia 58 tahun. Ada 13 syarat mutlak yang har8us dipenuhi untuk bisa menjadi penerbang TNI AU lewat Akademi Angkatan Udara.

2. Naik Pangkat

Dulu

Bagi tentara sekarang, naik pangkat adalah hal yang cukup susah. Selain butuh waktu yang cukup lama, ia juga harus memiliki kemampuan lebih. Hal yang seperti ini tidak kita temui di masa lalu. Seseorang bisa naik pangkat hanya dalam waktu beberapa jam saja.

Syaratnya sendiri juga cukup mudah, yakni punya pengaruh dengan memiliki beberapa orang pengikut. Bung Karno sendiri pernah mengangkat seorang Letnan menjadi Mayor hanya dalam beberapa jam. Kita harus maklum karena negara memang sedang butuh perjuangan besar.

Sekarang

Salah satu jenis kenaikan pangkat di dalam tubuh TNI adalah Kenaikan pangkat TNI reguler. Kenaikan pangkat ini merupakan apresiasi dari pemerintahan kepada anggota TNI. Kenaikan pangkat ini diberikan pada anggoa TNI yang sudah mencapai waktu pengabdian tertentu dan juga telah memenuhi persyaratan untuk mengalami kenaikan jabatan. Kenaikan pangkat reguler ini diberikan pada anggota TNI setiap 4 tahun sekali.

Susunan dari pangkat anggota TNI dimulai dari Letda, seorang berpangkat Letda akan menndapatkan kenaikan jabatan menjadi Lettu setelah masa jabatan 3 tahun. Seorang anggota yang memiliki pangkat Lettu akan naik menjadi Kapten setelah mengalami masa jabatan selama 6 tahun.

Kapten menjadi Mayor membutuhkan waktu 11 tahun, kemudian Mayor di angkat sebagai Letkol ketika masa jabatan sudah mencapai 15 tahun, Letkol menjadi Kolonel membutuhkan waktu 19 ahun dan Kolonel menjadi Pati Bintang 1 ketika sudah menjabat 23 tahun.

Sedangkan untuk kenaikan pangkat khusus diperoleh untuk tiga kriteria yakni kenaikan pangkat medan tempur, kenaikan pangkat luar biasa, dan kenaikan pangkat penghargaan.

3. Senjata

Dulu

Tak seperti sekarang, dulu alutsista tentara Indonesia itu miris. Kita hanya punya sedikit sekali persenjataan. Alhasil, agar tetap bisa berjuang, ketika itu tentara harus berbagi senjata. Satu senapan dipakai untuk lima orang.

Senapannya sendiri adalah hasil rampasan dari Jepang atau sisa Belanda dan jumlahnya sangat sedikit dan kondisinya tidak layak. Makanya sangat masuk akal kalau orang-orang dulu hanya berjuang dengan memakai bambu runcing atau golok-golok, karena memang hanya itu yang dimiliki.

Sekarang

Sat ini penggunaan senjata oleh prajurit TNI jarang digunakan sebagai alat bertempur. Akan tetapi lebih kepada sarana perlindungan demi terciptanya perdamaian. Saat ini umumnya prajurit TNI menggunakan senjata sebagai sarana latihan.

Keterampilan dan kemahiran menembak adalah salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh Prajurit. Senapan pistol jenis P1 untuk Perwira serta senjata api laras panjang model M-16 untuk prajurit Bintara dan Tamtama.

Meningkatkan kemampuan menembak senjata laras panjang dan pistol untuk tingkat perorangan sesuai TOP/DSPP yang berlaku adalah tujuan dari latihan menembak senjata ringan. Dalam latihan menembak ini anggota diharuskan dapat memahami tehnik dan taktik menembak serta karakteristik Senapan M-16 dan dasar menembak.

4. Seragam Prajurit

Dulu

Masa perjuangan dulu keadaan orang-orang Indonesia sangat miris. Jangankan hidup mewah, punya baju dan bisa makan saja sudah sangat beruntung. Kondisi ini merata, termasuk kepada tentara-tentara.

Dulu, para tentara kita jarang ada yang memakai baju perang. Seragam yang sering dipakai ya hanya baju yang menempel di badan saja. Jika ada yang memakai baju tentara maka dipastikan ia mengambilnya dari pasukan musuh. Uniknya, keadaan ini membuat seorang prajurit bisa berpenampilan 5. lebih oke dari komandannya, dan hal tersebut memang kerap terjadi.

Sekarang

Sebagai sebuah angkatan tentuanya TNI mempunyai sebuah seragam, seragam merupakan bagian penting dari suatu pekerjaan terutama pada Tentara, tidak Bisa dipungkiri lagi bahwa seragam militer membuat seseorang tentara/ prajurit terlihat gagh dan berkharisma.

Saat ini seragam yang digunakan seorang anggota TNI sangat variatif, dengan corak dan motif yang beragam. Pakaian Seragam yang di kenakan oleh TNI AD, AL, dan AU umumnya adalah seragam pakaian dinas harian (PDH), seragam pakaian dinas Lapangan (PDL), seragam pakaian dinas upacara (PDU).

5. Menjadi Perwira

Dulu

Tentu saja menjadi perwira itu sangat susah. Butuh pendidikan militer mumpuni, serta berprestasi. Setidaknya butuh waktu yang lama bagi seorang tentara menjadi perwira. Tapi, di masa lalu, hal ini tidak terjadi. Mau jadi perwira syaratnya sangat-sangat gampang.

Tak perlu pendidikan khusus, hanya cukup dengan merampas senjata musuh dan menunjukkannya. Bung Karno pernah bilang, “Seorang sukarelawan yang mendaftarkan diri dengan membawa 10 anak buah, diberi pangkat kopral. Bila memimpin 20 orang, ia jadi sersan. Tetapi bila membawa senapan dan granat selundupan, ia menjadi perwira.”

Sekarang

Untuk menjadi seorang calon perwira TNI, nilai akademik yang tinggi saja ternyata tidak cukup, namun harus memiliki kesehatan dan kekuatan fisik yang sesuai dengan standar yang ditetapkan TNI.

Persyaratan yang perlu di siapkan yakni, warga negara Indonesia pria dan wanita bukan prajurit TNI/Polri atau PNS atau memiliki KTP, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, setia kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, umur maksimal 30 tahun bagi yang berijazah S1, 32 tahun bagi S1 profesi, dan 26 tahun bagi yang berijazah D3.

Persyaratan IPK untuk jurusan atau program studi selain kedokteran akreditasi A, 2,80 bagi yang berijazah S-1 dan S-1/S-2 Profesi, dan 2,70 bagi yang berijazah D-3. Persyaratan IPK untuk jurusan atau program studi selain Kedokteran akreditasi B, 3,00 bagi yang berijazah S-1 dan S-1atau S-2 profesi dan 2,90 bagi yang berijazah D-3. Dan beberapa syarat administrasi lain yang harus dipenuhi.

Mungkin ada banyak sekali yang tidak tercantum disini, namun Indonesia berharap bahwa perubahan ini membawa dampak yang semakin baik bagi TNI. Selamat Hari Jadi ke-72, Tentara Nasional Indonesia ! [okezone]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami