HEADLINESHukumNasional

Peresmian Langgar Yu Patmi

Semangat perjuangan tanpa henti

BTN iklan

KENDENGLEI – Petani Kendeng yang tergabung dalam wadah JM-PPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng) mengadakan pengajian umum dalam rangka peresmian Langgar Yu Patmi yang dihadiri KH Yahya Cholil Staquf (KATIB AAM NU),KH Imam Azis (Ketua NU), Alissa Wahid (Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian) dan Soesilo Toer (Penulis Puisi Yu Patmi).

Bangunan Langgar Yu Patmi berdiri tepat bersebelahan dengan Monumen Yu Patmi yang berada di desa Larangan, Kec. Tambakromo-Pati, di atas tanah milik pribadi almarhum Yu Patmi yang telah diwaqahkan oleh keluarganya kepada JM-PPK.

Langgar Yu Patmi terdiri dari 2 lantai. Lantai bawah (tepatnya underground) akan digunakan untuk berbagai kegiatan konsolidasi dan budaya sedulur tani Kendeng dalam perjuangan penolakkan tambang batu kapur dan pabrik semen yang mengancam kelestarian Peg. Kendeng.

Seperti diketahui bersama bahwa Desa Larangan masuk dalam rencana pendirian pabrik semen oleh PT. SMS (anak perusahaan PT. Indocement).

Sedangkan Lantai di atasnya digunakan sebagai tempat suci dimana kita sebagai manusia wajib mengucap syukur dan memohon ampunan serta berkah kepada Sang Khalik Pencipta kehidupan ini.

Langgar Yu Patmi ini dibangun secara istimewa dan lengkap memenuhi unsur dunia dan akhirat.

Istimewa tidak hanya karena lokasinya yang berdiri tepat di atas rencana tapak pabrik semen, istimewa tidak hanya karena sejarah berdirinya langgar tersebut setelah melalui rangkaian panjang perjuangan dulur-dulur tani Kendeng terutama Alm. Yu Patmi yang berjuang hingga titik darah penghabisan, isrimewa tidak hanya karena berbekal kemandirian JM-PPK dalam menghimpun sumber dana serta tenaga dalam mewujudkan berdirinya langgar tersebut, tetapi dilengkapi dengan filosofi yang menjiwai bentuk bangunan 2 lantai tersebut, yaitu “manusia wajib berusaha (mbudidaya) dan hasil usahanya dipasrahkan kepada Sang Pencipta Kehidupan, Allah SWT”, nafas perjuangan petani Kendeng yang telah lebih dari 10 tahun berjuang mewujudkan kelestarian Peg. Kendeng yang selalu berlandaskan “BERJUANG DI JALAN TUHAN”.

Sejenak kita mengenang perjalanan panjang perjuangan Alm. Yu Patmi bersama dulur-dulur tani Kendeng.

Perjuangan dimulai saat warga Pati, khususnya Kec. Tambakromo dan Kec. Kayen pada tahun 2010 mendengar rencana akan berdiri pabrik semen di wilayah mereka oleh PT. SMS (anak usaha PT. Indocement), setelah sebelumnya saudara-saudara mereka yang ada di Kecamatan Sukolilo berhasil membatalkan berdirinya pabrik semen oleh PT. Semen Gresik (sekarang PT. Semen Indonesia) pada tahun 2009 yang juga melalui perjuangan panjang dan berat sejak 2006.

Bersamaan dengan perjuangan dulur-dulur tani Tambakromo dan Kayen, saudara-saudara mereka yang ada di Kec. Gunem (desa Timbrangan dan desa Tegaldowo)– Rembang juga sedang berjuang menolak berdirinya pabrik semen oleh PT. Semen Indonesia. Untuk diketahui bahwa Pegunungan Kendeng terbentang memanjang mulai dari wilayah Prov. Jatim (Lamongan, Bojonegoro, Tuban) hingga wilayah Prov. Jateng (Rembang, Grobogan, Blora, Pati). Pegunungan purba yang belum bisa bernafas lega akibat incaran para korporat pabrik semen yang hendak menguras habis kekayaan yang ada di dalamnya. Pegunungan yang menjadi pepunden masyarakat Kendeng, dimana mereka hidup dan dihidupi sejak jaman nenek moyang mereka. Pegunungan yang sarat akan kekayaan budaya kuno cikal bakal kehidupan.

Pegunungan yang menyimpan ribuan mata air dan sungai bawah tanah sebagai “kedung” alami buatan Sang Khalik sebagai bahan utama terpeliharanya kehidupan, tidak hanya bagi pertanian masyarakat Kendeng tetapi juga bagi kita semua dan bagi anak cucu kelak. Dengan alasan “pembangunan” hendak begitu saja akan dieksploitasi “hanya” berbekalkan aturan yang sesungguhnya sudah dikondisikan, tanpa memperdulikan daya dukung dan daya tampung wilayah Peg. Kendeng. Ibarat masyarakat Kendeng itu tuan rumah, telah “dijajah/diperkosa” oleh para tamunya.

Pembangunan yang seperti apa jika hasilnya justru meminggirkan dan mencerabut kehidupan.

Pembangunan untuk siapa? Tanda tanya besar ini harusnya dimiliki oleh semua elemen masyarakat sehingga tergerak hatinya untuk bersama-sama berjuang menyelamatkan kehidupan.

Hal inilah yang mendasari perjuangan Yu Patmi dan sedulur tani Kendeng yang lain untuk sekuat tenaga menjaga kelestarian Peg. Kendeng. Berbagai cara telah dilakukan, mulai dari audiensi dengan wakil rakyat (DPRD maupun DPR), audiensi dengan pemangku pemerintahan (Kabupaten, Propinsi maupun Pusat), melalui gugatan di jalur hukum, semuanya dilakukan dengan cara-cara yang bermartabat.

Berbagai aksi heroikpun kami lakukan guna mengetuk nurani berbagai pihak baik pemerintah maupun masyarakat luas, bahwa perjuangan ini bukan semata-mata untuk kepentingan pertanian kami, tetapi lebih dari itu Peg. Kendeng adalah sabuk P. Jawa.

Jika pegunungan ini hancur, maka tidak hanya petani saja yang dirampas kehidupannya tetapi pohon- pohon, hewan-hewan semua makhluk hidup yang menghuni di pegunungan Kendeng akan mati dan pasti tak terelakkan yang datang hanya bencana.

Nasib anak cucu di ujung tanduk. Beberapa kali aksi jalan kaki (longmarch) ratusan kilometer untuk meminta gubernur Jateng mematuhi putusan MA, sanggup kami lakukan walaupun dengan cucuran air mata dan keringat serta hancur di kaki.

Tak ada kata menyerah bagi penegakkan keadilan dan kebenaran. Bahkan membelenggu kaki kami dengan cor semen sebagai simbol terbelenggunya petani Kendeng oleh industri pabrik semen demi meminta Presiden untuk memperhatikan dan segera mengimplementasikan hasil KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis) dan menyatakan kawasan Peg. Kendeng sebagai kawasan lindung geologis.

Segala resiko kami tempuh bahkan hingga kehilangan nyawa. Pamit kami kepada keluarga adalah “berjuang demi ibu bumi, demi anak cucu, ikhlaskan jika kami tidak kembali”.

Kalimat itulah juga yang terucap oleh Yu Patmi sebelum beliau berangkat ke Jakarta untuk menyusul saudara-saudaranya yang telah lebih duluan melakukan aksi membelenggu kaki dengan semen.

Yu Patmi berpulang ke Rahmatullah pada Selasa dini hari, 21 Maret 2017 setelah belenggu semen dilepas beberapa jam sebelumnya. Hasil pertemuan perwakilan petani yang dibelenggu semen (4 orang, dari Pati dan Rembang) dengan pihak KSP pada aksi cor kaki hari kedelapan, Senin 20 Maret 2017, sungguh membuat para peserta aksi sedih dan terpukul.

Titik terang akan pelaksaan hasil KLHS tahap 1 (wilayah CAT Watuputih Rembang) belum mendapatkan respon memadahi dari pemerintah pusat maupun daerah. Mengingat perjuangan ini harus terus berlangsung hingga tuntutan kami direspon, maka kami memutuskan untuk membongkar belenggu semen dan menyisakan 9 petani yang tetap dibelenggu semen. Tetapi mayoritas peserta aksi tetap ingin meneruskan perjuangannya di Jakarta dengan membelenggu kakinya dengan semen.

Yu Patmi termasuk dalam kelompok yang dibongkar, karena hendak menengok keluarga dan ladangnya terlebih dahulu, untuk kemudian menyusul lagi ke Jakarta menggantikan 9 Kartini yang tetap disemen. Tekad dan kegigihan Yu Patmi menjadikan kobaran semangat bagi sedulur yang lainnya.

Tetapi Sang Khalik punya rencana lain. Menjadi martir bagi penyelamatan Kendeng memantik “kesadaran” banyak jiwa (baik nasional maupun internasional) untuk menoleh pada perjuangan dulur-dulur tani Kendeng. Berbagai aksi solidaritas membelenggu kaki dengan semen dilakukan di banyak daerah dan negara termasuk Jerman dimana pemilik saham terbesar PT. Indocement berada.

Dalam peresmian langgar Yu Patmi, Soesilo Toer juga menyampaikan “Kita sebagai manusia harus melestarikan lingkungan, jangan sampai lingkungan hancur. Kalau Pegunungan Kendeng dikepras pasti akan terjadi bencana baik dari laut maupun dari darat itu semua akan mengakibatkan jutaan orang menderita dari Grobogan sampai Lamongan. Kelestarian Kendeng adalah hasil dari kerja manusianya.”

KH Imam Azis menyampaikan ” Masyarakat Kendeng sudah sejahtera tanpa adanya kegiatan penambangan. Seharusnya pemerintah daerah maupun pusat harus menghentikan izin-izin pertambangan dan membuat kebijakan yang pro lingkungan supaya Kendeng tetap Lestari ”

Alissa Wahid ” Nasib kelestarian Kendeng yang tahu adalah warga Kendeng sendiri.Karena pemerintah dan perusahaan raksasa hanya melihat dari untung ruginya saja. Untuk itu kita harus menyuarakan tentang keadaan Kendeng yang sebenarnya kepada mereka, itulah yang diperjuangkan Yu Patmi. Perjuangan Yu Patmi mengingatkan saya dengan alm Gus Dur. Dalam hidup dan dalam perjuangan semuanya tidak mudah.

Karena kita bukan tokoh dalam dongeng,kita bukan tokoh mitos yag tidak takut. Kita tahu mengenal takut dan kita tahu rasanya takut. Walaupun ketakutan kita berusaha melompati pagar batas ketakutan,itulah martabat kita,harga diri kita ditetapkan “.

KH Yahya Cholil Staquf ” Perjuangan Yu Patmi dalam menjaga bumi agar tetap lestari tidak untuk memikirkan dirinya sendiri, tapi untuk kepentingan orang banyak.Yu Patmi walaupun sebagai rakyat kecil berani mengingatkan banyak orang yang lupa dan tidak mau menau dalam menjaga Bumi. Menjaga bumi adalah tanggung jawab kita bersama. Karena bumi sudah memberikan nikmatnya untuk kehidupan kita “.

Dengan diresmikannya Langgar Yu Patmi, mari kita memohon kepada Sang Khalik untuk segera dibukakan mata hati nurani pemerintah baik daerah maupun pusat, untuk kembali kepada kesejatian diri menjadi pejabat yang mengayomi rakyatnya. Pejabat yang menjadi ABDI RAKYAT bukan abdi korporasi. Semoga Langgar Yu Patmi menjadi salah satu sarana penerang bagi perjalanan kami saat ini maupun ke depan. Islam yang Rahmatan Lil Alamin terhadap persoalan lingkungan harus sama-sama diwujudkan dan perjuangkan.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami