HEADLINES

Peringati Hari Ibu Masyarakat Kendeng Webinar Tentang Empon-Empon dan Corona

BTN iklan

PATI, LEI –  Dalam rangka memperingati Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember, Kartini Kendeng memperingatinya dengan cara yang “berbeda”.

Pangkur :
Empon – empon kang sarana
Dadya tamba paringe Bu Pertiwi
Mring sabeh ingkang memangun
Berjuang mrih slametnya
Ibu bumi kang wis amaring cukup
Wareg waras seger sumyah
Mangga tetep ambelani

Makna tembang : ( Tanaman obat jadilah jamu pemberian Ibu Pertiwi. Bagi semua yang selalu mengobarkan perjuangan demi keselamatan Ibu Bumi. Kenyang dan selalu diberi sehat. Mari tetap membela Pertiwi )

Tidak hanya seremoni belaka, dimana “Ibu” hanya dimaknai sempit pada sosok wanita yang melahirkan kita. Tetapi lebih dari itu, IBU adalah IBU BUMI yang selalu memberi tanpa meminta kembali.

Memberikan hidup dan penghidupan kepada semua makhluk yang ada didalamnya. Keprihatinan yang kami rasakan ditengah situasi pandemi, perusakan lingkungan terhadap IBU BUMI justru terus berlanjut oleh tangan-tangan serakah yang tidak mengenal kata “CUKUP” terus saja menggunakan segala daya dan upaya untuk melegalkan perusakan atas ibu bumi. Menangis dan berdiam bukanlah jalan yang kami pilih.

Semangat terus dibangun untuk berupaya semaksimal mungkin demi menjaga ibu bumi. Karena kami sangat sadar, Ibulah orang yang paling menderita disaat anak-anak menjerit kelaparan akibat air bersih tidak mengalir lagi, disaat kekeringan melanda sawah dan ladang, disaat banjir menggenangi persawahan yang dalam hitungan minggu memberi harapan panen.

Tidak ada jalan lain selain terus berjuang menjaga ibu bumi agar sumber-sumber mata air tidak rusak, gunung-gunung tidak gundul dan sawah-sawah tetap ada. Seberat apapun tantangan yang dihadapi, negara sekalipun yang tidak berpihak pada kelestarian ibu bumi, akan kami “lawan” dengan terus menanam, terus menjaga lahan garapan kami agar tidak beralih fungsi, terus menjadi petani yang menyediakan sumber pangan bagi seluruh anak negeri ini. Itulah makna HARI IBU bagi kami.

Pada kesempatan Hari Ibu ini kami mengajak seluruh wanita Indonesia dengan cara masing-masing, untuk terus berperan aktif dalam menjaga ibu bumi. Mulai dari keluarga kecil kita, lalu saudara tetangga kita dan akhirnya masyarakat luas, untuk terus kita menjadi contoh dan menerangi bagi mereka dalam menjaga ibu bumi.

Kami sangat berharap bahwa pandemi menjadi titik balik bagi kita semua untuk mengalami pertobatan ekologis. Kita semua harus ikut andil (baik kecil maupun besar) terhadap terganggunya ekosistem. Manusia adalah makhluk yang PALING LEMAH, yang tidak akan bisa hidup bila keseimbangan ekosistem terganggu.

Bayangkanlah, virus corona adalah makhluk sangat kecil yang tidak kasat oleh mata tetapi bisa merontokkan seluruh sendi kehidupan manusia di bumi ini. Untuk itu berhentilah menjadi makhluk yang SERAKAH dan SOMBONG seolah makhluk lainnya di muka bumi tidak ada nilainya. Seenaknya sendiri menghabisi hutan yang penuh keanekaragaman hayati serta mengeruk lapisan-lapisan bumi demi keuntungan sesaat.

Disaat pandemi ini yang kita butuhkan, hanyalah PANGAN sebagai ketahanan hidup. Oleh karena itu, jangan hancurkan sumber-sumber pangan. Jika kita diam, berarti ikut dalam penghancuran tersebut. Semesta telah menyediakan segalanya untuk manusia bisa bertahan hidup.

Bahkan ribuan tanaman obat alami tersedia di alam ini. Sayangnya kita telah mengabaikannya. Hari ini kami kembali mengingatkan kehadiran mpon-mpon ditengah-tengah kita. Tanamlah di pekarangan kita masing-masing dan nikmatilah hasilnya. Tidak hanya sehat tubuh ini tetapi juga bahagia karena bisa membantu saudara-saudara kita yg membutuhkannya. Menanam berarti Melawan tirani perusakan ibu bumi. Menanam berarti menumbuhkan harapan.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami