Hukum

Perlukah Pabrik Semen Rembang Dilanjutkan?

BTN iklan

Jakarta/Lei – Diskusi Concern (Conflict and Peace Research Network) di Jakarta, Senin, merekomendasikan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan manajemen PT Semen Indonesia perlu meneruskan pengoperasian pabrik semen di Kabupaten Rembang, untuk kelanjutan pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat.

Keterangan tertulis Concern menyebutkan FGD (Focus Group Discussion) di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu menghadirkan pembicara tujuh warga Rembang dari kawasan pabrik Semen Rembang (wilayah terdampak ring I), akademisi, aktivis, birokrasi, perwakilan PT Semen Indonesia dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya.

Kalangan aktivis yang selama ini menolak keberadaan Semen Rembang seperti dari Walhi yang diundang Concern untuk urun rembug dalam diskusi itu tidak hadir.

Sejumlah warga Rembang yang mendukung keberadaan pabrik semen Rembang, seperti Sudarji dan Dwi Joko S (Desa Tegaldowo), Triningsih (Desa Timbangan), dan Ahmad Sholeh berharap pabrik semen Rembang benar-benar terwujud keberadaannya.

“Kami sudah bosan miskin,” kata Ahmad Soleh.

Ia mengatakan banyak warga yang mendapat pekerjaan dengan adanya pabrik semen itu.

Triningsih menggambarkan, dengan ditampungnya warga Ring I bekerja di pabrik Semen Rembang, keadaan ekonomi warga meningkat.

Mereka kini sudah banyak yang memiliki sepeda motor.

“Naik kelas, kalau belanja para ibu sekarang ke ‘minimarket’ bukan ke warung kampung,” katanya menggambarkan perubahan budaya belanja masyarakat Rembang.

Aktivis perempuan dan perlindungan anak, Roostieningsih Ilyas mengingatkan agar masyarakat Rembang tidak terlena pola hidup konsumtif.

Ia menyarankan warga di ring I mendirikan koperasi untuk merajut masa depan perekonomian warga.

“Jangan pula terlena dengan CSR yang diberikan oleh PT Semen Indonesia, harus bisa mandiri,” katanya.

Pelatihan dan sarana yang diberi PT Semen Indonesia hendaknya dimanfaatkan secara maksimal untuk menuju kemandirian.

Guru Besar riset LIPI yang juga pendiri Concern, Prof (Ris) Dr Hermawan Sulistyo, menantang kalangan yang menolak keberadaan pabrik semen Rembang untuk konsekuen.

“Kalau mereka menginginkan moratorium semen, hendaknya jangan menggunakan semen. Mereka tidak usah tinggal di rumah yang pakai semen, jangan berkantor di gedung yang dibangun dari semen,” katanya.

Hermawan Sulistyo yang juga Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional Universitas Bhayangkara Jaya, Jakarta, mengingatkan bahwa moratorium semen akan memiliki dampak serius terhadap perekonomian dan pembangunan nasional.

Jika pabrik semen tidak diperbolehkan maka tidak akan ada lagi pembangunan jalan atau gedung, bahkan tidak bisa memperbaiki rumah, katanya.

Kikiek, panggilan akrab Hermawan Sulistyo, mengingatkan, dalam melihat masalah pabrik semen di Rembang, harus dari kacamata multidimensi, bukan hanya dari aspek lingkungan.

“Masalah ini bukan berdimensi tunggal, semata-mata dari segi ekonomi, sosial, atau lingkungan, tetapi ini multidimensi,” katanya.

Kalau terjadi moratorium semen, menurut dia, berarti semua proyek pemerintah yang menggunakan semen harus berhenti.

Ia berharap kepada pihak yang menentang pembangunan pabrik semen di Rembang, tidak mengorbankan masa depan warga Rembang untuk mengkapitalisasi adanya pabrik semen ini demi meningkatkan kualitas SDM.

“Rembang memiliki peluang itu dengan adanya pabrik semen, kenapa dicegat. Mereka yang menolak kebanyakan orang luar, sanggup nggak mereka tinggal di daerah miskin sampai tua. Kalau nggak sanggup, jangan teriak-teriak menolak,” katanya.

Perlihatkan Lebih

One Comment

  1. Setuju, mereka yang menolak semen ga usah lagi tinggal dirumah, ngantor, juga menggunakan jalan yang dibangun menggunakan semen, mereka yg menolak pabrik semen munafik semuanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close