EkonomiFinansialLiputan

Permintaan Bibit Kelapa di Aceh Meningkat

BTN iklan

Lhoksukon, Aceh, 3/3 (Antara) – Permintaan bibit kelapa hibrida di kalangan petani di Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Timur, Provinsi Aceh, mengalami peningkatan hingga 25 persen dalam beberapa bulan terakhir, seiring kebutuhan peremajaan serta mengisi lahan kosong.

Pembudidaya bibit kelapa hibrida, M Ali di Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, Sabtu menyebutkan, bahwa permintaan kelapa hibrida alami peningkatan sepanjang tahun 2017 hingga awal 2018.

“Akhir-akhir ini permintaan bibit kelapa hibrida meningkat, misalnya saja pada akhir 2017 ada sekitar 700 bibit terjual, kemudian Januari 2018 sebanyak 800 bibit dan pada Februari 2018 ada 1.000 bibit lebih terjual,” sebut M Ali di sebuah warung kopi di Aceh Timur.

Dikatakan, selama ini bibit kelapa hibrida tersebut dijual untuk para petani di wilayah Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara. Dia mengaku sudah lebih dari setahun terakhir menggeluti bisnis bibit itu.

M Ali menambahkan, bibit kelapa hibrida yang dibudidayakan sendiri di rumahnya di Pante Merbo itu dijual kepada petani antara Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per bibit, tergantung umur dan kualitas bibit tersebut.

“Meningkatnya permintaan bibit kelapa hibrida ini karena petani sudah mengetahui, bahwa dalam umur yang singkat pascatanam kelapa jenis ini sudah bisa dipanen, yakni sekitar tahun,” sebutnya pula.

M Ali menambahkan, permintaan bibit darinya dilakukan bervariasi, mulai dari 10 bibit hingga 300 batang bibit.

Dia meyakini sebagian petani memesan dalam jumlah sedikit, hanya diisi di pekarangan rumah dan sebagian lainnya masih uji coba.

“Selain bibit kelapa hibrida, kita juga menyediakan berbagai bibit tanaman lain baik tanaman muda dan tanaman tua seperti durian dan lainnya. Bedanya, kalau kelapa hibrida hasil budidaya sendiri, sedangkan durian dan bibit lainnya kita pesan dari Medan (Sumatera Utara),” kata M. Ali.

Abdul Rafar, warga Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara dalam setahun terakhir pernah mencari bibit kelapa hibrida ini, namun saat itu sulit didapatkan maka pihaknya harus memesan ke Kalimantan Timur.

“Saat itu teman saya membutuhkan sekitar 1.000 bibit kelapa hibrida, karena bibitnya sulit kita dapatkan saat itu maka dipesan ke luar Aceh. Dia (temannya) sengaja menanam kelapa hibrida menggantikan dengan kelapa sawit,” sbeut Abdul Rafar.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami