Hukum

Permohonan BPFI Kandas

BTN iklan

Jakarta/Lei – Langkah PT Batavia Prosperindo Finance Tbk. untuk menagih utang PT Anugerah Abadi Cahaya Sejati melalui mekanisme kepailitan kandas di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Permohonan Batavia Prosperindo (BPFI) ditolak majelis hakim, karena posisi kreditur yang sedang dalam masa penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). PT Anugerah Abadi (termohon) tengah dalam status PKPU berdasarkan putusan No.44/Pdt.Sus-PKPU/2016/PN.Jkt.Pst tertanggal 20 April 2016.

“Mengadili, menolak permohonan pailit untuk seluruhnya,” ujar ketua majelis hakim Partahi Tulus Hutapea saat membacakan amar putusan, Kamis (9/2).

Dasar pertimbangan hakim sesuai dengan Pasal 242 ayat (1) UU No. 37/2004 tentang Kepailitan dan PKPU. Selama berlangsungnya PKPU, debitur tidak dapat dipaksa membayar utang dan semua tindakan eksekusi yang telah dimulai untuk memperoleh pelunasan utang, harus ditangguhkan.

“Berdasarkan prinsip kepailitan, permohonan ini tidak bisa dibenarkan karena ada pernyataan pailit kepada debitur yang sama, yang ada dalam masa PKPU,” tuturnya.

Menurut majelis, permohonan pailit ini dapat menyebabkan kekacauan pada restrukturisasi utang dan aset-aset debitur. Oleh karena itu, permohonan pailit dari pemohon harus ditolak.

Kuasa hukum termohon Edi Yani mengungkapkan kepuasannya terhadap putusan majelis hakim. Menurutnya, seluruh pertimbangan majelis telah sesuai dengan fakta hukum yang ada.

Bagi dia, termohon memang tidak pantas dipailitkan karena perusahaan masih beroperasi dengan baik dan mampu membayar utang-utangnya.

Dari awal dia juga menyangkal kliennya memiliki utang yang jatuh tempo dan dapat ditagih kepada pemohon sebesar Rp7 miliar. Pasalnya, termohon telah dinyatakan dalam keadaan PKPU.

Edi Yani mengklaim proses PKPU termohon pailit telah berlangsung dengan baik, dan terjadi perdamaian antara debitur dengan para kreditur. Perdamaian tersebut telah dihomologasi oleh majelis hakim pemutus.

Selain itu, sebutnya, utang kewajiban tertunggak atas pembayaran utang bunga  kepada pemohon hanya Rp293 juta. Jumlah itu dinilai kecil, yaitu hanya 1% dari aset  termohon. Oleh karena itu, menurutnya, permohonan  pailit memang harus ditolak.

Sementara itu, kuasa hukum PT Batavia Prosperindo Latu Suryono mengungkapkan kekecewaannya terhadap putusan majelis hakim. Dia kurang setuju dengan dalil-dalil yang menjadi pertimbangan majelis.

Menurutnya, perusahaan berkode emiten BPFI tidak terikat pada perjanjian PKPU PT Anugerah Abadi. Pasalnya, pemohon bukan merupakan kreditur dalam proses PKPU tersebut.

“Kami tidak masuk dalam kreditur PKPU karena sebelumnya termohon telah merestrukturisasi utangnya kepada kami secara bilateral,” tuturnya usai sidang.

Dia menilai termohon lalai dalam membayar kewajibannya, sehingga jalan keluar satu-satunya adalah mengajukan permohonan pailit.

Perlihatkan Lebih

6 Komentar

  1. You’re so cool! I do not believe I have read through anything like this before.
    So good to discover somebody with a few genuine thoughts on this subject matter.

    Seriously.. thank you for starting this up.
    This web site is something that’s needed on the web, someone with some originality!

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami