HEADLINESHukum

PERNYATAAN SIKAP IKATAN ALUMNI FH UNDIP ATAS TRAGEDI PENYIRAMAN AIR KERAS KEPADA NOVEL BASWEDAN

BTN iklan
Kresno Buntoro, S.H.,LL.M.,Ph.D

Jakarta, LEI – Tragedi penyiraman air keras kepada Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan merupakan tindakan keji, tidak berpri-kemanusiaan, dan tentunya melanggar hukum.

Penyidik KPK Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal seusai melaksanakan Shalat Subuh di sekitar kediamannya.

Motif apapun yang dilakukan oleh pelaku maka patut diduga bahwa apa yang dilakukan oleh pelaku terkait erat dengan kiprah Novel Baswedan sebagai penyidik KPK yang terkenal gigih dan pantang menyerah dalam mengungkap kasus-kasus tindak pidana korupsi di Indonesia.

Berkaitan dengan hal tersebut, Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (IKAFH UNDIP) melalui Ketuanya Kresno Buntoro, S.H.,LL.M.,Ph.D menyatakan:

  1. Mengutuk keras tindakan keji, tidak berpri-kemanusiaan, dan melanggar hukum para pelaku penyiraman air keras kepada Novel Baswedan;
  2. Meminta Kapolri memerintahkan seluruh jajaran di bawahnya untuk mengungkap kasus penyiraman air keras ini secara cepat, tepat, dan tuntas;
  3. Meminta agar KPK tetap fokus, lebih berani, dan konsisten dalam mengungkap kasuskasus korupsi yang saat ini sedang ditangani KPK;
  4. Meminta agar seluruh sumber daya manusia di KPK untuk tetap menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara optimal dan sebaik-baiknya, dengan tetap memperhatikan keamanan dan keselamatan jiwa diri dan keluarga;
  5. Mengajak seluruh komponen bangsa Indonesia untuk bersama-sama mengawal kasus kasus-kasus tindak pidana korupsi;
  6. Mengajak seluruh alumni Fakultas Hukum UNDIP dan seluruh rakyat Indonesia bersatu padu mencegah diri dan keluarga dari segala perilaku koruptif yang menghancurkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebelumnya Ketua Bidang Pengembangan dan Kerjasama APPTHI, Dr Ismail Rumadan, di Jakarta, Selasa (11/4), mengatakan, negara harus memberikan jaminan keamanan bagi Novel Baswedan selaku penyidik kasus korupsi e-KTP. Pasalnya, kasus ini melibatkan kekuatan politik maupun kekuatan modal.

Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan, aksi menyiram air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupasi (KPK) Novel Baswedan adalah bentuk teror untuk melemahkan dedikasi dan kinerja Novel dalam pemberantasan korupsi.

“Saya mengutuk kekerasan itu dan mendorong Polri untuk aktif dan segera menangkap pelaku teror tersebut, untuk menghindari asumsi-asumsi yang dapat membenturkan Polri dengan institusi KPK oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Hendardi di Jakarta, Selasa.

 

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

2 Comments

  1. KPK dalam mengungkap kasus tindak korupsi yang melibatkan pemilik modal besar dan pembesar partai politik memeng memiliki resiko yang besar, maka perlu ada kemananan yang memadai bagi para penyidik khususnya. komitmen dan ketegasan KPK dalam mengungkap kasus korupsi uang rakyat perlu kita dukung. kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan harus diusut tuntas samapi pada aktor intelektualnya.

  2. Tindakan keji yg mnimpa Novel Baswedan merpkan kelalaian negara untuk memberikan jaminan keamanan trhadap warganya. Apalagi NB mrupkan penyidik dr KPK yg trknal gigih dlam mmbrantas korupsi sebuah tanggungjawab yg besar tsbt harusnya d imbngi dg fasilitas tingkat satu krna tidaklah mudah membrantas korupsi di indonesia.
    Tindak penyerangan trhdap oknum KPK bukanlah prtma kali ini. Ini juga bukti bahwa pemerintah Jokowi juga Polri tidak serius dalam menjaga marwah KPK dan membrantas korupsi.
    Lihat saja pada sidang Ahok yg mrpkan trdkwa kasus pnistaan agma mulai prjalanan sidang dr rumahnya sdah dkwall oleh polisi padahal dia trdakwa lha ini penyidik KPK yg sdang mnjalankan tugas suci bahkan ke kntor pun smpat naik spda motor..
    Tolong Bapak Presiden dan Polri melihat kejadian ini jgn seblah mata. Hukum harus menjadi garda trdepan pmbangunan negri ini jgnlah pmilik modal dn pmgku kpentingan mnjdikan hukum mainan mreka.
    Salus populi suprema lex esto kesejhtraan rakyat adlah hukum tertinggi.

    Salam,
    Ismadani R
    Mhs Magister Hukum UPNVJ Smt 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close