LiputanTekno

Pertamina Komit bangun PTLP

BTN iklan

Jakarta/Lei-  PT Pertamina Geothermal Energy, anak usaha PT Pertamina (Persero) berkomitmen mencari peluang kerja sama untuk membangun dan mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Indonesia.

Geothermal atau panas bumi Indonesia memiliki potensi hingga sebesar 29.000 megawatt (MW) di seluruh pelosok nusantara tetapi yang terpasang baru sekitar 1.800 MW.

President Director PT Pertamina Geothermal Energy, Irfan Zainuddin melalui keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Kamis, menyatakan kapasitas terpasang perusahaan saat ini mencapai 587 MW dan diperkirakan akan mencapai 2.137 MW pada 2025 mendatang seiring terbangunnya pembangkit yang sedang dibangun dan pembangkit-pembangkit baru.

Namun diakuinya, ada beberapa tantangan pengembangan PLTP ke depan, seperti tingginya investasi upfront, sekitar 4-5 juta dolar AS per MW, biaya pokok produksi (BPP) daerah yang belum ekonomis dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 50/2017, tingginya risiko eksplorasi dan terbatasnya data geoscience dalam proses lelang wilayah kerja panas bumi, penolakan yang tinggi dari masyarakat setempat termasuk juga konflik selama proses akuisisi lahan, dan belum adanya regulasi yang mengatur penjualan energi panas bumi secara langsung (harus melalui offtaker).

Adapun power wheeling merupakan skema pemanfaatan bersama jaringan transmisi atau jaringan distribusi tenaga listrik. Terdapat dua skema untuk pemanfaatan bersama tersebut, pertama untuk penggunaan sendiri, misalnya terdapat industri yang memiliki pembangkit listrik, ingin menyuplai listrik untuk pabriknya di tempat yang berbeda, karena tidak memiliki jaringan transmisi dan distribusi, maka industri tersebut menggunakan jaringan transmisi dan distribusi milik PLN.

Skema kedua adalah bukan untuk pemakaian sendiri, misalnya pembangkit listrik swasta (IPP) yang ingin menjual listriknya kepada konsumen industri. Karena tidak memiliki jaringan transmisi dan distribusi, maka IPP tersebut menggunakan jaringan transmisi dan distribusi milik PLN. Tentunya perusahaan tadi maupun IPP yang memanfaatkan jaringan PLN, harus membayar sejumlah biaya tertentu.

President Director of General Electric Indonesia, Handry Satriago memaparkan pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi mencapai 6 persen dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, kebutuhan akan energi diperkirakan meningkat sekitar 6 persen.

Dibutuhkan investasi yang besar, sekitar 600 miliar dolar AS hingga 2040 mendatang, serta investasi kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengembangkan potensi EBT.

Senior Operating Officer Power Business Division Marubeni Corporation, Yoshiaki Yokota menyatakan kebutuhan akan Solar Photovoltaic atau pembangkit listrik berbasis panel surya (PLTS) di dunia akan meningkat secara drastic dalam 25 tahun ke depan.

 

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami