Hukum

Perwira TNI AU Disidang Adat Karena Pukul Warga

BTN iklan

PANGKALAN BUN, (LEI/Kompas) – Mayor Kal Fatkur Arifin, mengaku khilaf saat memukul Freddy Fiesta (53) dan anaknya Giancarlo Fiesta (18) warga Desa Pasir Panjang, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, yang berujung pada munculnya sidang adat Dayak terhadap dirinya.

Hal itu ia sampaikan dalam jumpa pers Komandan Pangkalan TNI Angkata Udara (Danlanud) Iskandar Pangkalan Bun, Letkol Pnb Ade Fitra, yang baru menjabat pekan ini, menggantikan Letkol Pnb Ucok Enrico Hutadjulu, di rumah dinasnya, Minggu (11/6/2017) malam.

“Saya melakukan pemukulan, saya akui. Namanya khilaf, namanya salah. Dan waktu itu saya berusaha minta maaf,” tutur Kepala Dinas Logistik (Kadislog) Lanud Iskandar itu.

Ia mengaku terpancing emosinya karena merasa jalannya dipotong oleh Freddy saat mengemudikan mobil di Kawasan Bundaran Pancasila, Pangkalan Bun, Rabu (31/5/2017) lalu.

Saat itu, Fatkur mengaku terburu-buru setelah pulang berbuka puasa bersama.

“Pas di bundaran itu yang dipotong pertama kali itu saya. Kalau saya kencang, pasti nabrak. Akhirnya saya banting ke kiri. Setelah saya banting ke kiri, ini maksudnya apa orang ini kok memotong saya. Saya kejar,” ucap Fatkur yang mengatakan saat itu di dalam mobil bersama Mayor POM Pintoko Agung, Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Lanud Iskandar.

Ia mengakui memang sengaja menghalang-halangi upaya Freddy mendahului kendaraannya setelah merasa jalannya sempat dipotong itu. Itu terjadi sampai di kawasan Pasir Panjang, tak jauh dari rumah Freddy yang berjarak sekitar dua kilometer dari Bundaran Pancasila. Freddy berhenti untuk menurunkan salah seorang penumpangnya. Fatkur pun berhenti.

“Saya mau nanya maksud tujuan pemotongan itu apa? Kalau pada saat berhenti Pak Freddy minta maaf, ‘Pak saya buru-buru, mungkin selesai’. Karena Pak Freddy merasa benar mungkin, akhirnya terjadi adu mulut. Putranya itu berusaha merekam percakapan itu,” sebutnya.

Hal itulah menurut dia, yang membuatnya khilaf, hingga memukul Freddy dan anaknya, Giancarlo Fiesta, yang juga dikenal sebagai pembalap grasstrack.

Menuru Fatkur, setelah insiden itu, ia langsung meminta maaf. “Kita sudah salaman, pelukan. Pak Freddy sendiri menyampaikan, ‘Pak kita saling introspeksi’. Saya kira sudah selesai. Setelah dari sana, ternyata tidak selesai. Pak Freddy berusaha melaporkan saya ke kantor polisi. Karena saya ini anggota TNI, akhirnya dilimpahkan ke POM kami,” katanya.

Tidak pernah singgung SARA

Pada kesempatan itu , Fatkur juga menegaskan dirinya tidak pernah menyinggung masalah SARA.

“Saat malam itu ke situ. Karena saya marah ya, mungkin saya kelepasan. Tapi di sana banyak anggota juga. Cuma setahu saya, saya (mengatakan) tidak takut siapapun, selama itu benar. Tidak, tidak ada (menyinggung masalah SARA),” tegasnya.

Adapun Danlanud Iskandar Ade Fitra berharap kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Kalau pun ada tuntutan, pihaknya terikat pada peradilan militer, yang untuk tindakan dalam kategori indisipliner seperti ini pelakunya bisa terancam hukuman tanpa jabatan (nonjob).

“Karena tentara itu kalau dipindahkan tanpa jabatan itu sudah sakit,” kata mantan Danlanud Leowatimena, Morotai, Provinsi Maluku Utara itu.

“TNI itu ksatria harus mengakui kesalahannya. Kita selesaikan kekeluargaan, jangan sampai memberatkan dan merugikan kedua belah pihak,” lanjutnya.

Buntut dari kejadian itu, Fatkur dituntut oleh pihak keluarga Freddy ke persidangan adat.

Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Kotawaringin Barat, telah menggelar sidang perdana, Jumat (9/6/2017) lalu. Namun, saat itu Fatkur tidak hadir karena sedang berada di Makassar.

DAD Kotawaringin Barat akan menggelar sidang kedua pada Sabtu (17/6/2017) mendatang, dengan berusaha mendatangkan Fatkur kembali.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami