Liputan

Pesantren Waria Jangan Dimusuhi Mereka Adalah Kita

BTN iklan

Jakarta, 9/3 (Lei) – Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Yogyakarta, sebuah lembaga pendidikan Islam khusus untuk kelompok minoritas gender yaitu Waria, memeliki rentang usia panjang dengan berbagai cerita lika-liku perjuangan yang dilakukan oleh pengajar, pengurus dan santri pesantren waria dalam mengakomodir kebutuhannya.
Oleh karenanya, keberadaan pesantren ini mari bersama-sama kita tumbuh kembangkan agar para waria yang selama ini terpinggirkan dari komunitas lokal, jangan dijahui apa lagi dimusuhi karena mereka adalah bagian dari kita bersama yang perlu saling mengkasihi dan melindungi, kata ketua bidang program sosial, dari Club Kajian Islam Salam (CKIS) Dr. Latri Margono, usai seminar yang dilaksanakan via zoom, di Jakarta, Selasa.

Sebagai lembaga kelompok minoritas gender, kata Latri, lembaga ini memiliki cerita suka dan duka. Cerita suka karena lembaga ini hadir sebagai wadah spiritual setiap akhir pekan bagi waria untuk belajar Islam, beribadah dan mengaji tanpa intimidasi dan ancaman.

Tetapi cerita duka juga terjadi yaitu penggerebekan yang pernah dilakukan oleh sekelompok Islam yang mengatasnamakan diri sebagai pembela Tuhan dengan menggeruduk pesantren waria beberap atahun silam dengan alasan Islam tidak mengenal istilah waria.

“Ironisnya, penggerebakan tersebut seolah-olah mendapat pembiaran dari aparat Negara (polisi dan tentara) yang seharusnya melindungi warga negaranya. Namun saat ini alkhamdullilah semua pihak tampaknya sudah memahami bahwa keberadaan mereka tidak dapat dipaksa harus ini dan itu, karena gender itu tentunya bagian dari rahasia Tuhan,” katanya, seraya menambahkan, itulah pentingnya umat Islam juga perlu melindungi, seperti umat agama lain jangan justru memusuhinya.
CKIS yang bermakas di Sawangan Depok Jawa Barat, kata latri, selama ini aktif melakukan kajian Islam sebagai rahmat bagi semua umat. Manusia lahir untuk saling memanusiakan. Oleh karenanya, tema diskusi on line saat ini mengambil tema “Pesantren Waria Sebagai Institusi Spiritual.” Maksudnya, mereka para santri waria itu mempunyai tempat untuk menempa dirinya, untuk melihat dirinya lebih dalam secara terbuka tanpa ada tekanan dan ketakutan dari pihak mana-pun.

Semenara itu, Penanggung jawab program CKIS dr. Adinda Bunga Syafina, S.bed. menambahkan, kegiatan seperti ini di Indonesia relatif jarang karena ada kendala budaya lokal atau gangguan dari kelompok yang sering mengatas namakan membela keinginan Tuhan, meskipun apa yang dipersepsikan itu belum tentu benar.
Disebutkan, cerita suka duka tersebut telah didokumentasikan dengan baik dalam bentuk penelitian dan dibukukan oleh Masthuriyah Sa’dan, dan telah beberapa kali menjadi tema diskursus.

Tema yang diangkat dalam diskusi ini juga masih aktual untuk kembali diangkat dalam diskusi dengan perspektif kelembagaan pondok pesantren bukan hanya berfungsi sebagai institusi social namun sekaligus sebagai institusi spiritual. Kajian itu difokuskan pada keberadaan “Santri Waria” dari perspektif Hak Asasi Manusia dalam bentuk hak kebebasan beragama dan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Perlindungan hak kebebasan beragama selaras dengan substansi buku Ensiklopedia Muslimah Reformis karya Prof. Musdah Mulia bahwa prinsip kebebasan beragama mengharuskan Negara bersikap dan bertindak adil pada semua penganut agama dan kepercayaan tanpa ada diskriminasi pada warga Negara, kata Adinda Bunga.

Penolakan yang pernah dilakukan oleh kelompok mayoritas gender terhadap eksistensi pondok pesantren waria karena argumentasi agama yang seringkali bias dan merampas hak-hak kelompok minoritas gender dalam menjalankan ibadah dan keyakinanya menjadikan pondok pesantren waria hingga kini tetap eksis sebagai bentuk perlawanan terhadap persekusi, diskriminasi dan stigma hanya karena mereka berbeda.
Oleh karena itu, kehadiran pesantren waria sebagai institusi spiritual yang harus dilindungi, sangat penting untuk dibahas dan terus dikaji secara mendalam melalui berbagai sudut pandang dengan mengedepankan sisi kemanusiaan.

Dalam disku tersebut menampilkan para pembicara seperti Dede Oetomo (Dosen FISIP & FIB Universitas Airlangga), Musdah Mulia (Aktivis HAM dan Penulis buku Ensiklopedia Muslimah Reformis) serta Masthuriyah Sa’dan (Penulis Buku Santri Waria).
***

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami