BTN iklan
Internasional

PINISI Yang Terlupakan Dan Poros Maritim Dunia

Beijing-LEI, Pahlawan budaya Sulawesi Selatan Sawerigading, jika masih ada di masa kini, mungkin saja kecewa ketika kapal perang Kerajaan Gowa “Pinisi” terlupakan dalam sebuah simposium mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, di Hong Kong pada dua pekan silam.

Jangankan untuk disebut namanya, dijadikan logo Simposium Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Asia-Oseania bertajuk “Ketahanan Dan Pemberdayaan Kemaritiman Indonesia: Menuju Poros Kekuatan Maritim Dunia” pun tidak.

Logo simposium yang berlatar belakang warna biru, sebagai simbol “laut”, justru menampilkan “Aqua Luna”, kapal tradisional Hong Kong.

“Itu bukan kapal tradisional Indonesia, melainkan kapal tradisional asing. Padahal kita berbicara tentang Indonesia sebagai Poros Maritim dunia,” kata Deputi Kedaulatan Maritim Kementerian Maritim RI Arif Havas Oegroseno.

Panitia, para pembicara, panelis, dan hadirin pun tersenyum, tertawa ringan, tersadar atas “kelalaian” kecil namun penuh makna tersebut, khususnya bagi Sawerigading dan setidaknya bagi Arif Havas, sebagai wakil generasi masa kini.

Betapa tidak, Pinisi dengan keanggunan dan perimbangan yang tepat, didukung kayu bitti dan kayu bayam, berikut sosok tujuh layar serta dua tiang, telah berjaya melaksanakan misinya selama berabad-abad.

Pinisi telah berjaya sebagai kapal perang Kerajaan Gowa, sebagai pengangkut para pasompe (pelaut/pengembara), migran, Bugis ke Sumatera, dan Semenanjung Melayu serta sudah tentu pula sebagai perahu pengangkut barang dagangan antarpulau.

Bahkan ketika Pinisi telah bertransformasi menjadi lebih modern sebagai Perahu Layar Mesin (PLM). Dengan nama Pinisi Nusantara, telah menjadi warga pengarung samudra besar, semisal saat dia harus mengarungi Samudra Pasifik yang maha luas untuk tampil di Vancouver Expo pada 2 Mei-12 Oktober 1986.

Kegiatan yang bertema “World In Motion, World In Touch”, dimanfaatkan seluruh negara peserta untuk menunjukkan perkembangan kemajuan teknologi di bidang Komunikasi dan Transportasi.

Karena keunggulan kita di bidang teknologi komunikasi dan transportasi belum bisa dibanggakan, maka Pemerintah Indonesia menekankan pada aspek kekayaan budaya dan spirit bahari.

Maka paviliun Indonesia justru memamerkan perahu tradisional Asmat dari Irian Jaya, dari Kalimantan, Madura dan Bali sebagai kekuatan dan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Bahkan, di dermaga, ditampilkan sebuah perahu phinisi bernama Phinisi Antar Bangsa.

Pinisi Antar-Bangsa bukanlah kapal yang disiapkan untuk berlayar, tetapi hanya dipamerkan. Kapal itu, semula dibuat di Tanah Beru, Makassar, secara utuh, kemudian dibongkar terurai, dimasukkan peti kemas dan dirakit lagi di Vancouver.

Kegiatan merakit kapal itu sendiri, sudah sangat menarik perhatian para pengunjung pameran dan tentunya turut mengangkat pamor anjungan Indonesia di mata pengunjung Vancouver Expo, yang sebelumnya, selama bulan Mei, dirasakan sepi pengunjung.

Anjungan Indonesia pada Expo 1986 Vancouver pun dinilai sukses. Hal itu ditunjukkan oleh penilaian lebih kurang 100 suratkabar di negara Kanada yang memasukkan Indonesia ke dalam kelompok “Top Twelve” berbintang empat di topik “A Must See”.

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) saat itu, JB. Sumarlin, sebagai penanggung jawab, mengatakan, “Di balik (kesuksesan) itu, kehadiran perahu tradisional ‘Pinisi Nusantara’ melalui ekspedisi lintas Samudra Pasifik dalam Operasi Patih Gajah Mada, membawa makna tersendiri”.

“Pelayaran ekspedisi yang lebih banyak bersifat demonstrasi berlayar dengan perahu tradisional itu, telah mengingatkan kembali bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa bahari,” katanya.

Budaya Maritim Indonesia berkomitmen untuk menjadi negara maritim yang kuat guna mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia (PMD), salah satu strategi menjadi negara maritim yang kuat adalah penguatan identitas dan budaya maritim Bangsa Indonesia.

Arif Havas yang juga mantan Duta Besar RI untuk Uni Eropa, Kerajaan Belgia dan Kepatihan Luksemburg itu menuturkan, sebagai negara yang secara geopolitik dan geostrategi menguasai wilayah perairan seluas sekitar enam juta kilometer persegi, Indonesia komitmen untuk menjadi negara maritim yang kuat guna mewujudkan PMD yang dicita-citakan.

Dijelaskannya, Indonesia adalah negara kepulauan, tetapi belum mejadi negara maritim yang kuat.

“Negara maritim lebih kepada pemanfaatan jalur laut, bukan kepada isi laut. Singapura, contohnya. Dia tidak memiliki laut, tidak memiliki sumber daya kelautan. Tetapi, Singapura menjadi salah satu dari 12 negara maritim terbesar di dunia, antara lain karena pelabuhan yang dimiliki, infrastruktur maritim yang dimilikinya,” katanya.

Diplomat karir itu menilai, ada beberapa strategi yang harus dirumuskan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maritim yang kuat, yakni penguatan budaya dan identitas bangsa sebagai negara maritim, pembangunan ekonomi maritim, perumusan tata kelola kelautan, pengaturan tata ruang kelautan, lingkungan kelautan, pendidikan kelautan, ilmu pengetahuan dan teknologi maritim dan pertahanan maritim.

“Seluruhnya tengah dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan. Semisal, perumusan tata ruang kelautan yang ditargetkan selesai pada Juni mendatang,” ungkapnya.

Jika seluruh strategi itu dapat dijalankan secara solid, diplomat yang pernah bertugas di Lisabon (Portugal) itu menyatakan, maka Indonesia dapat menjadi negara maritim yang kuat, dan visi sebagai PMD akan terwujud.

Pinisi, adalah salah satu simbol sekaligus bukti bahwa jati diri, budaya sebagai bangsa bahari telah melekat pada Indonesia sejak berabad-abad silam. Keberadaan Pinisi dan beserta kejayaannya yang diukirnya, dapat memperkuat komitmen Indonesia untuk mewujudkan misinya sebagai PMD.

Pinisi, lanjut Arif Havas, adalah salah satu simbol dan contoh bagaimana kita melihat Indonesia sebagai bangsa bahari, bagaimana kita memperlakukan Indonesia sebagai bangsa maritim. Pinisi bukan sekadar kapal tradisional yang dibanggakan para punggawa, sawi, sombalu dan para pelaut di Desa Ara, Galangan Tanah Beru, dan Tanjung Bira, Makassar.

Transformasi Pinisi klasik yang semula dibuat dari kayu bitti dan kayu bayam, menjadi lebih modern sebagai PLM dari kayu besi serta kayu ulin, beserta alat komunikasi yang canggih, pun mengajarkan, suatu strategi pembangunan memujudkan visi yang berkesinambungan, dengan mementingkan penguasaan dan keyakinan akan idiom budaya sendiri, hingga mampu menjadi terobosan kreatif, mendukung Indonesia sebagai bangsa bahari, sebagai PMD.

Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close