HEADLINESPKPU

PKPU Perusahaan Distribusi Indonesia Jaya Sebesar 261 Milyar

BTN iklan

Jakarta, LEI – PT Distribusi Indonesia Jaya mengantongi utang senilai Rp261,29 miliar kepada 12 kreditur dalam masa penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

Dalam proposal perdamaiannya, PT Distribusi Indonesia Jaya (debitur) menuliskan utang perseroan tersebar ke kreditur separatis dan konkuren.

Adapun kreditur separatis atau pemegang hak jaminan terdiri dari empat bank dengan total tagihan Rp212,67 miliar.

Kreditur separatis terdiri dari PT Bank Maybank Indonesia Tbk Rp124,06 miliar, PT Standard Chartered Bank Indonesia Rp34,75 miliar, PT HSBC Indonesia Rp28,82 miliar, dan PT Bank OCBC NISP Rp25,04 miliar.

Sementara itu, kreditur konkuren terdiri dari delapan perusahaan dengan total piutang Rp48,62 miliar.

Adapun kreditur konkuren di antaranya PT Unicharm Indonesia dengan piutang Rp27,62 miliar, PT Bank Cimb Niaga Tbk Rp9,78 miliar, Cartree Co Ltd Rp5,43 miliar, PT Pondan Pangan Makmur Indonesia Rp2,69 miliar, dan PT Arnott’s Indonesia Rp1,33 miliar.

Dari daftar kreditur di atas, pemegang tagihan terbesar yakni Bank Maybank selaku separatis. Atas dasar itu, bank berkode saham BNII ini memegang jaminan berupa 25 bidang tanah di kawasan Bandung, Soreang, Cimahi, Bogor, Cirebon, dan Banjar.

Direktur Utama PT Distribusi Indonesia Jaya Candranata mengatakan, pihaknya ingin merestrukturisasi pembayaran utang, baik sebagian maupun seluruhnya. Namun, dia meminta adanya diskon, masa penundaan (grace period), penghapusan denda, dan bunga serta skema pembayaran.

“Jika diberi kesempatan, kami ingin menata kembali usaha ini agar bisa memberikan keuntungan kepada semua pihak,” katanya.

PT Distribusi Indonesia Jaya merestrukturisasi utang-utangnya dengan pantauan tim pengurus dan hakim pengawas. Tim pengurus terdiri dari Yudhi Bimantara dan Sururi El Haque.

Proses PKPU sementara masih berjalan dan mengalami perpanjangan menjadi PKPU tetap hingga 22 Januari 2017.

Salah satu pengurus PKPU Yudhi Bimantara menuturkan debitur membagi pembayaran berdasarkan sifat tagihan kreditur.

Untuk kreditur separatis atau dengan jaminan, debitur akan mengangsur utang selama 12 tahun hingga 31 Desember 2029. Ketentuannya, debitur meminta potongan utang sebesar 60% dari seluruh utang pokok. Selanjutnya, debitur meminta grace period sejak perjanjian disahkan atau homologasi hingga Desember 2019.

Dalam masa tunggu tersebut, debitur tidak membayar utang pokok. Debitur juga meminta penghapusan bunga dan denda untuk seluruhnya. Pembayaran utang pokok dimulai 1 Januari 2020 hingga 31 Desember 2029.

Sementara itu, pembayaran kepada kreditur konkuren atau tanpa jaminan akan dicicil selama 12 tahun.

Debitur meminta potongan 75% dari seluruh utang pokok. Selebihnya tata caranya sama dengan kreditur separatis.

Yudhi melanjutkan, debitur mengklaim memiliki sumber dana untuk membayar kewajiban. “Sumber dana berasal dari piutang ke pihak ketiga, kas dan stok barang,” katanya.

PT Distribusi Indonesia Jaya mencatat memiliki piutang terhadap toko atau pelanggan yang masih belum diselesaikan senilai Rp106,89 miliar.

Sisa kas perusahaan per 2 Januari 2018 tercatat Rp9,06 miliar. Perusahaan juga masih mempunyai stok barang yang dapat dijual ke pelanggan. Hingga saat ini, perusahaan masih melakukaan proses inventarisasi aset.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami