HEADLINESOpini

Polemik Jurassic Park di Pulau Rinca tanggapan dari Ahli Konservasi Lingkungan

BTN iklan

LEI, Jakarta -Pemerintah berencana membangun Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satunya adalah pembangunan ” Jurassic Park” di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat. Pulau ini bakal disulap menjadi destinasi wisata premium dengan pendekatan konsep geopark atau wilayah terpadu yang mengedepankan perlindungan dan penggunaan warisan geologi dengan cara yang berkelanjutan. Rencana ini pun mendapat perhatian besar dan beragam komentar dari para ahli terutama dibidang konservasi lingkungan.

Salah satu tanggapan dari Petrus Gunarso ahli dibidang pengelolaan konservasi sumber daya alam menanggapi bahwa “Pengelolaan Taman Nasional itu berbasis pada zonasi atau mintakat. Ada zona inti ada zona intensive dan ada zona wilderness atau alam liar/home range dari habitat satwa utama dan ada pula buffer zone. Sejauh kegiatan ada di intensive use zone, dan sejauh penyusunan zonasinya baik dan benar, maka kelestarian Komodo akan terjaga. Proyek sebesar dan sepenting “Jurasic Park” mestinya dilengkapi dengan Amdal dan seluruh langkah2 mitigasinya mustinya ada dalam studi itu.”

“Jika prosesnya benar, pasti juga melewati konsultasi publik baik setempat, maupun yg terdampak di sekitarnya.” ujar Petrus saat dimintai Keterangan oleh LEI (27/10).

“Agar Komodo tidak punah; perlu biaya dan biaya itu salah satunya berasal dari zona intensive use zone. Biaya itu untuk kegiatan2 habitat management, penangkaran, pelepasliaran hasil penangkaran, perlindungan dari pencurian dan perburuan. Dan yang lebih penting pemantauan oleh ahlinya diikuti dengan berbagai corrective actions.”

“Hiruk pikuk di Sosmed adalah bagian dari kontrol sosial, dan mestinya sudah diantisipasi oleh pengelola proyek.”

“Last but not least; wisata penting tetapi kelola taman nasional tetap harus memperhatikan tiga prinsip dasar konservasi yaitu protect, preserve, dan sustainable use.”

“Secara pribadi kurang setuju dengan nama proyek “Jurasic Park” …ini mengulang nama “Bukit Tele Tubbies di Bromo”; rasanya perlu dipilih nama project yang lebih baik, misal dengan judul sesuai adat dan budaya setempat.” tutur Petrus

Petrus Gunarso salah satu tenaga ahli bidang deforestasi dan kebijakan hutan dalam rangka proses sengketa kebijakan RED II dan Delegated Regulation Uni Eropa di WTO – DS 593. January 2017 – 2018 sebagai Advisor pada perusahaan yang bersifat global – APRIL Group; Direktur Konservasi pada perusahaan yang berskala global – APRIL Group; 20014 Direktur Sustainability pada perusahaan yang berskala global – APRIL Group; Direktur Program Tropenbos Internasional Indonesia selama 2 periode; 2006 Chairperson pada Komite ‘Reforestation and Forest Management’ pada International Tropical Timber Organization (ITTO) tahun 2006

 

Kontributor: Dwitya Yonathan

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami