LifestyleTraveling

Prambanan dan Borobudur Didorong Setara Royal Albert Hall

BTN iklan

Jakarta, (LEI) – Kawasan Wisata Candi Prambanan dan Borobudur bisa dibuat setara situs peninggalan sejarah asing seperti Acropolis, Pompeii atau Royal Abert Hall. Caranya, menurut penyelenggara Prambanan Jazz Festival Anas Syahrul Alimi, dengan membangun amfiteater di sana.

Ruang terbuka yang biasa digunakan untuk tampil itu akan membuat eksotisme Prambanan dan Borobudur semakin jadi daya tarik dunia internasional, termasuk pencinta seni pertunjukan.

“Membangun amfiteater itu hal yang sangat mungkin untuk dilakukan. Tinggal bagaimana merancang sinerginya saja,” katanya melalui siaran pers pada Selasa (27/3). Amphitheatre itu, lanjut Anas, bisa dibangun di kawasan ring dua.

Dengan demikian, ia masih berjarak 200-300 meter dari kawasan utama situs warisan dunia.

Ia menyarankan, posisinya berada di dekat panggung Ramayana hingga kawasan hutan pinus di dekat candi. “Dari sana pemandangan dengan latar candi Prambanan masih tetap menarik. Ini akan jadi daya pikat bagi para penonton sekaligus para artis yang akan tampil di sana.”

Anas membayangkan, amfiteater yang dibangun tidak asal. Daya tampungnya harus besar, sekitar 10 ribu penonton. Dengan kapasitas yang besar, kata dia, selain bisa mendorong pemasukan bagi pengelola candi dari PT Taman Wisata Candi (TWC) itu juga sesuai cita-cita Joko Widodo untuk menggeliatkan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi di daerah.

Pria yang sudah berpengalaman menggelar pertunjukan Prambanan Jazz Festival selama tiga tahun terakhir itu lantas mencontohkan pembangunan amfiteater di situs lain.

Pompeii di dekat Kota Napoli, Italia, misalnya. Kota peninggalan zaman Romawi Kuno yang sempat hilang selama 1.600 tahun akibat letusan gunung Vesuvius pada 79 Masehi itu pernah dibuat lokasi tampilnya band terkenal Pink Floyd. Penampilan itu bahkan juga difilmkan.

Musisi Yanni di Acropolis, Athena, Yunani juga pernah melakukan hal yang sama.

Contoh lainnya, imbuh Anas, adalah gedung pertunjukan Royal Albert Hall di utara Kota Westminster, London, Inggris. Ruang pentas yang diresmikan Ratu Victoria pada 1871 ini memiliki kapasitas hingga 5.272 kursi. Nilai sejarahnya pun dikuatkan budaya pop.

“Harusnya Prambanan dan Borobudur bisa melakukan hal serupa seperti di Acropolis, Pompeii atau Royal Abert Hall. Tinggal political will saja untuk mewujudkannya,” ujar Anas.

Oktober silam, Anas sempat menggagas penyelenggaraan acara JogjaROCKarta dengan berlatarkan Candi Prambanan. Namun, penyelenggaraan itu pupus karena timbulnya polemik di tengah masyarakat dan belum ada aturan baku terkait gelaran konser di cagar budaya.

Kala itu, Kepala Subdirektorat Warisan Benda Budaya Dunia Yunus Arby mengakui bila sebuah penyelenggaraan ingin menggunakan kawasan cagar budaya untuk keperluan komersil seperti konser, maka peraturan yang digunakan masih hanya sebatas urusan lingkungan, belum mengatur teknis yang lebih rinci.

“Jadi sebenarnya standar ambang batas suara yang kami pakai itu dari UU Lingkungan Hidup,” katanya.

Yunus menyebut di dalam UU Lingkungan Hidup terdapat poin pemanfaatan lingkungan dan tidak boleh merusak. Poin umum itulah yang kemudian digunakan dan dianggap Yunus perlu diterjemahkan lebih dalam terkait pemanfaatan cagar budaya.

“Seperti apa sih yang tidak merusak? Cara melihat yang rusak itu apa? Nah misalnya kebisingan, itukan ada alatnya untuk mendeteksi,” kata Yunus.

“Ambang batas suara dan segala macamnya menggunakan apa yang ada di UU Lingkungan. Tapi heritage bentuknya macam-macam, oleh sebab itu untuk warisan budaya perlu melakukan yang disebut dengan Heritage Impact Assessment,” tambahnya.

Aturan yang dimaksud Yunus tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-48/MENLH/11/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan, yang mencantumkan kawasan cagar budaya memiliki tingkat kebisingan sebesar 60 desibel.

Yunus membenarkan semua negara, termasuk Indonesia, sudah diminta oleh World Heritage Center UNESCO untuk melakukan Heritage Impact Assessment atau Analisis Dampak terhadap Cagar Budaya. Namun untuk melakukannya, Yunus mengatakan, perlu kajian mendalam.

Kajian itu bukannya belum pernah dilakukan. Yunus sudah mengamati setiap perayaan Waisak di Candi Borobudur dan penyelenggaraan Prambanan Jazz yang eksis tiga tahun terakhir. Sayang, hingga saat ini hasil kajian itu belum disimpulkan dan diumumkan. [cnn indonesia]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami