Internasional

Prancis: Perundingan Perdamaian Suriah di Wina Wujud Harapan Terakhir

BTN iklan

Paris, 25/1 (Antara/Reuters) – Menteri Luar Negeri Prancis, Rabu, mengatakan tidak ada kemungkinan penyelesaian politik untuk Suriah selain perundingan pimpinan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Wina, yang menurut dia adalah harapan terakhir.

“Untuk hari ini, tidak ada kemungkinan politik selain -dan ini adalah harapan terakhir- pertemuan di Wina besok di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan pihak berperang akan hadir dan kita berharap agenda perdamaian dipetakan,” kata Jean-Yves Le Drian kepada anggota parlemen Prancis.

Staffan de Mistura, Utusan Khusus PBB untuk Suriah, mengundang pemerintah Suriah dan kelompok oposisi menghadiri pertemuan dua hari di ibu kota Austria tersebut.

Pertemuan itu terjadi pada saat muncul sedikit tanda terobosan politik dan beberapa hari sebelum Rusia, pendukung utama Presiden Suriah Bashar al-Assad, mengadakan kongres Suriah di Sochi.

De Mistura telah memimpin serangkaian perundingan Suriah di Jenewa, dengan sebuah mandat untuk membahas pemilihan umum baru, tata pemerintahan yang telah direformasi, sebuah konstitusi baru dan perang melawan terorisme.

Pihak bertikai tidak pernah berbicara tatap muka, dan baru di babak kedelapan pada Desember lalu, pihak oposisi bersatu dalam satu delegasi, meningkatkan harapan untuk melakukan pembicaraan langsung untuk pertama kali.

Namun, delegasi pemerintah Suriah keberatan dengan garis keras oposisi terhadap masa depan Assad dan perundingan tersebut tidak mencapai hasil apapun.

“Secara definisi saya optimis, ini saat yang sangat kritis. Sangat, sangat kritis,” kata De Mistura kepada wartawan di Wina, menambahkan bahwa kedua belah pihak telah berjanji untuk mengirim delegasi penuh.

Sementara itu, pertempuran sengit berlanjut pada Selasa (23/1) antara pasukan Turki dan tentara pimpinan Suku Kurdi di pinggir Daerah Kantung Afrin, yang dikuasai Suku Kurdi, di Suriah Utara, kata satu kelompok pemantau.

Pertempuran antara pasukan Turki dan petempur pimpinan Suku Kurdi tersebut berkecamuk dari bagian timur-laut Afrin sampai ke bagian barat-dayanya, kata Observatorium Suriah bagi Hak Asasi Manusia.

Pesawat tempur Turki juga menyerang beberapa sasaran di Afrin pada Selasa, menewaskan dua anak kecil dan dua perempuan, kata Observatorium tersebut, menurut laporan Xinhua.

Ditambahkannya, 22 warga sipil sejauh ini telah tewas sejak pihak Turki mengumumkan dimulainya operasi militer terhadap petempur Kurdi di Afrin pada Sabtu (20/1).

Pertempuran di Afrin telah lama diperkirakan, sebab Turki menjelaskan bahwa Ankara akan melancarkan serangan bersama dengan gerilyawan Suriah yang didukung Turki melawan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi, atau YPG, dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF), pimpinan Suku Kurdi, di Afrin.

Turki memandang YPG sebagai kelompok teror milik Partai Pekerja Kurdistan.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami