InternasionalPolitik

Presiden Donald Trump tolak turun “TAHTA”

BTN iklan

LEI -Presiden Donald Trump menolak untuk menjamin dia bakal meletakkan jabatan dengan damai jika kalah dalam Pilpres AS. Pernyataan yang diucapkan presiden ke-45 AS itu tak pelak memantik kritikan tak haya dari oposisi Partai Demokrat. Bahkan dari partainya sendiri, Republik. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, dia ditanya apakah bakal berkomitmen pada prinsip dasar demokrasi: penyerahan kekuasaan secara damai.

“Yah, kita harus melihat apa yang terjadi,” kata Trump. Ucapannya itu memantik sindiran dari rivalnya di Pilpres AS, Joe Biden. Kepada awak media, kandidat presiden dari Demokrat itu mengaku tidak habis pikir dengan penolakan yang diperlihatkan oleh suami Melania itu. “Dengar, dia bahkan mengatakan sesuatu yang sangat irasional. Saya tak tahu harus menanggapi bagaimana,” kata dia dikutip AFP Rabu (23/9/2020). Bahkan Mitt Romney, senator yang berasal dari Republik menyatakan, keraguan sang presiden akan konstitusi itu sendiri “sama sekali tak bisa diterima”. “Hal dasar dalam demokrasi adalah penyerahan kekuasaan secara damai. Tanpa itu, jadilah Belarus,” jelas Romney yang kerap mengkritik Trump itu.

“Tendang” Ballots
Pernyataan presiden itu disampaikan setelah dia, yang mengejutkan era Presiden AS modern, betapa dia mengeluhkan keadilan di pemilihan. Dia mengomentari rencana penggunaan mail-in ballots dibanding in-person karena wabah virus corona yang melanda seluruh dunia.

“Kalian tahu, saya selama ini sangat mengeluhkan mengenai balot ini, yang jelas adalah bencana,” kata Trump dalam konferensi pers.

Presiden berusia 74 tahun itu berulang kali berujar, balot mail-in rawan terjadi penipuan dan dituding menjadi alat mengeruk keuntungan bagi Demokrat. Namun, sampai saat ini belum ada bukti bahwa pengiriman lewat pos bakal memberikan dampak negatif yang signifikan di Pilpres AS.

Bahkan, dia kemudian mengusulkan agar rencana tersebut dibatalkan, di mana jika skenario itu terjadi, dia akan terus berkuasa. “Singkirkan balotnya dan kalian akan mendapatkan, yah sejujurnya, keberlanjutan kekuasaan. Tidak akan ada serah terima,” ujar dia. Malah dalam salah satu kesempatan, sang presiden menuturkan dia berpikir pemilihan itu “hanya akan mengakhiri Mahkamah Agung AS”. Dia mengatakannya di tengah upaya untuk mencalonkan calon hakim agung untuk mengisi Ruth Bader Ginsburg yang meninggal pekan lalu. Jika ambisi Trump dan Republik sukses, maka mereka akan mempunyai sembilan hakim tertinggi yang dilaporkan begitu konservatif. Namun Demokrat dan Joe Biden menentangnya. Mereka menegaskan bahwa penetapan hakim agung tersisa harus menunggu hasil pemilihan.

Rekapitulasi sejumlah survei sepanjang satu pekan terakhir menunjukkan calon presiden Amerika Serikat ( AS) dari Partai Demokrat, Joe Biden, mempertahankan keunggulannya atas petahana Partai Republik Presiden Donald Trump. Biden konsisten memimpin secara nasional dan di sejumlah negara bagian krusial atau swing states, yang akan menentukan siapa penghuni Gedung Putih pada 20 Januari 2021. Di negara bagian Wisconsin, dua survei menunjukkan mantan Wakil Presiden Barack Obama itu unggul meyakinkan 6 dan 10 poin atas Trump.

Biden unggul 52 persen berbanding 46 persen menurut jajak pendapat ABC News/The Washington Post. Politisi kawakan berusia 77 tahun itu juga meraih 52 persen di Wisconsin menurut hasil survei CNN/SSRS. Namun, dalam survei ini Trump hanya dipilih 42 persen responden. Biden juga mendapatkan kabar baik dari dua negara bagian yang memiliki demografi pemilih Hispanik yang signifikan, yaitu Arizona dan Florida. Arizona yang secara tradisional merupakan basis suara Partai Republik kelihatannya akan mengubah pilihan politik pada pilpres 2020 ini. Survei Universitas Monmouth memberikan keunggulan tipis 2 poin terhadap Biden, yaitu 48 persen berbanding 46 persen.

Trump memenangkan blok pemilih suburban pada pilpres 2016 dengan selisih 4 poin. Berselang empat tahun kemudian, rataan hasil survei memperlihatkan Biden melibas Trump dengan keunggulan dua digit di kawasan suburban. Bergesernya dukungan di suburban adalah faktor utama yang membuat Biden berada di zona nyaman mendekati 50 persen. Trump berusaha menggunakan retorik penegakan hukum menakut-nakuti pemilih suburban, bahwa Biden akan membuat kota mereka porak-poranda seperti Kenosha dan Minneapolis karena krisis rasial. Sejauh ini hasil survei menunjukkan pemilih suburban yang semakin beranekaragam dari berbagai etnis minoritas tidak terpengaruh oleh retorik Trump. Pemilih suburban adalah kunci utama kemenangan Demokrat pada pemilu DPR 2018 lalu.

 

Kontributor: Dwitya Yonathan Nugraharditama

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami