EventHEADLINESHukum

Profesi Hukum Kaum Milenial

Launching Buku Pengacara Cyber

BTN iklan

JAKARTA, LEI – Dalam rangka memperingati 12 Tahun Kongres Advokat Indonesia, Dr. Laksanto Utomo, SH, MHum, meluncurkan buku dengan judul Pengacara Cyber, Profesi Hukum Kaum Milenial.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Sahid (Usahid) Jakarta, Dr. Laksanto Utomo, mengatakan, pengacara atau advokat cyber merupakan bidang menjanjikan dan diprediksi akan terus berkembang. Terlebih, sekarang sudah memasuki era digital dengan pesatnya teknologi informasi.

Menanggapi buku Laksanto, Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Achmad Setyo Pudjoharsoyo mengatakan setelah membaca buku tersebut semua tatanan berubah. Seperti aktivitas koordinasi atau bernegoisasi tak lagi mengharuskan bertatap muka. MA pun sudah mulai menuju peradilan digital, seperti e-court dan e-litigasi berdasarkan Peraturan MA yang telah diterbitkan. Dia menilai buku Laksanto menjadi pemantik menyadarkan praktisi hukum akan pentingnya memanfaatkan teknologi yang tak melulu harus bertemu langsung dengan klien.

Presiden KAI Tjoetjoe Sandjaja Hernanto menilai buku tersebut mengurai detil tantangan profesi advokat di era milenial. Hanya saja, buku ini belum mencantumkan profil advokat atau kantor hukum yang sejak awal berdiri mengadopsi teknologi kegiatan pemberian layanan hukum. Seperti mengembangkan internet sebagai bagian basis teknologi informasi di kantor hukumnya.

Dia juga mengingatkan dunia digital tak selamanya bernilai positif, tetapi ada hal negatif yang perlu diwaspadai. Misalnya, dalam persidangan e-litigasi, seorang advokat memberi materi jawaban melalui digital. Tapi, bukan tidak mungkin jawaban yang dikirimkan advokat tersebut diretas. “Ini harus diantisipasi, ekses negatif ini bisa dieliminir. Kira-kira buku ini, apakah mengurai dampak negatifnya?”

Ketua Program Doktor Fakultas Hukum Universitas Borobudur Prof Faisal Santiago menilai pandemi Covid-19 mengubah budaya hukum masyarakat Indonesia dalam hal pemanfataan teknologi. Karena itu, terbitnya buku ini menambah pemikiran advokat dalam untuk menyesuaikan diri tentang pentingnya memanfaatkan teknologi di era milenial. Termasuk mengembangkan digital marketing bagi kantor hukum.

“Kekurangan buku ini tidak memberi sampel pengacara dan kantor hukum mana saja yang telah memanfaatkan dan menggunakan digital. Tetapi saya tahu persis yang up to date dengan teknologi adalah KAI. Sekarang zamannya menggunakan digital. Ini sesuatu yang luar biasa dalam buku ini. Tinggal bagaimana teman-teman advokat ini bisa menyikapinya,” ujarnya.

Dr. Laksanto yang sempat menjabat sebagai Ketua Asosiasi Perhimpunan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI) tersebut, mengungkapkan, ini merupakan tantangan bagi advokat di Tanah Air. Pasalnya, jika tidak mampu memanfaatkan teknologi atau hanya memberlakukan cara “tradisional” mungkin advokat atau pengacara hanya menjadi penganalisis atau penulis, dan kolumnis.

“Karena ketinggalan menyesuaikan diri dengan perkebangan teknologi ke depan. Jadi kalau memang tidak mau meng-up date situasi dan kondisi, ya mejadi penulis saja, kolumis, analis perkara, itu yang masih berguna,” katanya.

Sesuai prediksi bahwa akan muncul profesi baru di bidang hukum yang menjadi peluang bagi para advokat atau pengacara, khususnya dari kalangan milinial. Adapun profesi tersebut yakni legal knowledge engineer, legal teknologi, dan legal practice engineer.

“Tiga profesi ini, sesuai kemajuan teknologi. Lawyer-lawyer muda itu harus siap untuk itu. Ini peluang baru yang akan ada bagi masa depan cyber lawyer ini,” ujarnya.

Ketua Program Doktor Universitas Borobudur, Jakarta, Prof. Dr. Faisal Santiago, mengatakan, buku ini menjadi pengetahuan bagi mahasiswa atau advokat bagaimana memanfaatkan teknologi informasi untuk menunjang profesinya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami