InternasionalLiputan

Program Rehabilitasi Anggota Geng El Salvador

BTN iklan

Jakarta (Lei) –  Tangan-tangan yang sedang merajut itu penuh dengan tato, dan di dekatnya seorang pria dengan hati-hati menggores kuas terakhir lukisan Elsa, tokoh dari film ‘Frozen’, di kanvas.

Ini pemandangan di satu penjara El Salvador yang menampung bekas anggota geng ultra-kejam yang bertekad untuk meninggalkan masa lalu mereka sebelum kembali bermasyarakat.

Kegiatan tersebut merupakan jalan untuk merehabilitasi orang-orang yang disebut Presiden Donald Trump “binatang” ketika dia menyamakan geng-geng di Amerika Tengah dengan gelombang imigrasi dari wilayah itu.

Merajut Jadi Program Rehabilitasi Anggota Geng El Salvador
El Salvador, Honduras dan Guatemala termasuk dalam negara paling berbahaya di dunia. Ketiga negara itu dikenal sebagai “Segitiga Utara” Amerika Tengah.

Ketiga negara ini merupakan zona terbesar gelombangi migrasi ilegal ke Amerika Serikat karena banyak warga negara itu yang berusaha meninggalkan situasi tak aman, korupsi dan kemiskinan yang menjerat mereka.

Dua geng kriminal terbesar di Segitiga Utara adalah MS-13 dan Barrio 18. Dua kelompok ini dibentuk pertama kali pada 1980an di Los Angeles, Amerika Serikat dan dibawa pulang ketika banyak warga Amerika Tengah dideportasi ke negara asal.Keluar dari kelompok kejahatan bukan sesuatu yang mudah karena sangat berbahaya. Tetapi mereka yang sekarang berada di penjara San Francisco Gotera, San Salvador, mau mengambil risiko itu dengan mengikuti program rehablitasi yang diselenggarakan oleh satu gereja Kristen.

“Kami sangat menyesal pernah menjadi anggota geng dan menghabiskan hidup dengan mencari masalah,” ujar Moises Linares, salah satu narapidana berusia 30 tahun, kepada kantor berita AFP.Dia memiliki tato angka “18” berukuran besar di dahi, yang menjadi tanda masa lalunya. Dia sudah menjalani hukuman 12 tahun karena kasus pemerasan.

Melebihi Kapasitas

Dua tahun lalu, Linares dianggap sebagai salah satu narapidana paling ditakuti. Kini, dia mengajari narapidana lain cara membuat roti yang diajarkan oleh neneknya ketika dia berusia 13 tahun.

Penjara itu menampung 1.585 narapidana, lima kali lebih banyak dari kapasitas dan sebagian besar dari mereka adalah narapidana kejahatan serius seperti pembunuhan, pemerasan dan merupakan anggota geng.Direktur Lembaga Pemasyarakatan El Salvador Marco Tulio Lima mengatakan bahwa pada Agustus 2016 pihak berwenang penjara mulai memisahkan narapidana yang berniat keluar dari geng dan mengikuti program rehabilitasi bertajuk “Saya Berubah”.

Aturan program itu sangat ketat, bagi mereka yang dihukum dalam jangka waktu tahunan: tidak ada waktu bebas, tidak menerima kunjungan dan tidak boleh mengkonsumsi minuman beralkohol.

“Ada perubahan perilaku yang mendorong rehabilitasi mereka,” ujar Lima. “Ada keinginan untuk benar-benar keluar dari geng, bahkan mereka juga meminta agar tato bisa dihilangkan.”

Tato, yang sebagian besar menutupi seluruh tubuh mereka, merupakan tanda keanggotaan geng dan satu penghalang dalam mencari pekerjaan atau diterima di masyarakat setelah bebas dari penjara.

Menghilangkan tato diumpamakan seperti mengikis kulit kehidupan masa lalu mereka.

“Kami ingin menghapus tato ini. Kami tidak mau lagi bersembunyi,” ujar Marvin Palacios, seorang mantang geng MS-13 yang mengikuti pelatihan menggambar dan melukis.

Dia telah menjalani hukuman selama 13 tahun karena kasus pembunuhan, dan berharap bisa bebas pada Agustus mendatang.

Tetapi dia khawatir, tato huruf “M” dan “S” di kedua lengannya bisa menjadi surat kematian ketika dia bebas. Geng musuh tidak akan ragu membunuh anggota geng pesaing mereka ketika bertemu.

Namun, di dalam penjara San Francisco Gotera ada sebagian rasa bermusuhan yang sudah didamaikan.

El Salvador, Honduras dan Guatemala merupakan wilayah asal imigran ilegal ke Amerika Serikat yang terbesar

Marlon Steward Padilla, bekas anggota MS-13 yang sudah dibui selama 16 tahun, harus berbagi sel dengan puteranya yang bernama Alexander yang merupakan anggota Barrio-18 yang dipenjara karena kasus pembunuhan.

“Saya sangat gembira, saya peluk dia dan mengatakan akan mengganti waktu yang terbuang di sini,” kata Marlon.

Pihak berwenang El Salvador mengatakan dari 80 napi yang telah dibebaskan setelah mengikuti program rehabilitasi ini, hanya satu yang kembali ke dunia hitam.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami