NasionalOpini

Proyek Komodo Park dianggap merusak Habitat

BTN iklan

LEI, Jakarta – Proyek pembangunan kawasan wisata superprioritas Labuan Bajo dianggap merusak habitat komodo di Pulau Rinca. Hewan Purba itu terusik truk-truk proyek. Diduga melibatkan perusahan milik keluarga politikus Partai Golkar, Setyo Novanto.
Meskipun Setyo novanto. Setelah Bebas dari tahanan berkat Menkumham Yasonna yang membebaskan narapidana kasus korupsi, dengan dalih merebaknya virus corona Salah satu syarat yang diutarakan oleh yang bersangkutan adalah, narapidana tersebut harus berusia di atas 60 tahun,” kata Peneliti ICW, Kurnia Ramadhan.

Menanggapi hal itu, peneliti herpetofauna Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Evy Ayu Arida menduga pembangunan Jurassic Park itu ditujukan untuk sarana edukasi bagi masyarakat. “Barangkali, ini cara pemerintah untuk melayani keperluan edukasi bagi masyarakat tentang adanya komodo yang habitatnya terbatas,” kata Evy kepada Kompas.com, Senin (26/10/2020). Menurutnya, ada tiga pilar dalam upaya konservasi, yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan. Satu di antara bentuk pemanfaatan tersebut adalah pariwisata untuk edukasi tentang satwa langka, termasuk wisata di Taman Nasional Komodo. Sayangnya menurut Evy, pembicaraan mengenai konservasi yang berkembang selama ini hanya sebatas pada perlindungan. “Jadi kalau pembangunan itu mengganggu konservasi, saya pikir perlu diluruskan. Kalau pun dibangun, itu untuk edukasi dan sesuai dengan kaidah konservasi, hanya saja caranya perlu diperbaiki,” jelas dia.

Komodo merupakan spesies yang rentan terhadap kepunahan, dan dikatagorikan sebagai spesies Rentan dalam daftar IUCN Red List. Sekitar 4.000–5.000 ekor komodo diperkirakan masih hidup di alam liar. Populasi ini terbatas menyebar di pulau-pulau Rinca (1.300 ekor), Gili Motang (100), Gili Dasami (100), Komodo (1.700), dan Flores (mungkin sekitar 2.000 ekor). Meski demikian, ada keprihatinan mengenai populasi ini karena diperkirakan dari semuanya itu hanya tinggal 350 ekor betina yang produktif dan dapat berbiak. Karena kekhawatiran ini, pada tahun 1980 Pemerintah Indonesia menetapkan berdirinya Taman Nasional Komodo untuk melindungi populasi komodo dan ekosistemnya di beberapa pulau termasuk Komodo, Rinca, dan Padar.[46] Belakangan, ditetapkan pula Cagar Alam Wae Wuul dan Wolo Tado di Pulau Flores untuk membantu pelestarian komodo. Namun di sisi lain, ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa komodo, setidaknya sebagian, telah terbiasa dengan kehadiran manusia. Komodo-komodo ini terbiasa diberi makan karkas hewan ternak, sebagai atraksi untuk menarik turis pada beberapa lokasi kunjungan.

Aktivitas vulkanis, gempa bumi, kerusakan habitat, kebakaran (populasi komodo di Pulau Padar hampir punah karena kebakaran alami pernah terjadi di sana), berkurangnya mangsa, meningkatnya pariwisata, dan perburuan gelap, membuat komodo semakin rentan terhadap kepunahan. CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species) telah menetapkan bahwa perdagangan komodo, baik kulitmaupun bagian-bagian lain dari hewan ini adalah ilegal.

Meskipun jarang terjadi, komodo diketahui dapat membunuh manusia. Pada tanggal 4 Juni 2007, seekor komodo diketahui menyerang seorang anak laki-laki berumur delapan tahun. Anak ini kemudian meninggal karena perdarahan yang parah. Ini adalah catatan pertama mengenai serangan yang berakibat kematian pada 33 tahun terakhir.

Banyak Masyarakat yang menolak dikarenakan berbagai alasan dengan salah satunya komodo adalah hewan rentan punah. Dan tujuan dari pembangunan ditakutkan melenceng bukan untuk kelestarian lingkungan makah beralih menjadi kawasan bisnis yang tidak menyejah terakan lingkungan maupun masyarakat setempat melainkan hanya “Proyek” dari pihak pihak swasta yang menjadi pengelola.

 

Kontributor: Dwitya Yonathan Nugraharditama

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami