Ekonomi

Publik Makin Merasa Tak Aman, Peluang Bisnis CCTV Diperkirakan Meningkat

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Makin bertambah tahun, makin bertambah juga rasa insecure (tidak aman) publik karena kriminal dapat terjadi semudah membalik telapak tangan, terutama Indonesia. Bahkan sejumlah rekaman CCTV yang merekam kejadian tidak terduga dengan mudahnya bertebaran di internet dan media sosial.

“Indonesia, terutama Jakarta adalah negara dengan salah satu tingkat petty crime terbesar di Asia. Saat ini penjualan CCTV memang paling banyak pasarnya masih di Jabodetabek, tapi di luar daerah juga perkembangannnya cukup menggembirakan,” ujar Ketua Asosiasi Industri Sistem Keamanan Indonesia (Aiskindo) Stefanus Ronald Juando, Kamis (25/01).

Dia menjelaskan, tren industri produk dan jasa sistem keamanan gedung turut berkembang seiring dengan pesatnya inovasi teknologi. Bila sebelum 2005, produk industri ini sangat identik dengan CCTV dan alarm, maka saat ini produknya berkembang menjadi produk pintar untuk para pelaku usaha di berbagai bidang, mulai dari alat pengaman untuk pekerjaan konstruksi, hingga sistem keamanan untuk gedung pintar (smart building).

Hingga saat ini, ujarnya, terdapat berbagai segmen pengguna produk industri, dengan kontribusi terbesar masih untuk gedung dan hunian vertikal. Selain itu, segmen lainnya yang cukup potensial adalah pabrik, hingga sistem pengaman untuk infrastruktur seperti jalan tol dan transportasi publik.

“Saat ini kapitalisasi pasar yang terdata masih untuk segmen gedung dan hunian vertikal, karena produk itu yang terjual dari pameran-pameran yang kami ikuti. Sementara untuk segmen lainnya masih kami kumpulkan datanya,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini terdapat lebih dari 700 perusahaan di seluruh Indonesia yang tergabung dalam Aiskindo. Sebanyak 80% dari perusahaan tersebut menyediakan jasa system integrator, sedangkan 20% lainnya merupakan distributor dan pemegang merk dagang.

Dia mengakui, saat ini produsen produk keamanan gedung masih didominasi oleh perusahaan asing dari China, Korea Selatan, Jepang. Dia menilai, kapasitas Sumber Daya Manusia yang belum memadai di Indonesia menjadi salah satu faktor masih sedikit produsen teknologi keamanan gedung di dalam negeri.

“Kita berharap pemerintah ke depannya bisa menyediakan pendidikan vokasi untuk operator sistem keamanan seperti ini.Kita harus mulai mengedukasi masyarakat. Selama ini kita kebanyakan ambil dari teknisi lulusan SMA yang umum dan tidak spesialis,” jelasnya.

Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Hermanto Dardak menjelaskan, runtuhnya selassr gedung Bursa Efek Indonesia beberapa waktu lalu turut memberikan pelajaran mengenai betapa pentingnya menggunakan sistem keamanan gedung yang berkualitas untuk keselamatan masyarakat. Dia menilai, kualitas sistem keamanan gedung turut menentukan masa pakai gedung.

“Sistem ini sangat dibutuhkan untuk memperkecil risiko kegagalan bangunan. Ditambah, setiap insinyur juga diatur dalam undang-undang untuk mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan dalam setiap gedung yang dibangun,” ungkapnya.

Sementara itu, General Manager Reed Panorama Exhibitions Steven Chwee mengatakan, pihaknya turut mendorong pertumbuhan penetrasi pasar produk dan jasa keamanan gedung dengan menyelenggarakan pameran bertajuk Security, Safety & Facility Management (SSF) Expo Indonesia yang akan digelar pada 15-18 Maret mendatang.

“Mengingat pameran ini diselenggarakan pada kuartal pertama tahun ini, diharapkan akan menyerap 30% hingga 50% dari pangsa pasar industri ini dalam setahun yang mencapai US$ 5 juta,” jelasnya. Dia menerangkan, pameran ini akan menghadirkan lebih dari 100 produk sistem keamanan gedung yang berasal dari berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Taiwan, hingga Korea Selatan.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami