LiputanNasional

PWI Road to Campus: Yang Muda Yang Berkarya

BTN iklan

SOLO, (LEI) – Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 2018 diawali dengan seminar di Universitas Muhammadiyah Surakarta, pada Kamis (27/9/2018). Seminar bertajuk ‘Yang Muda Yang Berkarya’ ini dimoderatori oleh Suwarmin yang kini menjabat sebagai Pimpinan Redaksi dari Solopos.

Para hadirin tidak hanya mahasiswa berbagai jurusan, tetapi juga para akademisi dan delegasi jurnalis dari seluruh daerah Indonesia pun turut hadir dalam seminar.

Pemred Legal Era ID, Dr. St Laksanto SH, MH turut hadir dalam Seminar PWI di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Kamis (27/9/2018)
Pemred Legal Era ID, Dr. St Laksanto SH, MH (kedua dari kanan) turut hadir dalam Seminar PWI di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Kamis (27/9/2018)

Ada empat narasumber yang dihadirkan dalam acara ini, diantaranya adalah Meidyatama Suryodiningrat selaku Direktur Utama LKBN Antara, Agus Sudibyo yang menjabat sebagai direktur Media Watch Indonesia, Agung Yudha dari Twitter Indonesia, dan Fikar R Mohammad yang merupakan CEO Cekricek.com.

Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta Dr. Sofyan Anif M.Si memberikan kata sambutan dalam Seminar PWI, Kamis (27/9)
Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta Dr. Sofyan Anif M.Si memberikan kata sambutan dalam Seminar PWI, Kamis (27/9)

Pembicara di mulai dari Agung Yudha. Dia mengungkapkan bahwa sekarang adalah eranya citizen journalism, setiap warga sipil dapat menjadi wartawan dimana pun dan kapan pun. Tetapi dia menekankan pentingnya untuk selalu mengecek kebenaran dari setiap berita yang hendak diposting oleh pemilik akun media sosial. Hal itu harus dilakukan agar tidak terjadi berita palsu.

Juga dia memperingatkan bagi para kaum milenial untuk selalu berhati-hati dalam bertutur kata di dunia maya, karena pada saaat seleksi di dunia kerja media sosial akan dipantau oleh HRD atau pun petugas rekrutmen pegawai yang nantinya menentukan lolos atau tidaknya para pelamar kerja nantinya.

Kemudian Fikar, menegaskan pentingnya keterampilan berbicara di khalayak umum. Agar semua ide kita bisa tersampaikan dengan sempurna pada orang lain dan tidak terjadi miss informasi.

Dia memberikan contoh kasus tentang masih banyaknya orang yang tidak paham global warming, padahal ada banyak ilmuwan yang mengerti secara mendalam kasus ini. Tapi sayangnya mereka tidak punya keterampilan berbicara di depan umum, yang menyebabkan masih banyak orang yang tidak paham global warming.

Direktur Utama LKBN Antara, Meidyatama Suryodiningrat menginginkan agar banyak generasi muda tertarik pada dunia jurnalisme. Ketika ditanya perihal menjaga netralitas, dia mengatakan bahwa tidak mungkin ada wartawan yang netral.

Contohnya, ketika sepak bola Indonesia melawan luar negeri. Para wartawan Indonesia tentu saja memihak kepada Indonesia dalam liputannya. Yang terpenting adalah setiap wartawan perlu melakukan verifikasi berkali-kali agar apa yang disampaikan tetap terjaga validitasnya, tidak menjadi berita hoax.

Yang terakhir, Direktur Media Watch Indonesia, Agus Sudibyo, menjelaskan bahwa kini masyarakat Indonesia sudah terikat dengan ponsel atau smartphone. Dengan merebaknya platform media sosial kini ruang publik dan privat sudah tercampur aduk. Kita bisa mengunggah konten yang bersifat pribadi ke media sosial yang kemudian menjadi konsumsi publik.

Dia melanjutkan, semakin sering kita online, semakin banyak dari kita yang menjadi objek pengawasan baik itu dari perusahaan platform media sosial maupun perusahaan lain.

Hingga kini belum ada formula atau algoritma yang efektif untuk melawan berita hoax. Maka ini menjadi tugas wartawan untuk mengedukasi masyarakat dengan berbagai berita yang valid dan bisa dijadikan sumber rujukan, apalagi sekarang sudah memasuki ‘tahun politik’ yang mana banyak sekali berita palsu beredar di media sosial.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close