EntertainmentLifestyle

Racikan Gambus Kekinian ala Sabyan

BTN iklan

Jakarta (LEI) – Pertama dibentuk pada 2015, Sabyan yang begitu populer sejak Ramadan lalu, tidak langsung muncul dengan konsep gambus. Mereka saja baru mendapat formasi lengkap pada 2016.

Sabyan kini dihuni Ahmad Fairuz alias Ayus (kibor), Sofwan Yusuf alis Owan (backing vokal), Kamal (darbuka), Tubagus Syaifulloh (biola), Khoirunnisa alias Nisa (vokalis) dan Anisa Rahman (backing vokal). Mereka bertemu karena sama-sama jadi musisi di pernikahan.

“Waktu 2015 formasi personel tambal sulam. Pada tahun 2016 formasi sudah tetap, tapi masih kekurangan vokalis,” di Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Saat itulah mereka bertemu Nisa. Ia tak langsung direkrut karena ingin merasakan kecocokannya terlebih dahulu. Setelah kurang lebih enam bulan, baru Nisa diajak bergabung secara permanen. Ia bahkan dijadikan sebagai ikon Sabyan karena karakternya pas.

Tak hanya bisa gambus, Nisa juga menyanyikan beragam genre.

“Selain itu vokalis juga kan paling depan. Ya cantik juga termasuk [jadi alasan dia menjadi ikon], itu enggak bohong,” ujar Ayus sambil tertawa.

Dengan formasi lengkap, Sabyan mulai meracik formula musik yang tepat. Mereka sering berkumpul dan berlatih sampai pada awal 2017 berhasil membuat racikan yang tepat. Musik gambus yang jadi nyawa mereka dipadukan dengan pop yang terasa modern.

Atau, mereka atau bisa dibilang gambus kekinian.

Meskipun, untuk itu mereka sempat dikritik. Owan mengatakan, ada yang mempertanyakan mengapa mereka tidak banyak menggunakan alat musik gambus. “Kami memang hanya pakai darbuka dan oud (gitar gambus), karena mengikuti perkembangan zaman dan pasar Indonesia.”

Bukan hanya soal alat musik yang mereka sesuaikan dengan pasar Indonesia. Lagu yang dirilis Mei lalu, Ya Maulana pun terasa lebih pop ketimbang lagu musisi lain yang mereka bawakan. Itu lagu pertama yang mereka ciptakan dan rekam sendiri, tak hanya meng-cover.

Kata Ayus, aransemen musik yang lebih pop dipilih lantaran lagu itu berbahasa Indonesia. Pemilihan aransemen itu juga bertujuan agar lagunya easy listening untuk semua usia.

Untuk lagu kedua yang sedang mereka persiapkan pun, ada kemungkinan liriknya mencampur bahasa Arab dengan bahasa Indonesia. Rencananya, lagu itu dirilis setelah Lebaran.

Gambus sendiri dipilih karena Ayus sudah akrab dengan musik itu sejak kecil. Ia bahkan sempat bergabung dengan salah satu grup musik gambus markasnya dengan rumahnya saat SMA.

Karier bermusik mereka makin berjaya, penggemar di Instagram terus bertambah. Mereka tak sungkan memupuk interaksi dengan penggemar yang disebut Sahabat Sabyan itu.

“Dari situ banyak yang meminta untuk menyanyikan selawat. Kami unggah di Instagram dan ternyata banyak viewers. Setelah itu kami nyanyikan lagu Qomarun [milik Mostafa Atef] dan unggah ke YouTube,” kata Owan menambahkan. Video itu diunggah pada Agustus 2017.

Sampai saat ini video itu sudah ditonton sebanyak 21 juta kali.

Sabyan kemudian menyanyikan selawat Ahmad Ya Habibi, Ya Habibal Qolbi, Ya Asyiqol dan Ya Jamalu. Mereka juga menyanyikan ulang lagu Rohman Ya Rohman dari Syeikh Mishary Rasyid Al-afasy dan lagu Deen Assalam dari Sulaeman Al Mughny. Sampai saat ini video musik selawat Ya Habibal Qolbi menjadi yang paling banyak ditonton, sebanyak 151 juta kali.

“Bisa dibilang kami awalnya ingin jadi YouTuber juga awalnya, kita enggak munafik soal itu. Enggak menyangka kami bisa seperti ini, puncaknya di Ya Habibal Qolbi,” kata Owan.

Kini Sabyan menjadi salah satu band yang diperhitungkan dalam industri musik Indonesia. Sebelumnya mereka merasakan bayaran dengan ucapan terima kasih, saat ini mereka mendapat bayaran Rp30 juta untuk satu kali tampil. Sebagian dari uang itu dibuat membangun studio.

“Alhamdulillah rencana kami kemarin berjalan semua. Kami berencana konser Insyaallah bulan November. Kalau sebulan satu single sampai november bisa mini album,” kata Ayus. [cnn indonesia]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close