HEADLINESHukum

Ratusan Akademisi Tolak Semen Tambang

BTN iklan

JAKARTA, (LEI/Gatra) – Ratusan akademisi di antaranya bergelar profesor, doktor, dan magister dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri, yang tergabung dalam Aliansi Akademisi Untuk Kendeng Lestari, menolak penambangan PT Semen Indonesia di wilayah Kendeng, Rembang, Jawa Tengah. Hal itu diungkapkan anggota Aliansi Akademisi untuk Kendeng Lestari dari YLBHI, Siti Rahma, di Jakarta, Minggu (9/4).

tolak pabrik semen pati

Menurutnya, hingga Kamis kemarin, sudah tercatat 245 akademisi yang tergabung dalam aliansi ini. “Ini update pendukung per 6 April 2017, pukul 19.00 WIB. Daftar nama pendukung ini masih terus dibuka bagi akademisi yang ingin memberikan dukungannya,” kata Rahma.

Dari daftar nama akademisi yang diterima GATRAnews, 41 akademisi bergelar profesor dan juga doktor. Kemudian, ratusan lainnya terdiri dari doktor, magister, dan lainnya yang tersebar di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta serta di berbagai universitas ternama di berbagai negara.

Ratusan akademisi itu menyampaikan sikap dan seruan moral demi menjaga kelestarian wilayah Kendeng, Jawa Tengah (Jateng). Sikap mereka dituangkan dalam “Kembalikan Kedaulatan Ruang Hidup dan Ekologi Rakyat Kendeng Utara”.

Aliansi Akademisi untuk Kendeng Lestari dalam rekomendasinya, mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) membatalkan izin penambangan PT Semen Indonesia atau Semen Rembang karena akan merusak alam dan ekosistem serta kehidupan masyarakat Desa Kendeng Utara dan sekitarnya.

“Kami mendesak Bapak Presiden untuk membatalkan rencana penambangan sebagaimana diamanatkan dalam putusan Mahkamah Agung (MA),” demikian sikap para akademisi.

Putusan Peninjauan Kembali (PK) MA No. 99/PK/TUN/2016 menyatakan, kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih di mana PT Semen Indonesia akan melakukan penambangan, merupakan kawasan bentang alam karst yang harus dilindungi.

Putusan PK MA tersebut berdasarkan pada Surat Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 3131/05/BGL/2014, tertanggal 1 Juli 2014. Dalam pertimbangan putusan halaman 112 disampaikan “… Badan Geologi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral dalam suratnya kepada Gubernur Jawa Tengah (bukti P-32) menyampaikan pendapat untuk menjaga kelestarian akuifer CAT Watuputih agar tidak ada kegiatan penambangan…”.

Kawasan karst Kendeng Utara yang bentuknya menyerupai ular naga di Pulau Jawa, dikelilingi mata air dan menyimpan sungai bahwah tanah, merupakan salah satu resapan air. Dengan demikian, penambangan di CAT Watuputih berpotensi menimbulkan bencana ekologis yang juga mengancam area pertanian.

Ratusan akademisi mengingatkan, bahwa keputusan ilmuwan yang salah, tidak hati-hati, serta mengabaikan manusia dan ruang hidupnya, menyebabkan potensi bencana lingkungan hidup yang luar biasa dan menyengsarakan masyarakat.

Contohnya, bencana lingkungan yang dampaknya sulit diatasi, di antaranya kasus lumpur Lapindo. Ketika ilmuwan dan pemerintah memutuskan bahwa pengeboran Lapindo hanya sebatas persoalan teknis, tanpa memperhitungkan aspek masyarakat, kebudayaan, dan berbagai hal di sekitarnya, maka dampaknya kerusakan luar biasa dan sukar untuk dipulihkan.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close