Nasional

RedDoorz Raih Pendanaan Pra Seri B Senilai Rp150 Miliar di Tengah Persaingan Sengit

BTN iklan

(Lei)-Pada 6 Maret 2018, startup marketplace hotel murah RedDoorzmengumumkan telah mendapat pendanaan Pra Seri B senilai US$11 juta (sekitar Rp150 miliar). Pendanaan ini mereka terima dari investor terdahulu mereka, yaitu Sushquehanna International Group, International Finance Corporation (dana investasi milik Bank Dunia), InnoVen Capital, dan Jungle Ventures, serta investor baru seperti DeepSky Capital, FengHe Group, dan Hendale Capital.

Investasi ini melengkapi pendanaan Seri A sebesar US$5 juta (sekitar Rp68 miliar) yang mereka terima di akhir 2016, namun baru mereka umumkan sekarang.

RedDoorz merupakan startup asal Singapura yang telah berdiri sejak tahun 2015 silam. Saat ini, mereka telah bekerja sama dengan lebih dari lima ratus hotel yang tersebar di Singapura, Filipina, serta Indonesia. Di tanah air sendiri mereka telah hadir di enam belas kota.

RedDoorz Nida Rooms

Bisnis hotel murah yang penuh berita buruk

Bisnis marketplace hotel murah di tanah air telah diisi oleh beberapa startup, mulai dari RedDoorz, Nida Rooms, Airy Rooms, serta ZenRooms. Mereka semua berusaha mengikuti kesuksesan startup serupa bernama Oyo Rooms di India.

Sayangnya, selama beberapa tahun terakhir, sering terdengar kabar-kabar buruk dari para pemain di bisnis tersebut. Nida Rooms sempat menghadapi masalah finansial, sebelum kemudian meraih pendanaan baru sebesar US$5,6 juta (sekitar Rp76 miliar) yang membuat startup tersebut berhasil bertahan. Saat ini mereka telah berganti nama menjadi Hotel Nida.

Hampir delapan puluh persen pendapatan justru dinikmati oleh perusahaan travel online.

Pemain lain, Tinggal, kini telah menutup layanan marketplace mereka dan melakukan pivot ke bisnis model lain. Sekarang mereka fokus menghadirkan software untuk membantu para pemilik hotel murah mengelola properti masing-masing.

Menurut sang CEO, Arjun Chopra, alasan di balik keputusan ini adalah kian minimnya pemasukan yang mereka dapat. Hampir delapan puluh persen pendapatan justru dinikmati oleh perusahaan travel online seperti Traveloka, PegiPegi, hingga Booking.com, yang membantu mereka dalam penjualan kamar hotel.

“Satu setengah tahun yang lalu, kami memulai bisnis ini dengan mengincar keuntungan sekitar dua puluh persen dari total harga kamar. Namun kini sebagian besar pendapatan tersebut justru hanya menjadi komisi bagi situs travel online.”

Sedangkan ZenRooms, menyatakan kepada Tech in Asia telah memberhentikan beberapa karyawan dan tengah melakukan restrukturisasi demi mengoptimalkan dana yang dimiliki. Namun mereka menolak bila disebut akan menghentikan layanan.

RedDoorz masih tertinggal

Amit Saberwal, founder dan CEO RedDoorz, memperkirakan nilai bisnis wisata di Asia Tenggara bisa mencapai angka US$52 miliar (sekitar Rp714 triliun). Dari angka tersebut, sekitar US$20 miliar (Rp274 triliun) berasal dari industri akomodasi, dengan bisnis hotel murah menyumbang sekitar US$12 miliar (Rp164 triliun).

Meski mempunyai potensi besar, bisnis ini cukup sulit untuk dimasuki. Para pemain harus mengeluarkan dana miliaran rupiah untuk memasarkan hotel-hotel murah tersebut. Mereka pun harus melatih para staf hotel agar bisa memberikan layanan yang sesuai standar, agar para pengguna merasa puas dan menggunakan hotel itu kembali di kemudian hari.

Data menunjukkan bahwa RedDoorz mempunyai dana yang lebih besar dibanding para pesaing mereka.

Dalam hal kunjungan ke situs dan peringkat aplikasi mobile, RedDoorz juga relatif unggul dari para pesaing. Di Indonesia, mereka hanya tertinggal dari Airy Rooms, yang disebut-sebut berafiliasi dengan startup travel online besar Traveloka.


Saberwal yakin bisa membawa RedDoorz menjadi perusahaan dengan laporan keuangan positif di Indonesia pada akhir 2018. Namun ia menolak menyebutkan nominal pendapatan yang perusahaannya hasilkan saat ini.

Mulai mengembangkan jaringan hotel sendiri

Setelah berhasil meningkatkan okupansi hotel yang menjadi mitra, langkah RedDoorz selanjutnya adalah membangun jaringan hotel sendiri. Saat ini, mereka telah mempunyai sebuah hotel yang dikelola secara penuh di Singapura.

Hal ini membuat RedDoorz mempunyai kontrol lebih dan bisa memberikan tingkat kenyamanan yang sesuai, dengan harapan pengguna akan terus kembali ke hotel tersebut. Namun di sisi lain, mereka tentu membutuhkan waktu lama untuk mencari bangunan yang sesuai, dan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk menyewa bangunan tersebut.

Meski begitu, Saberwal menyatakan bahwa model bisnis baru ini mempunyai potensi untuk membawa keuntungan lebih besar bagi mereka.

read also

Nida Rooms (yang kini telah bernama Hotel Nida) juga mengikuti strategi yang sama. Lewat email, sang founder Kanesh Avili menyatakan pihaknya telah berhenti melakukan kerja sama dengan para mitra hotel sejak 28 Februari 2018 lalu. Kini mereka fokus mengembangkan jaringan hotel sendiri di bawah nama Hotel Nida.

Saat ini mereka baru mempunyai tiga hotel di Bangkok, dan satu hotel di Kuala Lumpur. Avili menegaskan bahwa mereka tidak meninggalkan pasar Indonesia, dan akan turut membangun jaringan hotelnya di tanah air mulai tahun 2019 nanti.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close