Opini

Renungan Mendagri Atas Kekecewaan Tertangkapnya Walikota Tegal

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Dalam kekecewaan atas penangkapan walikota Tegal oleh KPK,  Mendagri melontarkan perenungan tentang falsafah kehidupan masyarakat berbudaya jawa. Sebagai berikut dikutip legaleraindonesia.com;

Menginginkan sesuatu secara berlebihan akan menggendong lupa atau siapa pun yang terlalu besar “melik” (bahasa jawa berarti keinginan, pamrih) akan sesuatu, ia akan mudah melanggar tata aturan dan norma.

Melik berbeda dengan keinginan. Keinginan sama dengan angan-angan, cita-cita. Melik bersifat lebih keras, lebih parah, dan jika sudah terpaksa, orang yang memiliki melik akan melakukan cara apapun.

Tidak heran jika sudah sampai taraf melik, padahal sesuatu yang dimeliki tersebut sulit tercapai, orang yang bermelik akan menganggap tidak ada salahnya untuk mencuri. Bila terpaksa harus merebut, ia juga akan melakukannya.

Siapapun yang memiliki melik, pasti hatinya penuh dengan hawa nafsu. Nalar tidak berfungsi, akal buntu, rasa kemanusiaan juga lenyap. Dia hanya mengejar satu, yaitu cara agar yang sesuatu yang diinginkannya itu secepat mungkin diraih, jika sudah pada posisi demikian, tak mengherankan bila ia seolah-olah kerasukan kojur tenan.

Meminta juga tidak merasa malu, mencuri pun juga boleh. Segala cara dihalalkan. Toh, yang namanya aturan, batasan, kemanusiaan, hanyalah buatan manusia. Semua bisa diubah, dibuang, diinjak di bawah telapak kaki. Saat mencapai fase itu, aturan, batasan dan kemanusiaan tidak diperlukan karena yang perlu hanyalah bagaimana meliknya bisa tercapai. Alias kojuuuuuuur……..kojuuuuuurrr….[*]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami