Buku

Resensi: Natsir, Politik Santun Diantara Dua Rezim

BTN iklan

BERLIN, (LEI) – Muhammad Natsir adalah tokoh penting dalam pendirian Republik Indonesia. Beliau merupakan sosok artikulatif yang selalu memelihara kehalusan tutur kata dalam berpolitik.

Natsir adalah orang puritan, orangnya lurus, hidupnya tak berwarna-warni seperti cerita tonil (hal. 2). Penghinaan saat melanjutkan studi AMS di Bandung melecutkan dendam Natsir muda yang kemudian menjadi juara dalam baca sajak ‘De Banjir” (hal. 19).

Di Bandung, hidup Natsir berbelok karena perjumpaan dengan A. Hasan di kampung Keling. Keaktifan Natsir di organisasi islam membuatnya beasiswanya ke Belanda ditolak. Lalu ia mendirikan sekolah islam modern pertama di Indonesia.

Ini adalah proyek idealis, jauh dari kesan pesantren dan madrasah ia ingin menggabungkan dengan pelajaran agama islam, maka dia menggabungkan dengan beberapa ilmu pengetahuan dari sekolah Belanda dengan pelajaran agama islam. Sistem pendidikan islam itu ringkasnya ditujukan kepada manusia yang seimbang. Seimbang kecerdasan otaknya dan keimanannya kepada Allah dan Rasul, kata Natsir (hal. 28)

Natsir tak sepaham dengan Ir. Soekarno dalam soal cara memandang islam, ia justru memilih berjuang dengan cara menulis di majalah Pembela Islam. Kegigihannya dalam bersikap di tulisan ditunjukkan pula saat Soekarno di bui di Bandung. Ia maju membela Soekarno yang selama ini dikritiknya, sebelum Soekarno dibuang ke Ende.

Sikap hidup Natsir sangat sederhana, demikian juga saat menjadi Menteri Penerangan RI. Dengan jas bertambal, beliau mengatakan, “Cukupkan yang ada. Jangan cari yang tiada. Pandai-pandailah mensyukuri Nikmat.” (hal. 47). Demikian Natsir berpesan pada anak-anaknya.

Kedekatannya dengan sosok Soekarno di pemerintahan RIS karena pernah menjabat sebagai salah satu arsitek. Bung Besar dan Menteri kesayangan dalam buku ini diungkap, salah satunya adalah sisi kesederhanaan Natsir sejak menyandang jabatan sebagai Menteri dan setelah usai jabatan. Mobil ditinggal di istana, beliau memilih berjalan keluar membonceng sepeda dikendarai sopirnya.

Kembali ke rumah yang sederhana, dan kehidupan yang sederhana. Sungguh pantas dijadikan sebagai pejabat panutan.

Pada masa pemerintahan Soeharto, Natsir merasakan sebagai tahanan di RTM bersama dengan Chris Siner Key Temu dan Ali Sadikin, juga AM Fatwa dkk. setelah menandatangani Petisi 50.

Konsistensi Natsir dalam perpolitikan Indonesia juga terekam dalam buku ini. Sangat ringkas dan menyeluruh, tidak main-main riset yang dilakukan oleh Tim Tempo dan disajikan secara segar mengenai pribadi seorang Muhammad Natsir, menorehkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Resensi oleh Dr. St Laksanto Utomo, 30 Desember 2017 (LU_LEI)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami