EkonomiLiputanNasionalTekno

Revolusi Industri Ke-Empat di Depan Mata

BTN iklan

Jakarta, 29/1 (Antara) – Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) 2018 di Davos-Klosters, Swiss, membawa pesan penting mengenai Revolusi Industri Keempat (Industry 4.0) sebagai babak baru yang akan mengubah segala lini kehidupan manusia melalui perkembangan teknologi.

Transisi proses manufaktur memang bukan barang baru dalam peradaban manusia modern. Revolusi Industri Pertama, yang dimulai pada paruh kedua abad ke-18, terjadi ketika penggunaan tenaga uap untuk mekanisasi produksi.

Periode tersebut merupakan awal mula terciptanya proletariat industrial yang memecah masyarakat menjadi mereka yang kaya dan mereka yang melarat.

Kemudian, penggunaan mesin uap berkembang menjadi pemanfaatan tenaga listrik yang memungkinkan produksi massal. Hal tersebut memulai Revolusi Industri Kedua, yang berlangsung pada 1870 sampai dengan dimulainya Perang Dunia I.

Setelah itu, Revolusi Industri Ketiga muncul dengan mengedepankan perangkat elektronik dan teknologi informasi untuk otomatisasi produksi.

Seolah belum selesai dengan Revolusi Industri Ketiga, dunia kini sudah harus mulai meraba Revolusi Industri Keempat.

Terobosan teknologi penyokong Revolusi Industri Keempat antara lain kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), perkembangan robotika, “the Internet of Things”, realitas maya (virtual reality/VR), dan mesin cetak tiga dimensi.

Satu aspek tersebut pada kenyataannya mampu memengaruhi banyak hal, misalnya kecerdasan buatan yang dapat diaplikasikan untuk telepon seluler, otomotif, persenjataan, hingga robot seks.

WEF memandang setidaknya terdapat delapan isu kunci terkait “Industry 4.0”, yaitu disrupsi atau gangguan dalam pekerjaan; inovasi dan daya produksi; ketimpangan; cerdas kelola; keamanan dan konflik; disrupsi bisnis; kepaduan teknologi; serta isu etnis dan identitas.

Ekonom asal Jerman yang sekaligus pendiri WEF, Klaus Schwab, menyebutkan tiga alasan mengapa Revolusi Industri Keempat merupakan sebuah peristiwa yang berdiri sendiri dan bukan merupakan perpanjangan atau kelanjutan dari revolusi industri sebelumnya.

Tiga alasan tersebut yaitu kecepatan, ruang lingkup, dan dampaknya terhadap sistem yang sudah ada. Ia menyebutkan belum pernah ada kasus terdahulu yang menyamai kecepatan perubahan akibat Revolusi Industri Keempat.

Apabila dibandingkan dengan transformasi sebelumnya, “Industry 4.0” terjadi secara eksponensial atau meluas, mendisrupsi setiap industri di banyak negara, sekaligus menjanjikan transformasi di seluruh sistem produksi dan tata kelola.

Chief Executive Officer (CEO) Siemens AG, Joe Kaeser, dalam artikelnya di WEF menyebutkan Revolusi Industri Keempat sebagai perubahan peradaban manusia terbesar kendati saat ini prosesnya masih dalam tahap awal.

Ia mewanti-wanti agar revolusi tersebut dapat diarahkan dengan benar oleh semua pihak sehingga proses digitalisasi yang terjadi mampu memberikan kebaikan bagi populasi kelak.

Namun, menurut Kaeser, salah asuhan menyangkut “Industry 4.0” dapat membagi masyarakat menjadi mereka yang menang dan mereka yang kalah. Kerusuhan sosial dan anarki menjadi mungkin terjadi karena luruhnya perekat yang selama ini menyatukan masyarakat dan komunitas.

“Itulah mengapa Revolusi Industri Keempat bukan hanya tentang teknologi dan bisnis semata; ini juga menyangkut masyarakat. Kita manusia mendefinisikan algoritma yang mengatur mesin, dan bukan sebaliknya,” tulis Kaeser.

Mengubah pekerjaan Ekonom sekaligus mantan menteri perdagangan Mari Elka Pangestu mengamini Revolusi Industri Keempat mampu mengubah cara produksi dan pekerjaan.

Keberadaan “Industry 4.0” dinilainya mengubah rantai nilai perusahaan untuk menghasilkan produk atau jasa, memberikan altenatif berdagang melalui perdagangan elektronik (electronic commerce/e-commerce), menyediakan cara pembayaran baru melalui uang elektronik, serta memengaruhi pelayanan publik melalui “e-government”.

Selain itu, Mari memperkirakan 40-60 persen pekerjaan akan hilang di Asia Tenggara, kawasan yang masih memiliki keunggulan komparatif dalam jumlah demografi dan upah buruh.

“Ini memang mengerikan, tetapi kita tidak perlu takut. Kita perlu memikirkan bagaimana mengantisipasinya. Kendala utama adalah kurangnya kesadaran,” kata dia.

Pemerintah perlu memikirkan bagaimana mengantisipasi “Industry 4.0” dengan merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kepentigan nasional tanpa harus mengorbankan isu inovasi.

Mari berpendapat bahwa kunci untuk mengantisipasi “Industry 4.0” adalah dengan menyadari pentingnya isu produktivitas dan inovasi. Bagi Indonesia, hal tersebut berarti perlu perubahan pola pikir mengenai upah buruh rendah sebagai keunggulan komparatif.

“Perlu diperhatikan bahwa Asia Tenggara saat ini bukan hanya kawasan berbasis produksi saja tetapi juga sebagai ‘market’ yang berkembang. Hal inilah yang dapat memicu perubahan,” ujar dia.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Ari Kuncoro mengatakan pihaknya sedang mengkaji pekerjaan-pekerjaan yang akan terpengaruh perkembangan revolusi industri terbaru.

Ia memandang bahwa teknologi tidak bisa ditentang, maka hal yang kemudian bisa dilakukan adalah dengan mengalihkan (switching) pola kerja mengikuti perkembangan yang terjadi.

Ari mencontohkan salah satunya adalah pekerjaan akuntan mengaudit dokumen-dokumen dapat diotomatisasi menggunakan perangkat lunak. Oleh karena itu, kerja akuntan ke depan bisa beralih menjadi analis data bisnis.

Perkembangan tersebut juga akan mengancam industri yang padat karya di Indonesia, misalnya perakitan elektronik, perakitan kendaraan bermotor, atau pemetik di kebun kelapa sawit.

“UI sedang memikirkan ke arah situ, di mana pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya rutin dan monoton berpotensi digantikan robot. Jadi sekolah juga harus berubah dan memahami hal tersebut. Itu yang kita mesti hati-hati,” kata dia.

Program pemerintah mengenai vokasi, menurut Ari, perlu dikembangkan ke arah yang kemampuannya spesifik misalnya tukang masak, dan kegiatan rutin seperti perakitan harus mulai ditinggalkan.

Ia berpendapat teknologi robotik untuk mengganti kegiatan industri padat karya belum banyak diaplikasikan di Indonesia sendiri karena upah buruhnya belum terlalu mahal.

Namun, menurut Ari, tidak menutup kemungkinan bahwa dalam 15 tahun ke depan akan terdapat penemuan-penemuan yang semakin maju sehingga memungkinkan biaya aplikasi robot lebih murah.

b/a011

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three + eleven =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami