KesehatanLiputan

Rivaldo: DNA Akan Mampu Mengobati Lupus Secara Permanen

BTN iklan

JAKARTA, 16/2 (LEI) – Selama ini banyak dokter mengobati penyakit lupus masih terbatas pada pengobatan sementara, menggunakan “steroid” yakni jenis obat senyawa organik yang dapat menyembuhkan gejala penyakit lupus. Jenis obat itu hanya dapat membantu menurunkan efek penyakit sementara seperti mudah sakit karena banyak aktifitas, badan mudah capek, lesu dan lain sebagainya.

Jenis obat itu kurang maksimal karena pasien ada ketergantungan dan harus diminum selama ia masih mengidap penyakitnya. Kedepan, kata Aldo, masyarakat luas tak perlu khawatir dengan adanya penyakit lupus, karena sudah ditemukan cara pengobatan secara paten, yakni dengan menggunakan DNA dirinya atau DNA sejenis dari keluarga terdekatnya, kata Rivaldo Brahmantio Hardani, mahasiswa kedokteran tingkat akhir dari Univ Brawijaya Malang Jatim, kepada LEI, lewat saluran telpon dari Malang Jawa Timur, Minggu (16/2).

Rivaldo yang biasa dipanggil Aldo lebih rinci menyampaikan, metode Desensitisasi Imunoterapi Menggunakan Self-antigen dsDNA menghambat fungsi Sel B dan T Autoreaktif tanpa Efek Samping pada Mencit Model Lupus telah diteleti para dokter ahli dan dokter muda, seperti, Ade Siska1, dokter dari Universitas Brawijaya, Aviola Anggita Gunardi, dokter spesialis patologi, Joshua Tande Jayapratama1, Nadya Vira Saputri, Vigyan Dananjaya, Syaiful Arifin, Thoha Muhajir Albaar, Prof. Dr.dr. Kusworini, M.Kes, Sp.PK3, Prof. Dr. dr. Nurdiana, M.Kes, dan dr. Sri Poeranto, Sp.ParK5, semua dari Universitas Brawijaya Malang Jatim.

Rivaldo Brahmantio Hardani (Aldo)
Rivaldo Brahmantio Hardani (Aldo)

Aldo yang juga bagian dari tim peneliti itu lebih jauh menjelaskan, Lupus atau nama lainnya adalah Sistemik Lupus Eritemathosus, organ yang diserang seluruh tubuh karena dia sistemik tergantung sudah seberapa lanjut perjalanan penyakit individu tersebut, sementara penanggulangan dokter saat ini terkait lupus hanya sebatas memberikan obat obatan immunosupresan (penekan aktivitas atau respon imun) dan hanya bersifat simtomatis, jadi hanya sebatas mengobati gejala gejala yang timbul di pasien (misal: pasiennya batuk, dikasi obat batuk, pasiennya sesak dikasi sesak, pasiennya demam diberi obat deman) bukan mengobati inti penyakitnya.

Nah dengan ditemukan pengobatan menggunakan DNA itu bukan hanya sekedar mengobati secara simtomatis, tetapi lebih permanen, katanya, seraya menambahkan, penemuan ini pada awal pertengahan tahun lalu, telah diseminarkan dan dipresentasikan dihadapan para ahli atau dokter kesehatan anak se Asia Pasifik, dan hampir semua peserta dapat menyetujui pola penyembuhkan penyakit lupus dengan DNA-nya. Forumnya, kala itu Asia Pacific Academy of Pediatric Allergy, Respirology & Immunology (APAPARI), di Bali- Indonesia.

Menjawab pertanyaan, ia mengatakan, dsDNA ini sebenernya merupakan inti permasalahannya, dia dianggap benda asing oleh dirinya sendiri. Nah mengapa dianggap benda asing oleh dirinya, masih belum jelas sampi sekarang. Dunia kodekteran belum mampu mengungkap secara tuntas akan hal itu. tapi, bisa karena banyak faktor misal salah satu contoh: dsDNA yang di kenalin sama sistem imun sudah nempel sama agen dari luar tubuh misal protein bakteri, atau protein protein lainnya, jadi dianggap sama tubuh sendiri sebagai benda asing.

“Kita itu malah ingin memaparkan dsDNA ini untuk meningkatkan ambang batas sensitifitas tubuh. Prinsipnya sama seperti alergi, misal kita alergi sama udang kita suruh makan udang sedikit demi sedikit mulai dari 1 udang, 2 udang 3 udang sampai dia tidak ada manifestasi klinis alergi udang (bengkak, gatal, dsb) kalau bisa ditingkatkan jadi 4 udahg 5 udang dst sampai harapannya dia bisa makan udang dengan bebas,” katanya.

Hal itu sama seperti lupus kita paparkan dengan dsDNA yang sudah dianggap sebagai benda asing oleh tubuhnya sendiri, mulai dari dosiss kecil sampai besar secara terus menerus sampai ambang batas sensitifitas terhadap dsDNA naik sehingga tidak timbul manifestasi klinis lupus.

Intinya, para dokter dari Univ Brawijaya, prihatin terhadap orang yang mempunyai penyakit lupus seolah tidak ada obat yang permanen untuk mengatasinya. “Jadi kita mencoba menemukan pengobatan terbaru untuk lupus, karena lupus sendiri pengobatannya saat ini hanya dengan steroid.

Ia juga menyarankan agar DNA yg dipakai adalah DNA diri sendiri, (AutoDNA) atau bisa menggunakan DNA orang lain tapi harus ada Ikatan keluarga. Karena jika tidak ada ikatan keluarga nanti malah dikira sama tubuh orang itu benda asing (karena susunan molekular DNA orang berbeda beda, sedangkan kalau dari keluarga setidaknya mirip)

**Dew

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami