HEADLINESOpini

Sagu Sebagai Kekuatan Ekonomi Masyakat Papua

Oleh: Dr. St. Laksanto Utomo, S.H., M.Hum.

BTN iklan

Bagi masyarakat Papua sagu  adalah  makanan pokok masyarakat Papua, bahwa salah satu representasi budaya masyarakat ( kearifan lokal ) Papua yaitu pohon sagu.

Sifat dan sikap dasar manusia salah satunya dipengaruhi oleh jenis makanan utama yang dikonsumsinya. Bagi masyarakat Papua, Sagu adalah makanan pokok dan khas yang sudah turun temurun sejak nenek moyang sejak mengenal cocok tanam.

Sagu mempunyai banyak manfaat dan kegunaan bagi masyarakat Papua dan memmpunyai banyak kegunaan bagi keberlangsungan masyarakatnya (sustainable development). Pohon Sagu banyak manfaat, batang , daun pelepah serta ampas sagu semua sangat bermanfaat , batang untuk lantai dan dinding, lalu daun untuk atap rumah, dan ampas sagu untuk untuk pupuk.

Manfaat pohon sagu dari daun hingga akar

Tidak jauh dari ibukota Jayapura sekitar 35 km, terdapat hutan Sagu letak persisnya di Desa Yaboi. Dari Sentani menyebrang dengan boat 15 menit. Dengan diantar Samuel, kami melakukan perjalanan melihat secara langsung tanaman Sagu.

Perjalanan tim sedang tidak beruntung karena cuaca sekitar Sentani diguyur hujan sejak kedatangan hingga beberapa hari dilapangan, dengan diantar Om Bob dan Pak Samuel kami menelusuri hutan sagu sampai ke pelosok,  masih terlihat trauma masyarakat Yaboi, saat kejadian banjir bandang beberapa waktu lalu yang menewaskan hampir 150 jiwa hingga  saat ini masih banyak yang belum ditemukan. Bahkan   masih ada  penduduk yang mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Pohon Sagu mempunyai fungsi sangat melekat dengan kehidupan masyarakat Papua pada umumnya dan masyarakat desa Yoboi pada umumnya. Data dari BPS Jayapura, Papua, hutan sagu di Yoboi sekitar 1.650 ha saat ini sedang di garap masyarakat sekitar sekitar 300 Ha. Hutan sagu di sekitar Jayapura banyak tumbuh pohon pohon sagu. Yang dimaksud hutan sagu adalah daerah daerah yang terdapat banyak tanaman sagu. Seperti hutan sagu di pinggiran danau sentani , Waibu dan daerah lain.

Hutan sagu sama juga sebutannya untuk Dusun Sagu. Sebagai makanan pokok masyarakat Papua dan Maluku sagu mengandung karbohidrat tetapi tidak memiliki kadar gula yang berbahaya bagi tubuh, kandungan karbohidrat mirip dengan beras merah, jagung, ubi jalar dan gandum. Dari sisi manfaat sagu memiliki banyak manfaat bagi kelancaran darah dan untuk gula darah.

Proses pembuatan Sagu di desa Yaboi Sentani Papua

Data dari BPS Papua menyebutkan pada tahun 2018 produksi padi di Papua Januari sampai Desember 2018 sebesar 130.718 ton GKG (gabah kering giling) dengan luas lahan 31.133 ha (sumber: Kumparan 6 Nopember 2018), penghasil beras tertinggi di Kabupaten Merauke, kota Jayapura dan Kabupaten Nabire.

Bandingkan dengan kebutuhan pokok Sagu di Papua

Menurut Data BPS Provinsi Papua tahun 2018, Sagu menjadi tanaman perkebunan luas lahan tertinggi yaitu 35.351 ha sehingga tanaman ini juga menunjukkan hasil produksi tertinggi yaitu sebesar 28.340 ton. Sedangkan data BPS Kabupaten Jayapura, pada tahun 2018 luas lahan sagu mencapai 4.402 ha dengan hasil sebanyak 7.483,41 ton. Distrik penghasil sagu terbesar adalah distrik Ebungfau dan Sentani yaitu masing-masing sebesar 1.700 ton dan 1.471,01 ton. Sementara distrik Waibu memberikan sumbangan sebesar 1.187,03 ton.

Bagi masyarakat yang tinggal di pinggiran Danau Sentani, tiada hari tanpa mengkonsumsi papeda yang terbuat dari pati sagu. Namun, bagi mereka, tanaman sagu lebih dari sekadar urusan perut, tapi juga soal identitas, pembagian wilayah kesukuan, upaya menjaga lingkungan, dan budaya matrimonial. Kearifan lokal turun temurun ini masih dipraktikkan hingga sekarang, meskipun sudah mulai tergerus zaman.

Warga Yoboy menyebut lokasi tumbuh sagu ini sebagai ‘dusun’. Tiap-tiap suku memiliki dusun masing-masing yang dibagi secara adat. Di Yoboy sendiri terdapat lima suku dengan lima marga, yaitu Tokoro, Wally, Yom, Sokoy, dan Depondoye.

Dukutip dari Republika.co.id potensi sagu di Indonesia dapat meningkatkan perekonomian Negara, karena Indonesia merupakan potensi sagu terbesar di dunia, total lahan sagu di dunia, hampir 5 juta hektar ada di tanah Papua, namun potensi sagu belum mendapatkan tempat sebagai tuan rumah di negara sendiri.

Peran Sagu bagi ekonomi masyarakat Yoboi sangatlah penting, salah satu yang kami wawancara pada hari Jumat pada pertemuan ke 2 dengan  tim, menceritakan bagaimana sagu berperan penting menopang ekonomi keluarga.

Om Bob berputra 4, semua bisa menikmati bangku sekolah tinggi , yang nomer satu sekarang di Densus 88 Kelapa Dua, nomer 2 lulus STPDN sekarang di Pemda Jayapura , kedua putrinya lulus perguruan tinggi sekarang sebagai Dosen. Semua dari Sagu yang menjadi tulang punggung penopang kehidupan rumah tangga, dengan sagu memberdayakan serta memanfaatkan sesuai kearifan lokal, sagu dapat mencukupi bahkan lebih.

Sebetulnya Om Bob juga memamerkan bagan peliharaan ikan mujahir di danau Sentani, “Suatu ketika entah kapan? Pernah panen ikan mujahir sampai 23 juta rupiah, kami tidak membawa kekota karena para pedagang menghampiri ke dusun Yaboi.”

Sebuah ketekunan dan kerja keras Om Bob beserta keluarga dapat memberikan inspirasi kepada masyarakat bahwa pohon sagu menjadi punggung kebutuhan ekonomi.

Bagaimana mempertahankan pohon sagu agar tetap lestari sesuai kearifan lokcal? Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura pada sekitar tahun 2013 mengeluarkan Perda No. 8 tahun 2016  tentang Kampung Adat yang mempunyai tujuan menguatkan peran adat dalam pembangunan dan pemerintah daerah, melindungi dan melestarikan adat istiadat yang diwariskan turun temurun.

Dengan keluarnya perda dari kabupaten diharapkan masyarakat bisa berperan serta dalam pembangunan juga termasuk keterlibatan masyarakat adat menjaga kelestarian sesuai kearifan lokal dalam memanfaatkan hutan sagu, termasuk menjaga tanah ulayat adat, juga tanah perseorangan yang terdapat hutan sagu tidak dilepas atau dijual kepada pihak sehingga merubah fungsi dari sagu diperuntukkan yang lain.

Petisi kepada Gubernur Papua dan Papua Barat, pada situs change.org oleh Charles Toto per tanggal 6 Mei 2019 jam 22.00 wib telah di tanda tangani 49.747 orang dimana dalam Petisi tersebut dengan jelas  meminta Gubernur Papua dan Papua Barat untuk segera membuat Perda Gubernur, untuk segera bertindak membuat PerGub yang berisi segera membuat Rancangan Tata Ruang Pemda yang melindungi keberadaan hutan sagu,  pada petisi mengungkapkan rasa keprihatinan atas pembabatan hutan sagu di Merauke dan Jayapura.

Di daerah Merauke asmat terjadi bencana kelaparan ditengah lahan sagu, karena masyarakat tergantung dengan RASKIN. Yang kedua terjadinya bencana banjir di Sentani Jayapura memakan banyak korban, karena banyak berobah fungsi hutan sagu menjadi perumahan, dan jalan aspal.

Air dari pegunungan Cyclop langsung kedanau penyerapan dari hutan sagu sangat berkurang mengakibatkan air danau meluap menjadikan banjir. Penanggulangan atas berkurangnya hutan sagu harus menjadi prioritas utama bagi Gubernur Papua dan Papua Barat jangan menunggu akibat pembabatan hutan sagu membawa korban lebih banyak terutama kekuatan ekonomi masy adat papua. Semoga?

*) Penulis adalah Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Adat Indonesia dan pengajar Fakultas Hukum di Usahid Jakarta

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami