Opini

Sang Garuda Plat Merah yang Merugi Rp 3,7 Triliun

BTN iklan

Opini oleh Hermansyah (Direktur Riset dan Program LSHI)

JAKARTA, (LEI) – Seperti dilansir dalam CNN Business Indonesia Live pagi kemarin, Garuda Indonesia Airways (GIA) menempati posisi BUMN merugi nomor 1 dengan kerugian mencapai Rp. 3,7 Triliyun. Kerugian maskapai pelat merah yang signifikan ini menimbulkan tanya bagi publik. Apakah faktor yang menyebabkan kerugian yang luar biasa ini ?

Secara normatif, dalam meresponse hal tersebut Menteri BUMN, Rini Soemarno, mengaku tengah menganalisa lebih dalam penyebab kerugian maskapai pelat merah tersebut.

Sejatinya sebagai Maskapai BUMN yang bergengsi dan telah go public, kerugian yang signifikan ini tidak perlu terjadi jika GIA menerapkan Good Corporate Governance (GCG) dan juga menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential principle) yang dikenal dalam hukum perbankan. Sebab dalam ulasan CNN Business Indonesia salah satu faktor penyebab kerugian GIA adalah kesalahan manajemen. Ini dapat diduga sebagai akibat belum ada komitmen yang tinggi dan konsisten dalam menerapkan aspek GCG (transparancy, fairness,  accountability, dan responsibility) dan asas kehati-hatian dalam menjalankan bisnis.

Perlu diungkap secara transparan dan total semua simpul dan faktor yang menyebabkan kerugian tersebut. Logikanya tidak mungkin kerugian dengan jumlah yang signifikan itu terjadi tanpa adanya kesalahan. Apakah memang akibat risiko bisnis atau ada kesalahan tata kelola oleh manajemen.

Atau adakah korelasi antara kerugian ini dengan temuan yang diperoleh KPK terkait korupsi pengadaan pesawat atau mesin pesawat yang saat ini sedang berproses di KPK ? Atau akibat adanya perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme ?

Untuk itu KPK perlu melakukan audit investigatif secara serius,  dan KPK perlu mengaitkan kerugian yang dialami GIA saat ini dengan kasus yang saat sedang ditanganinya. Melalui audit investigatif tentu akan terungkap semua simpul dan faktor yang menyebabkan kerugian negara dan kerugian GIA.

Sehingga terungkap kemana saja aliran uang dan siapa saja yang menerima keuntungan atas kerugian GIA tersebut. Bukankah GIA didirikan bukan untuk kepentingan orang persorangan atau kelompok, tetapi keberadaannya untuk kepentingan bangsa.

Berkaitan dengan itu, ada 2 pilihan bagi  Menteri BUMN yaitu melakukan recovery secara total disertai dengan restrukturisasi manajemen GIA tanpa terpengaruh kepentingan politik, atau  pengelolaan GIA diserahkan saja kepada pihak swasta agar terkelola secara benar dan profesional. Ini penting untuk melindungi kepentingan semua pemangku kepentingan.

Akhirnya kita tunggu gebrakan KPK dalam mengungkap dan menuntaskan kasus GIA, dan juga gebrakan Menteri BUMN dalam menyikapi kondisi GIA yang hampir collaps tersebut bukan hanya secara normatif tetapi lebih revolusioner dalam membenahi GIA.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami