Hukum

Sariwangi Lawan Permohonan Bank Panin

BTN iklan

JAKARTA/Lei —PT Sariwangi Agricultural Estate Agency menganggap permohonan pembatalan perdamaian yang diajukan oleh PT Bank Panin Tbk. prematur dan kurang pihak.

Karena itu, kubu Sariwangi yakin majelis hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat akan menolak permohonan itu dan menghindarkan perusahaan dari status pailit.

Kuasa hukum Sariwangi Marsel Rajasa mengatakan perkara dengan No. 13/Pdt.Sus-Pembatalan Perdamaian/2016/PN.Jkt.Pst. tersebut diajukan sejak 24 Oktober 2016. Seharusnya, permohonan baru bisa diajukan pada 14 November 2016.

“Dalam perjanjian perdamaian yang sudah homologasi, terdapat kelonggaran yang diberikan kepada termohon sebagai kesempatan untuk membayar,” kata Marsel, Selasa (29/11).

Dia menjelaskan termohon dapat mengakumulasikan pembayaran bunga selama 12 bulan sejak tanggal homologasi, yakni 9 Oktober 2015. Klausul tersebut tercantum dalam perjanjian perdamaian.

Selain itu pada poin 316 angka 4 disebutkan, setelah kreditur menyatakan adanya pelanggaran debitur memiliki waktu kelonggaran 30 hari untuk memperbaiki kesalahan itu. Bank Panin selaku pemohon mengirimkan notifikasi adanya kelalaian pembayaran bunga pada14 Oktober 2016.

Termohon juga menilai permohonan yang diajukan Bank Panin kekurangan pihak (plurium litis consortium) karena hanya menuntut Sariwangi. Adapun, dalam perjanjian perdamaian No. 38/Pdt.Sus-PKPU/2015/PN.Jkt.Pst juga mengikutsertakan PT MP Indorub Sumber Wadung sebagai debitur.

Pada 30 April 2015, PT Bank Commonwealth mengajukan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) terhadap Indorub dan Sariwangi. Sariwangi merupakan jaminan perusahaan (corporate guarantee) dari Indorub atas fasilitas pinjaman Bank Commonwealth.

“Tidak relevan jika permohonan pembatalan hanya ditujukan kepada Sariwangi sedangkan ada Indorub yang tertulis di situ,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama kuasa hukum pemohon Sabar M. Simamora bersikukuh permohonannya tidak prematur dan memberikan banyak kelonggaran. Pihaknya mengklaim telah mengirimkan sejumlah surat peringatan perihal penagihan.

“Tidak prematur karena kami sudah menunggu 12 bulan untuk mengajukan pembatalan ini,” kata Sabar.

Menurutnya, permohonan pembatalan diajukan karena adanya suatu kelalaian atau cidera janji. Sikap debitur yang lalai dalam membayar bunga diklaim telah masuk kategori wanprestasi.

Sabar membantah mengenai jawaban Sariwangi mengenai kekurangan pihak. Bank Panin merasa tidak mempunyai hubungan hukum dengan Indorub karena hanya memberikan fasilitas pinjaman kepada Sariwangi. “Debitur kami adalah Sariwangi, bukan Indorub,” ujarnya.

Dalam permohonannya, debitur diklaim telah berjanji melakukan pembayaran dengan skema berkelanjutan dengan masa jeda (grace period) selama dua tahun setelah homologasi. Menurut pemohon, masa jeda tersebut hanya berlaku terhadap utang pokok.

Utang bunga diminta harus tetap dibayarkan sejak homologasi. Belum adanya pembayaran bunga menjadikan tagihan tersebut jatuh waktu dan dapat ditagih.

Bank Panin menghitung utang yang belum terbayarkan selama 13 bulan tersebut mencapai Rp1,3 miliar. Bank sudah memberikan surat peringatan kepada para debitur, tetapi belum mendapatkan respons positif.

Sariwangi dinyatakan dalam restrukturisasi utang sejak 19 Mei 2015. Saat itu, Sariwangi hanya merupakan penjamin atas pinjaman dari anak usahanya, Indorub.

Perlihatkan Lebih

9 Comments

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami