Politik

Seberapa Besarkah Masyarakat Indonesia Percaya PKI Bangkit?

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Pada September 2017 ini, salah satu lembaga riset Indonesia, Saiful Munjani Research & Consulting merilis hasil temuan surveinya yang mengangkat tajuk “Isu Kebangkitan PKI, Sebuah Penilaian Publik Nasional”.

Riset ini dilatar belakangi karena Partai Komunis Indonesia (PKI) punya sejarah di Indonesia. Pada tahu 1955, PKI sempat mendapat dukungan 16% secara nasional, yang menjadikannya partai 4 terbesar setelah PNI, Masjumi, dan Partai NU. PKI pada zamannya dipandang memiliki kekuatan yang signifikan.

Namun pada awal Orde Baru, semasa pemerintahan Presiden Soeharto melarang PKI (tahun 1966) dengan dikukuhkannya TAP MPRS No. 25 / 1966. Sejak saat itu kekuatan politik PKI hilang.

Bersamaan dengan runtuhnya PKI, pada akhir abad 20 kekuatan komunis diberbagai belahan dunia runtuh. Pada masa kini mungkin hanya Korea Utara saja yang masih menerapkan sistem Komunis, akibatnya Korea Utara menjadi salah satu negara termiskin di dunia.

Masuk ke era reformasi ketika kebebasan politik mulai tumbuh, rakyat dengan bebas membentuk partai, tak ketinggalan yang berfaham Komunis. tapi tak satu pun partai yang dekat dengan faham Komunis mendapat dukungan rakyat secara signifikan. Ini menandakan bahwa rakyat Indonesia tak tertarik dengan Komunisme.

Namun terkadang ada segelintir orang yang memunculkan opini bahwa PKI masih hidup dan bisa bangkit lagi untuk mengancam keberadaan negara yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945.

Survei opini publik nasional ini diadakan untuk melihat seberapa besar masyarakat nasional merasa terancam dengan isu PKI, juga melihat seberapa jauh publik menganggap isu ini penting di era demokrasi.

Metodologi

Populasi survei yang diselenggarakan Saiful Munjani ini adalah seluruh warga Indonesia yang sudah punya hak pilih dalam pemilihan umum (17 tahun keatas maupun sudah menikah). Dari keseluruhan populasi ini diambil sampel dengan metode multistage random sampling sebesar 1220 responden.

Response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) sebesar 1057 atau 87%. Sebanyak 1057 responden ini yang dianalisis. Margin of error rata-rata dari survei dengan ukuran sampel tersebut sebesar ± 3,1% pada tingkat kepercayaan 95% (dengan asumsi simple random sampling).

Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20% dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti.

Waktu wawancara lapangan diadakan pada 3 – 10 September 2017.

Flowchat penarikan sampel
Flowchat penarikan sampel (foto: Saiful Mujani)
Profil demografi responden
Profil demografi responden (foto: Saiful Mujani)
Profil demografi responden 2
Profil demografi responden bag.2 (foto: Saiful Mujani)

Arah Jalan Negara Indonesia

Jumlah masyarakat nasional yang merasa bahwa arah negara Indonesia ini berjalan ke arah yang benar sebanyak 81%, ke arah yang salah 10%, sedangkan yang menjawab tidak tahu sebanyak 9%.

Arah perjalanan bangsa
(foto: Saiful Mujani)

Warga yang menilai bangsa Indonesia sedang berjalan ke arah yang benar, stabil dalam satu tahun terakhir, dan cenderung menguat dalam tiga tahun terakhir.

Kemudian dilanjutkan dengan survei kepuasan terhadap jalannya demokrasi, sebanyak 70,7% warga merasa cukup dan sangat puas terhadap jalannya demokrasi. Sisanya menjawab kurang, tidak puas, dan tidak menjawab sebanyak 29,3%. Tingkat kepuasan warga makin meningkat seiring berjalannya waktu.

sistem pemerintahan paling sesuai
(foto: Saiful Mujani)

Warga kebanyakan menilai demokrasi adalah sistem pemerintahan terbaik untuk negara Indonesia sebanyak 72%, jumlah ini terus menguat dalam lima tahun terakhir.

Lebih lanjut, temuan berdasarkan hasil survei ini menunjukkan evaluasi dasar atas kondisi bangsa harus terkait dengan arah bangsa ini, apakah bangsa sekarang sedang berjalan menuju arah yang benar atau salah. Apapun yang terjadi, bila warga nasional menilai bangsa ini sedang berjalan ke arah yang benar, maka keberadaan bangsa ini legitimate, dan ini merupakan modal politik massa yang amat penting.

Sentimen warga bahwa negara ini berjalan ke arah yang benar sangat tinggi dan stabil dalam satu tahun terakhir, dan cenderung menguat dalam tiga tahun terakhir.

Survei di atas menunjukkan bahwa warga pada umumnya merasa puas dengan jalannya demokrasi sebagai sistem pemerintahan saat ini. Berarti modal politik dasar dalam lima tahun terakhir sangat bagus.

Ancaman dari kekuatan tertentu

Hasil survei membuktikan bahwa secara umum warga merasa sangat atau cukup aman dari berbagai ancaman bagi keamanan sebesar 88,8%. Sedangkan sisanya merasa tidak aman dan tidak menjawab sama sekali.

Kemudian survei mengarah kepada isu PKI, dari seluruh warga ada 86,8% yang tidak percaya kepada isu kebangkitan PKI, tapi masih ada yang setuju sebanyak 12,6%. Dari masyarakat yang menjawab setuju ini, sebanyak 39,9% (5% dari total populasi ) merasa bahwa kebangkitan PKI sudah menjadi ancaman negara.

Tapi mewujudkan keadilan sosial tidak dianggap sebagai penyebab isu kebangkitan PKI.

Presiden Jokowi terkait dengan PKI

Sudah tiga tahun lamanya Presiden Jokowi menjabat sebagai presiden, namun semakin lama semakin banyak pendapat masyarakat tentangnya. Salah satu diantaranya yang paling santer terdengar adalah “Presiden Jokowi adalah orang Partai Komunis Indonesia (PKI)”.

Survei Jokowi antek PKI
(foto: Saiful Mujani)

Hasil temuan dari survei ini menegaskan bahwa 75,1% masyarakat nasional tidak setuju dengan pendapat tersebut, dan 5,1% setuju. Sisanya tidak menjawab,

Massa Pemilih Partai yang Percaya pada Isu Kebangkitan PKI

Survei berdasarkan pemilih partai
(foto: Saiful Mujani)
Survei pemilih capres 2014
(foto: Saiful Mujani)
Isu PKI dari media massa
(foto: Saiful Mujani)

Isu Kebangkitan PKI dilihat dari sisi demografi penduduk

Berikut adalah hasil survei berdasarkan demografi penduduk, ini menunjukkan tingkat pendidikan, usia, jenis kelamin yang percaya kepada isu tersebut:

Survei demografi penduduk 2
(foto: Saiful Mujani)
Survei demografi penduduk
(foto: Saiful Mujani)
Survei demografi penduduk 3
(foto: Saiful Mujani)
Survei demografi penduduk 4
(foto: Saiful Mujani)

Dari hasil diatas, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Hampir semua warga tak setuju sekarang sedang terjadi kebangkitan PKI di tanah air 86,8%
  2. Warga yang menyatakan setuju bahwa sekarang sedang terjadi kebangkitan PKI hanya 12,6%
  3. Yang yakin bahwa kebangkitan PKI itu telah mengancam negara hanya sekitar 5% dari populasi dewasa nasional
  4. Warga yang setuju Jokowi terkait dengan PKI sebesar 5,1%, tak setuju 75,1%, dan tidak tahun 19,9%
  5. Opini masyarakat tentang adanya kebangkitan PKI cukup beririsan dengan pendukung Prabowo, dan dengan beberapa pendukung parpol, terutama PKS dan Gerindra.
  6. Opini tentang kebangkitan PKI menjadi tren di kalangan muda, perkotaan, terpelajar, dan sejumlah daerah tertentu, terutama Banten, Sumatera, dan Jawa Barat. Semua demografi ini beririsan dengan pendukung Prabowo.
  7. Terjadi sedikit keanehan, seharusnya yang lebih mengenal dan tahu bahwa sekarang sedang terjadi kebangkitan PKI lebih banyak di kalangan warga lebih senior sebab mereka lebih dekat masanya dengan era PKI hadir di dunia politik nasional (1945-1966) ketimbang warga yang lebih junior (lahir dimasa reformasi).
  8. Dapat diartikan bahwa opini kebangkitan PKI pada poin nomor 6 dan 7 bahwa opini tersebut tidak terjadi secara alamiah, melainkan hasil mobilisasi kekuatan politik tertentu, terutama pendukung Prabowo, mesin politik Gerindra dan PKS.
  9. Gejala hasil mobilisasi tersebut terlihat pada warga yang cenderung punya akses ke media massa, terutama media sosial.

Secara politik, isu kebangkitan PKI merupakan isu yang tidak penting karena tidak dirasakan kehadirannya oleh hampir semua warga. Ada indikasi bahwa isu PKI hanya dijadikan bahan bakar untuk memperlemah dukungan Presiden Jokowi, namun nampaknya itu bukan pilihan isu strategis yang berpengaruh.

*Tulisan ini merupakan hasil temuan survei oleh Saiful-Mujani Research and Consulting September 2017

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close