BTN iklan
HukumLiputan

Sebuah Media Asing Tuduh SBY Terlibat Konspirasi Pencucian Negara Sebesar Rp 177 Triliun

JAKARTA, (LEI) – Bermula dari tulisan sebuah media berita internasional, Asia Sentinel, mengunggah artikel berjudul ”Indonesia’s SBY Government: Vast Criminal Conspiracy” (Pemerintahan SBY: Konspirasi Kriminal Terbesar), pada Senin (11/9/2018).

Artikel ini ditulis sendiri oleh pendiri Asia Sentinel, John Berthelsen. Di dalam tulisannya terdapat cuplikan hasil investigasi kasus di balik Bank Mutiara (Century) yang akhirnya jatuh ke tangan J Trust.

Hasil investigasi itu mengungkap adanya konspirasi pencurian uang negara hingga USD 12 miliar dan mencucinya melalui perbankan internasional.

Sebanyak 30 pejabat dituduh terlibat dalam skema tersebut, termasuk SBY. Uang yang jika dikurs-kan kini setara Rp 177 triliun itu didapatkan dari masyarakat pembayar pajak.

Laporan investigasi tersebut merupakan analisis forensik yang dikenal sebagai bukti, dan dikompilasi oleh satuan tugas penyidik dan pengacara di Indonesia, London, Thailand, Singapura, Jepang, dan sejumlah negara lain.

Tak hanya itu, laporan investigasi itu juga dilengkapi 80 halaman afidavit alias keterangan di bawah sumpah, yang menyeret keterlibatan sejumlah lembaga keuangan internasional termasuk Nomura, Standard Chartered Bank, dan United Overseas Bank (UOB) Singapura.

Pada berkas gugatan Weston International Capital Ltd (WICL) , disebutkan Bank Century menjadi awal konspirasi kriminal untuk merampok uang wajib pajak di Indonesia. Menurut pihak WICL , terdapat konspirasi atau rekayasa saat pemerintah menetapkan Century sebagai bank yang gagal pada tahun 2008.

Setelah dinyatakan bangkrut pada tahun 2008, Bank Century diakuisisi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan melakukan rekapitalisasi serta mengubah namanya menjadi Bank Mutiara.

Dalam hasil investigasi yang termaktub dalam berkas gugatan Weston Capital Internasional, kasus tersebut berlanjut saat J Trust—bank besar asal Jepang—secara misterius menawarkan dana USD 989,1 juta atau setara Rp 14 triliun pada 2013 untuk membeli Bank Mutiara.

Persoalannya, sumber pendanaan dalam penawaran dari J Trust tersebut tak pernah teridentifikasi. Meski begitu, J Trust mampu mengakuisisi Bank Mutiara tahun 2014.

WICL Merasa Tertipu

WICL menggugat bankir, komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan petinggi J-Trust, perusahaan investasi asal Jepang yang membeli Bank Mutiara pada 2014 lalu. Gugatan didaftarkan di pengadilan tinggi Mauritius pada 29 September 2017.

Weston menggugat LPS senilai 410 juta dolar AS atau sekitar Rp 5,535 triliun (kurs Rp 13.500). Gugatan dilayangkan karena Weston merasa tertipu dengan penjualan Bank Mutiara, yang sebelumnya bernama Bank Century.

Media Asia Sentinel, pada November 2017, menuliskan bahwa WICL tuding penjualan Bank Mutiara (eks Bank Century) sebagai transaksi fiktif dan menyebut adanya konspirasi yang melibatkan pejabat sektor keuangan di Indonesia untuk melarikan dana masyarakat.

WICL mengklaim bahwa mereka ditipu pada tiga tahun lalu melalui penjualan palsu Bank Mutiara kepada J-Trust, bersamaan dengan berbagai kasus pencucian uang, penyuapan, dan pencurian.

WICL telah memburu uang tersebut melalui pengadilan dari Mauritius ke Singapura, lalu ke Swiss dan sekarang ke Siprus dan Thailand. Dia menganggap pengadilan di Indonesia telah mengabaikan daftar panjang kreditur internasional yang berusaha melakukan penilaian hukum internasional terhadap pelanggaran korporasi di Indonesia.

Namun juru bicara Weston berpendapat bahwa sudah waktunya bagi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) selaku penguasa Bank Mutiara saat itu, untuk menyelesaikan utang-utang ini dan melaporkan sendiri tuduhan ini ke regulator global.

“Untuk menghadapi pengawasan anti-pencucian uang dan embargo secara intensif,” ujar juru bicara WICL.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close