Hukum

Seleksi Akhir CHA dan Calon Hakim Adhoc Tipikor

BTN iklan

Jakarta, LEI/Antara -Setelah menunggu lebih dari satu bulan lamanya, KY akhirnya mengumumkan secara resmi meluluskan 19 orang calon hakim agung dan calon hakim adhoc tindak pidana korupsi (Tipikor) di Mahkamah Agung dari seleksi kesehatan dan kepribadian.

Ketua Bidang Rekrutmen Hakim KY Maradaman Harahap menjelaskan dari 19 orang yang lolos, 15 orang di antaranya adalah CHA sementara empat orang sisanya adalah calon hakim adhoc Tipikor di MA.

Lebih lanjut Maradaman memaparkan, dari 15 orang CHA yang dinyatakan lolos, tiga orang CHA berasal dari kamar pidana, lima orang dari kamar perdata, tiga orang dari kamar agama, dua orang dari kamar tata usaha negara, dan dua orang dari kamar militer.

Para CHA dan calon hakim ad hoc tipikor di MA yang dinyatakan lulus seleksi tersebut kemudian menjalani seleksi tahap keempat yaitu wawancara terbuka.

CHA dan calon hakim ad hoc Tipikor yang diloloskan KY pada seleksi ini akan disampaikan kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan.

Wawancara merupakan tahapan akhir uji kelayakan yang dilakukan oleh Anggota Komisi Yudisial dan Panel Ahli yang terdiri atas mantan hakim agung, pakar dan/atau negarawan.

Beberapa nama yang terlibat dalam panel ahli, di antaranya: Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ, dan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA yang merupakan negarawan.

Sementara mantan hakim agung, yaitu: H. Parman Soeparman (Pidana), Harifin A. Tumpa (Perdata), Hary Djatmiko (Tata Usaha Negara), Iskandar Kamil (Pidana Militer), H. Ahmad Kamil (Agama), dan Djoko Sarwoko (Tipikor).

“Tim pakar ini akan disesuaikan dengan masing-masing kamar. Misalkan khusus untuk kamar pidana akan diuji oleh pakar dalam bidang pidana, begitupula dengan kamar lainnya,” jelas Maradaman.

Aspek visi, misi, integritas, penguasaan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH), kualitas dan penguasaan materi atau substansi ilmu hukum, serta hukum acara bagian penting dalam pertimbangan kelulusan calon pada seleksi tahap ini.

“Hal lain yang dinilai adalah bagaimana kemampuan teknis dan proses yudisial serta pengelolaan yudisial dari peserta seleksi wawancara,” ujar juru bicara KY Farid Wajdi.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, proses wawancara untuk para CHA dan calon hakim adhoc Tipikor di MA ini berlangsung secara terbuka dan disaksikan publik, baik LSM maupun media massa secara langsung.

“Harapannya, publik dapat memantau jalannya proses wawancara,” ujar Farid.

Pendapat CHA Dalam sesi wawancara, beberapa CHA mengaku setuju agar wewenang KY diperkuat. Contohnya adalah CHA dari kamar Militer, Tiarsen Buaton, yang menilai bahwa salah satu solusi untuk mencegah terjadinya suap menyuap di dunia peradilan adalah pengawasan yang menyeluruh.

“Pengawasan eksternal dari KY diperlukan, saya berharap ada penguatan untuk KY sehingga pengawansan tidak hanya terbatas pada hakim namun termasuk panitera,” ujar Tiarsen.

Menurut Tiarsen, panitera adalah sosok yang tidak pernah lepas dari hakim. Pengawasan terhadap panitera juga diperlukan sebab pengawasan oleh hakim pengawas belum maksimal.

Hal serupa juga dikatakan oleh CHA Firdaus Muhammad Arwan dari kamar Agama menyebutkan bahwa pengawasan MA sudah baik namun akan lebih maksimal bila dibantu oleh KY karena keterbatasan anggota pengawas.

“Menurut saya, pengawasan oleh KY tidak akan mengganggu independensi hakim, malah sangat membantu agar hakim lebih mengontrol tingkah lakunya, tinggal regulasi saja diperjelas,” kata Firdaus.

Selain itu, ada pula CHA yang menjawab dan mengemukakan pendapatnya terkait dengan penyelesaian perkara pada tingkat kasasi.

CHA dari kamar Militer Hidayat Manao misalnya, mengusulkan untuk mempersingkat prosesnya menjadi enam bulan saja, salah satunya dengan segera mengirimkan hasil putusan sehingga memutus mata rantai kemungkinan adanya oknum yang bermain curang di dalamnya.

“Permasalahan utama yang menyebabkan banyak pegawai di lingkungan peradilan tertangkap tangan adalah tidak diaturnya secara jelas batas maksimal pengiriman putusan kepada para pihak,” ujar Hidayat.

Menurut Hidayat, pengiriman putusan sudah bisa dilakukan menggunakan media elektronik dalam jaringan (online).

“Hari ini diputus, hari itu juga dikirim, sebab dalam proses pengiriman inilah banyak oknum yang kemudian ‘bermain’ sehingga bisa mempengaruhi isi putusan,” tambah Hidayat.

Masih terkait dengan kasasi, CHA Syafrinaldi dari kamar Perdata mengemukakan bahwa sebaiknya ada pembatasan terkait dengan perkara yang bisa dikasasi untuk mencegah tumpukan perkara di MA.

“Hal ini memang bisa menimbulkan perdebatan di masyarakat, namun kalau tidak dilakukan MA akan kewalahan dengan perkara yang mengalir tidak berhenti,” kata Syafrinaldi.

Hal serupa juga disebutkan oleh CHA Kamar Perdata Panji Widagdo yang memiliki pengalaman sebagai mantan Asisten MA. Panji berpendapat, penumpukan perkara di MA dapat diatasi dengan memperbaiki manajemen penyelesaian perkara.

“Karena setiap berkas kasasi harus melewati dirjen terlebih dahulu. Jika langsung ke bagian kepaniteraan, maka waktunya bisa dipangkas,” ungkap Panji.

Panji menganggap, pembatasan perkara yang masuk ke MA juga terlalu sedikit, sehingga menurut dia akan menjadi lebih baik apabila dalam revisi undang-undang dilakukan perubahan terkait pembatasan kasasi, terutama untuk kasus yang tidak urgen.

Berbeda pendapat dengan dua CHA sebelumnya, CHA Sartono dari Kamar Tata Usaha Negara (TUN) menyebutkan bahwa pembatasan perkara yang bisa dikasasi ke MA bertentangan dengan hak asasi manusia.

“Ini bertentangan dengan HAM, namun mungkin bisa dialihkan ke perkara khusus yang imbasnya kecil, cukup diselesaikan di tingkat pertama saja,” usul Sartono.

Masih banyak pendapat dan usul lain yang dikemukakan oleh para CHA dan calon hakim adhoc Tipikor di MA. Masing-masing tentu ingin memperlihatkan kemampuan mereka menjawab pertanyaan panelis dengan baik.

Namun yang tidak kalah penting adalah, ketika mereka terpilih nanti, alangkah baiknya bila mereka bisa menjunjung tinggi integritas tidak hanya sekedar memiliki kapabilitas semata.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami