HEADLINESHukum

Sempat Meneror Novel, Bagaiamana Aturan Peredaran Air Keras?

BTN iklan

JAKARTA, (LEI/Detik) – Penyidik KPK Novel Baswedan disiram air keras oleh dua orang pelaku. Akibat kejadian itu, Novel mengalami luka di bagian kelopak mata serta wajahnya. Jika dilihat dari kategorinya, air keras masuk dalam bahan berbahaya atau disebut B2.

novel baswedan di siram air keras
Penyidik KPK Novel Baswedan (*)

Lantas jika berbahaya, dari mana pelaku penyiram Novel Baswedan mendapatkan air keras?

Kepala Dinas UMKM dan Perdagangan DKI Jakarta, Irwandi mengatakan penjualan air keras di Jakarta beredar dengan mudahnya di tangan pengecer.

“Penjualan air keras sudah kebablasan. Yang mengecer, itu karena untuk tukang ngelas, reklame. Itu kan pakai air keras. Makanya, pembeliannya bisa bebas,” ujar Irwandi kepada detikcom, Selasa (11/4).

Sementara di Jakarta, belum ada Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur secara khusus tentang penjualan maupun peredaran air keras dan bahan berbahaya lainnya. Aturan soal air keras tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 75 Tahun 2014.

Dalam Permendag tersebut, diatur soal produksi, penjualan dan peredaran bahan berbahaya. Dalam pasal 1 ayat 1 dijelaskan bahwa yang termasuk dalam kategori bahan berbahaya yakni zat, bahan kimia dan biologi, baik dalam bentuk tunggal maupun campuran yang dapat membahayakan kesehatan atau tidak langsung, yang mempunyai sifat racun (toksisitas), karsinogenik, teratogenik, mutagenik, korosif dan iritasi.

Untuk perusahaan yang memproduksi bahan berbahaya (P-B2) di dalam negeri harus memiliki izin usaha industri dari instansi yang berwenang. Sementara distributor terdaftar (DT-B2) adalah yang ditunjuk oleh produsen bahan berbahaya dan mendapat izin usaha perdagangan khusus dari Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen PDN).

Selain produsen dan distributor, Permendag Nomor 75 Tahun 2014 juga mengatur tentang pengecer bahan berbahaya (PT-B2).

Pengecer adalah perusahaan yang ditunjuk oleh produsen B2 dan/ atau distributor B2 dan mendapatkan mendapatkan izin usaha perdagangan khusus B2 dari Gubernur. Dalam hal ini ialah Kepala Dinas Provinsi untuk menjual B2 kepada pengguna akhir (PA-B2).

Pengguna akhir bahan berbahaya juga tak sembarang pihak. Pengguna yakni perusahaan industri yang menggunakan bahan tersebut sebagai bahan baku atau penolong yang diproses secara kimia fisika sehingga terjadi perubahan sifat fisika dan kimianya serta memperoleh nilai tambah dan badan usaha.

Tak hanya itu, pengguna akhir adalah lembaga yang menggunakan B2 sebagai bahan penolong sesuai peruntukannya yang memiliki izin dari instansi yang berwenang.

Permendag tersebut turut mengatur impor bahan berbahaya. Impor hanya dapat dilakukan melalui pelabuhan laut Belawan di Medan, Dumai di Dumai, Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Emas di Semarang, Tanjung Perak di Surabaya dan Soekarno Hatta di Makassar.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lihat juga

Close
Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami