HukumSengketa Merek

Sengketa Merk PureKid&Baby dan My Baby

BTN iklan

Jakarta, LEI – Distributor produk konsumer dan farmasi PT Antarmitra Sembada berharap memperoleh keadilan di pengadilan negeri terkait dengan sengketa melawan Komisi Banding Merek.

PT Antarmitra Sembada (penggugat) berusaha membatalkan putusan Komisi Banding Merek (tergugat), unit di bawah Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

Tujuannya agar Komisi Banding menerima pendaftaran merek produk penggugat, antara lain Purekids&Baby dan Baby Pure.

Gugatan ini terdaftar dengan No.66/Pdt.Sus-HKI/Merek/2017/PN.Jkt.Pst untuk merek Purekids&Baby dan No.67/Pdt.Sus-HKI/Merek/2017/PN.Jkt.Pst untuk merek Baby Pure.

Kuasa hukum PT Antarmitra Sembada Raddy Raditya Djatnika mengatakan, pihaknya ingin mendapatkan keadilan.

Menurut dia, Komisi Banding telah salah dalam membuat pertimbangan putusan penolakan. Pasalnya, bukti-bukti dari penggugat tidak dijadikan bahan penilaian.

“Kesannya Komisi Banding asal menolak merek kami tanpa adanya pemeriksaan mendetail,” katanya usai sidang di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Selasa (23/1).

Menurut dia, pada perkara No.66, produk penggugat yakni Purekids&Baby tidak menjiplak merek siapapun. Purekids&Baby melindungi kelas barang 05 dengan nomor agenda D002012009543.

Di sisi lain, Komisi Banding menolak lantaran Purekids&Baby dianggap mengandung persamaan pada pokoknya dengan merek My Baby kelas 05 No.IDM000146060. Komisi Banding juga menyatakan bahwa kata Pure hanyalah sebuah penegasan saja di mana kata utamanya adalah baby.

Untuk diketahui, sertifikat merek My Baby tersebut merupakan milik PT Bogamulia Nagadi, perusahaan yang jadi pemegang saham pengendali PT Tempo Scan Pacific Tbk.

Hal ini serupa dengan perkara No.67. Komisi Banding menolak merek Baby Pure milik penggugat karena dianggap meniru merek My Baby besutan PT Bogamulia Nagadi. Penolakan kedua merek penggugat itu dilakukan Komisi Banding pada 2015.

“Pertanyaannya mengapa merek yang kami ajukan selalu ditolak dengan pertimbangan yang sama . Kami ingin perkara ini diperiksa mendetail oleh majelis hakim pengadilan negeri,” ucapnya.

Padahal menurut Raddy, ada sejumlah merek yang menggunakan kata Baby tetapi diloloskan oleh Direktorat Merek. Seharusnya, tutur dia, Komisi Banding lebih teliti dalam melalukan pemeriksaan keputusan Direktorat Merek.

Selama periode 7 September 2007 hingga 20 November 2017, lanjut dia, Direktorat Merek telah meloloskan beberapa permohonan merek yang mengandung unsur kata Baby.

Bahkan, dalam perkara No.66, Direktorat Merek tercatat menerima empat merek dengan kata belakang baby yang melindungi kelas barang 5. Namun, menolak Purekids & Baby milik penggugat.

Kelas barang 5 mencakup farmasi, ilmu kebersihan, sediaan pembasmi hama, pestisida, suplemen, susu bayi, dan makanan bayi.

“Jika merek-merek tersebut lolos mengapa merek kami tidak diterima. Ditambah lagi dikukuhkan penolakannya di Komisi Banding Merek,” ujar Raddy.

Untuk mendukung dalilnya, dia mengatakan, segmen pasar penggugat juga berbeda dengan PT Bogamulia Nagadi pemilik My Baby. Pasalnya, penggugat tidak menyasar ritel umum melainkan hanya di apotek tertentu saja.

Persidangan perkara No.66 dan No.67 telah memasuki agenda jawaban tergugat. Namun, Komisi Banding belum siap dengan gugatannya sehingga sidang ditunda dan dilanjutkan kembali pada Rabu, 24 Januari.

Perwakilan Komisi Banding Merek Yuda Yudhistira mengatakan pihaknya belum bisa berkomentar mengenai substansi gugatan. Pihaknya juga menolak untuk menyampaikan pernyataan ke publik ketika sidang masih bergulir.

“Jika ada pertanyaan silakan langsung datang ke kantor Komisi Banding Merek,” ungkapnya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami