InternasionalNasional

Setelah Jokowi, Giliran JK Diundang sebagai Tamu Kehormatan Afghanistan

BTN iklan

JAKARTA, Lei – Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, kembali mengundang pejabat Indonesia untuk datang ke negaranya. Setelah Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada Januari, kali ini giliran Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) yang akan diundang sebagai tamu kehormatan ke Ibu Kota Kabul.

“Wakil Presiden diundang sebagai tamu khusus pada 28 Februari untuk acara yang namanya Kabul Peace Process, proses perdamaian yang diinisiasi pemerintah Afghanistan tanpa campur tangan siapa pun,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Afghanistan, Arief Rachman, kepada awak media di Gedung Nusantara, Kementerian Luar Negeri RI, Pejambon, Jakarta Pusat, Rabu (14/2/2018).

“Pada acara tersebut diundang 24 negara asing yang memiliki perwakilan di Afghanistan. Pak Wapres diundang khusus oleh Presiden Ashraf Ghani,” imbuhnya.

Duta Besar Arief Rachman mengatakan, Wakil Presiden Jusuf Kalla diminta khusus untuk membagikan pengalamannya mengenai perdamaian di Indonesia. Sebagai informasi, Jusuf Kalla adalah salah satu pencetus perjanjian damai antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia, pada 15 Agustus 2005.

“Jalur undangannya bapak itu spesial dari Presiden Ashraf Ghani, jalur kehormatan. Beliau diminta berkenan membagi pengalaman perdamaian di indonesia. Tentu akan diberikan pengawalan istimewa kepada Wakil Presiden,” tutup Duta Besar Arief Rachman.

Sebagaimana diberitakan, Presiden RI Joko Widodo berkunjung ke Afghanistan pada 29 Januari. Kunjungan tersebut merupakan yang pertama kali oleh Presiden Indonesia dalam 57 tahun terakhir ke Afghanistan setelah Presiden Soekarno pada 1961.

Kunjungan Presiden Jokowi ke Afghanistan adalah untuk menguatkan diplomasi perdamaian Indonesia. Jakarta selama ini secara aktif memberi dukungan untuk pembangunan perdamaian di Afghanistan yang berkelanjutan. Hal tersebut ditandai dengan kunjungan Presiden Ashraf Ghani ke Indonesia pada April 2017 yang kemudian disusul dengan Majelis Tinggi Perdamaian Afghanistan pada Desember 2017.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami