FinansialLiputanNasional

Setelah Mati Suri, Merpati Airlines akan Mengudara Lagi

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Maskapai penerbangan Merpati Airlines siap mengudara lagi. Kepastian ini didapat setelah hakim Pengadilan Niaga Surabaya pada Rabu 14 November 2018, memutuskan menyetujui proposal perdamaian PT Merpati Nusantara Airlines dengan para krediturnya.

Atas putusan hakim tersebut, Merpati Nusantara Airlines dinyatakan batal pailit. Jagat penerbangan di Tanah Air pun diprediksi kian semarak pada 2019.

Ada sejumlah persyaratan harus dipenuhi maskapai yang dulunya terkenal dengan penerbangan perintis tersebut. Salah satunya, melunasi utang ke 85 kreditur. Kendati demikian, Merpati bakal memperoleh suntikan dana segar dari investor baru dan armada pesawat dari Rusia.

Tidak mudah

Salah satu pengamat penerbangan Indonesia, Alvin Lie mengatakan banyak tantangan yang menanti Merpati. Sebagai perusahaan baru, Merpati harus memiliki fokus bisnisnya apakah akan bergerak di kelas Low Cost Carrier (LCC), premium class atau pesawat penerbangan perintis.

Dikatakan Alvin, dalam lima tahun terakhir industri maskapai dihadapkan pada situasi yang sulit. Mulai dari meningkatnya harga avtur hingga kurs dolar Amerika Serikat (AS) yang terus menguat.

“Coba perhatikan 5 tahun akhir industri penerbangan di Indonesia tidak ada pemain baru. Bahkan pemain lama berguguran atau konsolidasi. Misalnya Sriwijaya saja kode share dengan Garuda Indonesia. Industri penerbangan saat ini sudah mencapai tahap dewasa,” kata Alvin.

Bahkan, dia memperkirakan ke depan hanya ada dua maskapai sebagai pemain besar di dalam negeri yaitu Garuda Indonesia dan Lion Air. Sementara maskapai lainnya akan dipaksa situasi untuk konsolidasi.

Tidak hanya itu, tantangan lain yang harus dihadapi Merpati persoalan Sumber Daya Manusia (SDM). Merpati berencana menggunakan pesawat buatan perusahaan Rusia, jenis MC-21.

“Kemudian, dia bilang mau menggunakan pesawat Rusia. Pesawat Rusia ini kan daya tariknya rendah. Kan menyangkut kemantapan pengguna jasa. Pesawat Rusia saat ini track record safety-nya tidak bagus. Kita lihat airline Rusia menggunakan Airbus dan Boeing,” tambahnya.

“Belum lagi kalau pakai pesawat buatan Rusia pilotnya mau dari mana. Kita itu tidak punya pilot dengan pesawat itu, juga SDM maintenance-nya. Makanya saya tidak yakin,” Alvin melanjutkan.

Untuk itu, sampai saat ini pihaknya masih belum bisa memahami apa keuntungan bagi investor kembali menghidupkan kembali Merpati.

“Dengan dana Rp 6,4 triliun logikanya mending buat perusahaan baru, tidak ada resiko hukum, tidak ada tanggungan kewajiban, dan sebagainya,” tutup dia.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close