Internasional

Singa Betina di AS Bunuh Pejantannya Sendiri, Mengapa Bisa Demikian?

BTN iklan

AMERIKA SERIKAT (LEI) – Seekor singa betina di kebun binatang AS membunuh singa jantan yang merupakan bapak dari tiga anaknya di kandang mereka – insiden yang mengejutkan, menurut para ahli, dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Sepasang singa itu tinggal di satu kandang sejak delapan tahun lalu di kebun binatang Indianapolis. Sebelumnya tidak pernah terjadi perkelahian di antara keduanya, kata staf kebun binatang dalam pernyataannya.

Apa yang terjadi?

Singa betina, Zuri, 12 tahun, menyerang singa jantan, Nyack, 10 tahun dan sayangnya petugas kebun binatang tidak dapat memisahkan dua ekor singa itu. Nyack kemudian mati lemas setelah lehernya digigit tanpa henti, sementara Zuri tidak terluka sama sekali.

Pihak kebun binatang mengatakan akan melakukan “kajian secara menyeluruh.”

Kepribadian yang kasar?

Prof Craig Packer, direktur Pusat Penelitian Singa dari Universitas Minnesota, mengatakan kepada BBC serangan semacam ini “belum pernah terjadi sebelumnya”.

“Kami sudah melihat berbagai contoh singa-singa jantan singa-singa betina, dan kawanan singa betina memburu singa jantan, tetapi singa betina membunuh singa jantan, satu lawan satu? Saya belum pernah mendengarnya.”

Ia menduga kepribadian individu dari singa tersebut memainkan peran dalam pembunuhan itu.

Di alam bebas, singa-singa jantan ‘mendominasi’ singa-singa betina ‘sepenuhnya’. Nyack sudah dipelihara dari kecil oleh kebun binatang, satu hal yang mungkin membuatnya lebih rentan, kata Prof Packer.

Sebaliknya, Zuri lebih dominan ketimbang singa betina lainnya.

Zuri hanya memiliki bobot 136 kg, yang 11kg lebih ringan dibanding pasangannya yang berat badannya 147kg. Singa jantan biasanya memiliki berat 149kg-259kg dan singa betina 120-180kg, menurut kebun binatang San Diego Zoo.

“Jika perkelahian itu timbul akibat kepribadiannya yang kasar, mungkin ini adalah salah satu faktor risikonya. Pihak kebun binatang harus mempertimbangkannya bila akan menggabungkannya lagi dengan singa lain,” katanya.

Profesor packer menyebut ada misteri lain dari fakta bahwa Zuri menyerang Nyack sebanyak dua kali: pertama Nyack lari, lalu singa jantan itu kembali lagi ke Zuri bersikap patuh, dan di situ Zuri menyerangnya lagi.

“Kami tidak bisa menyimpulkan apa penyebab dari semua ini, sampai kami melihat kasus-kasus serupa muncul ,” katanya.

Seberapa aneh perilaku singa ini?

Paul Funston, Direktur Regional Afrika Selatan untuk Panthera, organisasi konservasi kucing liar global, juga sepakat bahwa kejadian ini mengejutkan.

Di alam bebas, kawanan singa betina bisa menyerang singa-singa lainnya, namun biasanya mereka melakukannya untuk membela anak-anaknya atau wilayahnya. Insiden seperti itu pernah difilmkan di sebuah taman safari. Namun Funston mengatakan ia belum pernah melihat kejadian yang berakhir dengan kematian.

Singa-singa betina terekam tengah menyerang singa lainnya di West Midland Safari Park.

Singa-singa jantan liar juga biasanya akan mengusir anak-anaknya supaya tidak diburu oleh singa-singa betina yang berkuasa. Kadang-kadang singa bisa membunuh anak-anaknya sendiri – biasanya ketika mereka mengambil alih wilayah baru dari singa-singa betina penguasanya – untuk menegaskan dominasi mereka terhadap singa betina itu.

Singa jantan juga dikenal agresif terhadap singa betina dan bisa membunuh singa betina yang menolak untuk dia kawini.

Satu kemungkinan, kata Funston, adalah bahwa Zuri – yang digambarkan oleh kebun binatang sebagai “ibu yang penuh perhatian dan protektif” – menjadi takut pada Nyack, dan akhirnya berbuntutperkelahian.

Naluri alami Zuri bisa menjadi dominan pada titik itu, jelasnya, dan akhirnya Zuri membunuhnya.

“Bahkan ketika hewan-hewan itu tenang atau tampak tenang, itu bukan berarti tidak ada ketegangan,” kata Funston.

Bruce Patterson, seorang peneliti di Field Museum di Chicago, mengatakan ia tahu kasus-kasus tentang singa betina liar yang menyerang – dan melukai – singa jantan yang sebelumnya membuat mereka kesal. “(Tapi) tidak seperti kasus kebun binatang, tidak ada yang menggigit lehernya!” katanya.

Funston, yang telah mempelajari seluk beluk singa selama 25 tahun, mengakui insiden ini ‘tidak biasa’ dan ‘langka’ – tetapi itu bukan berarti hal yang aneh.

“Kami melihat model yang khas dan kami cenderung berpikir kami tahu semuanya. Tetapi ini adalah spesies yang sangat kompleks secara sosial. “

“Itu satu hal yang saya suka tentang singa,” Funston menambahkan. “Anda tidak tahu persis apa yang akan terjadi, dan itu membuat mereka menjadi hewan yang benar-benar menarik untuk diamati dan perlu dlindungi dan dilestarikan.” (okezone)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Lihat juga

Close
Close