Hukum

Sri Mulyani Ajak Akademisi Kenalkan Keuangan Syariah Sejak Dini

BTN iklan

SURABAYA/Lei  – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengajak kalangan pengajar atau akademisi untuk berperan serta memperkenalkan instrumen-instrumen keuangan syariah kepada masyarakat mulai dari usia anak-anak.

“Bank Indonesia telah berinisiatif masuk ke pesantren-pesantren, madrasah, tsanawiyah agar  mampu menghasilkan literasi dalam memahami instrumen keuangan syariah. Mungkin bapak-ibu di sini bisa mulai memperkenalkan ini sejak dini sehingga 10 tahun kemudian tidak lagi belajar dari nol,” katanya dihadapan mahasiswa Islam, pesantren, dan akademisi saat mengisi Kuliah Umum Kontribusi Keuangan Syariah Dalam Mencapai Sustainable Development Goals, Jumat (28/10/2016).

Dia mengakui, kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam memahami instrumen keuangan syariah masih rendah sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi keuangan syariah di Indonesia.

“Volume aset ekonomi syariah masih sangat kecil, maka membentuk KNKS (Komite Nasional Keuangan Syariah) merupakan langkah baik,  dan kami mengundang partisipasi masyarakat terus menerus karena keuangan syariah ini memiliki potensi mencapai 97%, jadi kita perlu banyak hal agar keuangan syariah diminati,” jelasnya.

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per semester I/2016, total nilai aset industri keuangan syariah Indonesia mencapai Rp622 triliun atau hanya sekitar 6,5% dari total aset industri keuangan Indonesia.

Perbankan syariah menjadi penopang utama industri keuangan syariah dengan porsi 51%, diikuti oleh Sukuk 43%, sedangkan industri takaful (asuransi syariah) dan reksadana syariah hanya berkontribusi 6%.

“Namun begitu aset tersebut terus bertumbuh dalam 6 tahun terakhir ini,” imbuh Sri Mulyani.

Mantan Managing Director World Bank itu berharap seluruh kalangan masyarakat mulai menginvestasikan pengetahuan, skill dan bertukar pengetahuan tentang ekonomi keuangan syariah.

Dia memaparkan, keuangan syariah memiliki keunggulan, di antaranya dapat mendukung keuangan inklusif dan kesejahteraan bersama misalnya penyaluran pembiayaan kepada pengusaha UMKM, juga memungkinkan distribusi harta yang berasal dari dana sosial keagamaan (zakat dan wakaf) kepada masyarakat yang tidak mampu.

Selain itu, akan berdampak pada pembangunan infrastruktur, di mana keuangan syariah (sukuk) telah berhasil dan banyak digunakan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur secara efektif dan efisien.

Terakhir adalah tercipta stabilitas sektor keuangan yakni keuangan syariah menerapkan disiplin ketat dalam penyaluran pembaiyaan yang ditujukan kepada sektro riil, mengedepankan transparansi dan pembagian risiko.

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Lihat juga

Close
Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami