BTN ads
Tekno

Startup Ini Tawarkan Layanan Mediasi untuk Kurangi Nominal Utang Kartu Kredit dan KTA

(LEI)-Permintaan pasar di Indonesia yang menginginkan adanya solusi agar terbebas dari utang kartu kredit maupun kredit tanpa agunan (KTA) ternyata cukup besar. Hal ini diketahui oleh seorang warga Jerman bernama Arne Hartmann ketika melakukan survei terkait hal tersebut.

Ia pun kemudian memutuskan untuk mengoperasikan sebuah perusahaan startup bernama PT Amalan International Indonesia pada tahun 2015.

Secara singkat, Amalan merupakan perusahaan berbasis teknologi yang menawarkan jasa mediasi antara debitur dengan pihak bank. Tujuannya agar debitur bisa mendapat diskon atau cicilan dengan bunga yang lebih rendah untuk utang mereka yang sudah terlanjur tertunggak.

Dalam Peraturan Bank Indonesia nomor 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum, bank memang diizinkan melakukan restukturisasi kredit dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya agar nasabah bisa lebih mudah membayar. Amalan sendiri saat ini hanya melayani tunggakan utang kartu kredit dan KTA dengan nominal minimum Rp10 juta.

Bila tertarik menggunakan layanan dari Amalan, pengguna cukup melakukan beberapa hal:

  • Mengisi data diri melalui situs web resmi Amalan.
  • Konsultan Amalan akan menghubungi calon klien dan mempelajari profil serta besaran utang yang ditanggung oleh calon klien.
  • Jika Amalan dan calon klien sudah sepakat, maka kedua belah pihak akan menandatangani perjanjian kontrak.
  • Selanjutnya Amalan akan bertindak selaku perwakilan klien untuk bernegosiasi dengan pihak Bank. Perkembangan negosiasi ini bisa dipantau klien lewat aplikasi Amalan.

Indonesia dipilih karena pasarnya besar, jumlah penduduknya besar, dan portofolio kartu kredit maupun KTA juga besar. Kami melihat potensi tersebut dan pesaingnya juga belum banyak. Itu alasannya Amalan masuk ke Indonesia.

 Yodhi Kharismanto, Direktur Amalan

Hanya layani utang kartu kredit dan KTA

Saat ini, Amalan hanya membantu klien mereka yang terlilit utang kartu kredit dan KTA. Yodhi mengatakan, pihaknya memang tak menawarkan jasa bagi calon klien yang memiliki masalah terkait utang dengan agunan maupun utang antar pribadi.

“Saat ini hanya bisa melayani yang tanpa agunan seperti kartu kredit atau KTA karena lebih mudah diselesaikan. Kalau punya agunan, jika dia default, agunannya bisa dilelang atau dicairkan. Itu agak sedikit sulit dan prosesnya panjang. Bukannya tidak bisa. Tapi kami ingin masuk ke pasar yang lebih mudah dulu untuk negosiasi. Sekarang lebih mudah yang tanpa agunan,” jelas Yodhi.

Tampilan situs web Amalan | Screenshot

Meski tak melayani utang dengan agunan, Amalan bisa membantu klien mereka mengagunkan aset pribadi untuk kebutuhan penyelesaian utang tanpa agunan. Amalan saat ini bekerja sama dengan Smart Finance untuk mengagunkan mobil, dan BFI untuk mengagunkan rumah. “Kalau yang ingin menjual aset, kami belum bisa bilang karena sedang menjajaki perjanjian ke beberapa agen properti,” ucapnya.

Sedangkan utang yang melibatkan pribadi atau antar individu, Amalan tak melayaninya karena menurut mereka perjanjian perorangan di Indonesia pada umumnya masih tidak jelas. Kalau pun jelas, kata Yodhi, mereka khawatir apakah perjanjian utang itu sudah benar selesai atau tidak jika mereka ikut membantunya.

Terapkan komisi sebesar 25 persen

Bagi klien yang memakai jasa mereka, Amalan menerapkan komisi sebesar 25 persen dari nilai potongan yang diberikan pihak bank. Sebagai contoh, jika ada klien memiliki utang Rp10 juta dan Amalan berhasil memangkas utang tersebut menjadi Rp7 juta, maka Amalan akan mendapat komisi 25 persen dari potongan Rp3 juta yang diberikan bank.

“Misalnya ada Rp3 juta yang kami selamatkan dari customer. Amalan mengambil komisi 25 persen dari Rp3 juta itu yakni Rp750 ribu. Sebisa mungkin kami hadir bukan untuk menambah beban, tapi justru hadir untuk membantu customer meski kami juga berorientasi pada bisnis,” jelas Yodhi.

Komisi penjualan | Ilustrasi

Yodhi memaparkan dalam perjanjian kontrak dengan klien, komisi untuk Amalan ini harus dibayar di muka alias tidak bisa dicicil. Namun ada beberapa kasus tertentu yang membuat Amalan bisa mengesampingkan ketentuan ini dan membuka ruang negosiasi dengan klien untuk pembayaran komisi.

Salah satu contohnya ketika mereka menangani kasus klien yang menjadi korban pemalsuan identitas sehingga data-datanya disalahgunakan untuk melakukan pengajuan ke beberapa kartu kredit.

Akibat tindakan tersebut, klien ini harus menanggung tunggakan utang sekitar Rp370 juta. Setelah dinegosiasikan, Amalan berhasil mendapatkan potongan hingga 96,5 persen sehingga klien mereka hanya perlu membayar Rp12.800.000 saja.

“Pada kasus tersebut, 25 persennya kan besar sekali. Saya sendiri langsung menghubungi customer bahwa kami tak akan mengambil sebanyak itu. Kami ingin bantu customer. Kalau orientasinya terlalu bisnis, bisa saja kami ambil sebanyak itu. Tapi, kami tidak melakukannya dan customer mengusulkan agar dia hanya bayar sekian juta. Kami sepakat dengan jumlah tersebut,” tuturnya.

Yodhi mengatakan hal tersebut juga menjadi pembeda antara pihaknya dengan beberapa kompetitor. Menurutnya kompetitor Amalan di Indonesia saat ini merupakan individu-individu yang menawarkan layanan serupa namun dengan pembayaran komisi di awal sebelum terjadi kesepakatan berapa diskon yang diberikan oleh pihak bank. Sedangkan di luar negeri, ada juga perusahaan lain seperti Curadeuda yang menerapkan konsep serupa seperti Amalan.

read also

“Secara tidak langsung kami hampir sama dengan mereka. Tapi kami menerapkan success fee kalau sudah ada hasil. Kalau mereka biasanya di depan. Kami memang ada deposit di awal sebesar Rp250 ribu per tiga bulan. Tapi itu hanya sebagai bentuk ikatan dan akan dikembalikan ke klien saat sudah settlement dengan pihak bank. Deposit ini juga bisa dipakai untuk mengurangi success fee yang dibayarkan klien,” ujarnya.

Sepanjang 2017 kemarin, Amalan menerima data calon klien sekitar tiga puluh ribu. Namun klien yang sudah sepakat dibantu ada 650. Dari jumlah tersebut itu, ada lima ratus kasus yang sudah settlement dan membantu klien menyelamatkan dana mereka dengan nilai total Rp1,8 miliar.

“Tahun 2018 ini kami targetkan tiga kali lipatnya menjadi 1.500 untuk kasus yang masuk kategori settlement,” ucapnya.

Siapkan kemitraan dengan KoinWorks

Partnership | Ilustrasi

Sumber gambar: Singapore Business News

Ke depannya, Amalan berencana menambah produk baru dalam layanannya dengan menggandeng startup P2P lending seperti KoinWorks. Produk baru itu saat ini mereka namai dengan sebutan Card Cutter. Awal Maret lalu, Amalan telah menyosialisasikan produk tersebut kepada klien mereka yang sudah menandatangani kontrak.

Secara garis besar, Card Cutter dibuat untuk membantu klien Amalan yang memiliki utang kartu kredit di beberapa bank. Dengan Card Cutter ini, KoinWorks akan melunasi total utang klien kepada pihak bank dan selanjutnya klien hanya tinggal mencicil utang tersebut ke KoinWorks dengan bunga yang lebih rendah dan tenor hingga dua tahun.

“Produk ini lahir karena keinginan customer. Mereka sebenarnya punya keinginan untuk membayar, namun kemampuan per bulannya yang sulit. Dari cerita mereka, lahirlah produk ini,” kata Yodhi.

Ia menambahkan, produk Card Cutter ini ditujukan bagi klien yang belum menunggak namun merasa tak akan mampu membayar minimum payment maupun normal payment bank di kemudian hari.

Bagi klien yang sudah terlanjut menunggak, Amalan juga sedang menyiapkan produk bernama Card Cutter Plus. Untuk menggunakan produk ini, Amalan akan menerapkan seleksi yang sangat ketat karena bunga yang diterapkan kurang lebih sama seperti kartu kredit.

“Untuk hitung-hitungan terakhirnya masih lebih hemat. Tapi harus dilihat dulu cocok atau tidak portofolio dari klien,” tuturnya.

Terkait kerja sama tersebut, Tech in Asia Indonesia sudah menghubungi pihak KoinWorks namun belum mendapat tanggapan.

(IDtechinasia)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close