Hukum

Suami Inneke Dituntut 4 Tahun Penjara

BTN iklan

Jakarta, LEI – Terdakwa Fahmi Darmawansyah, suami Inneke Koesherawati, dituntut hukuman 4 tahun penjara dan membayar denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan karena menyuap empat pejabat Badan Keamanan Laut (Bakamla).

“Menuntut terdawa (Fahmi Darmawansyah) dipidana penjara selama 4 tahun dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan,” kata Jaksa Penuntut Umum KPK, Kiki Ahmad Yani, membacakan tuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (10/5/2017).

Menurut penuntut umum, Fahmi Darmawansyah selaku Direktur Utama PT Merial Esa menyuap empat pejabat Bakamla secara bertahap hingga totalnya SGD 309,500, US$ 88,500, € 10.000, dan Rp 120 juta. Fahmi melakukan penyuapan bersama-sama dua anak buahnya, Muhammad Adami Okta dan Hardy Stefanus.

Penyuapan itu dilakukan agar PT Melati Technofo Indonesia (MTI) memenangkan lelang pengadaan satelit monitoring di Bakamla tahun anggaran 2016. “Pemberian tersebut dikarenakan PT MTI dimenangkan dalam pengadaan satelit monitoring di Bakamla tahun anggaran 2016,” kata Kiki.

Empat pejabat Bakamla yang menerima suap dari terdakwa Fahmi Darmawansyah dan dua anak buahnya tersebut adalah Eko Susilo Hadi selaku Deputi Informasi, Hukum, dan Kerja Sama Bakamla juga merangkap Plt Sekretaris Utama Bakamla sejumlah SGD 100,000 dan US$ 88,500, dan € 10.000.

Kemudian, Bambang Udoyo selaku Direktur Data dan Informasi Deputi Bidang Informasi, Hukum dan Kerja Sama Bakamla sebesar SGD 105,000. Nofel Hasan selaku Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi Bakamla SGD 104,500 dan Tri Nanda Wicaksono selaku Kasubag TU Sestama Bakamla sebesar Rp 120 juta.

Menurut penuntut umum, Fahmi Darmawansyah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar dakwaan kedua poin kedua yakni Pasal 5 Ayat (1) huruf b Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP sebagaimana dakwaan kedua poin pertama.

Sebelum menjatuhkan tuntutan, penuntut umum KPK mempertimbangkan hal-hal memberatkan dan meringankan. Hal memberatkan, perbuatan terdakwa Fahmi Darmawansyah tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas korups dan sebagai pengusaha muda, seharuanya mengikuti prosedur untuk mendapatkan proyek, bukan melakukan praktik suap.

Untuk hal meringankan bagi terdakwa Fami Darmawansyah yang menjadi pertimbangan penuntut umum, yakni menyesali perbuatannya, belum pernah dihukum, memiliki anak yang masih berusia 6 tahun dan 9 tahun.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami