Suhartono : Profesi Hukum di Era Komunikasi Digital – Legal Era Indonesia
Opini

Suhartono : Profesi Hukum di Era Komunikasi Digital

hukum digital
Bagikan ke:

Saya merasa senang dan besar hati dengan munculnya majalah Legal Era Indonesia (LEI) yang memfokuskan pada hukum bisnis dan masalah-masalah terkait, apa lagi majalah ini memposisikan dirinya sebagai majalah populer, dalam artinya bisa dibaca oleh kalangan umum atau orang awam. Konsekwensinya, artikel dan berita disajikan dengan bahasa populer dan berusaha menghindari jargon hukum, kecuali opini-opini yang bermanfaat untuk perkembangan ilmu hukum di Indonesia.

Saya pikir, LEI sudah tepat memposisikan dirinya sebagai majalah profesi hukum dengan target para praktisi dan akademisi bidang hukum, industriawan, perbankan, profesi keuangan dan profesi terkait. Profesi apapun yang terkait dengan hukum perlu mengetahui state of the art, atapu puncak perkembangan tertinggi bidang yang digeluti, misalnya teknik, sarana, bidang ilmiah dalam kurun waktu tertentu. Tentu saja langkah ini akan memperkuat kompetensi and kehandalan pribadi.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan menyaksikan perkawinan antara teknologi komputer dan teknologi komunikasi sehingga menumbangkan tirani jarak dan ruang sejak dulu. Kita semua mengalami berkomunikasi melalui teks (texting) apakah lewat pesan singkat, berbagi melalui Blog, Wiki, Skype dan media sosial secara langsung tanpa terhalang oleh jarak. Keadaan ini akan mengubah hubungan antar pribadi, dan tentu saja kita harus siap dalam perubahan yang telah terjadi dalam komunikasi digital.

Tetapi sudah tepatkah kita memanfaatkan moda komunikasi digital tanpa tanpa niatan mengganggu hak orang lain. Di sinilah kita memasuki ranah hukum digital, hak hukum dan larangan dalam pengelolaan teknologi digital. Kita harus menghormati hak cipta, misalnya ketika menggunakan file dalam situs bersama, Melanggar  Managemen Hak Digital (Digital Right Management), merusak sistem (hacking), mencuri identitas orang.

Mungkin akan lebih lengkap jika majalah  LEI memberikan ruangan untuk mengupas masalah hukum digital, yang senantiasa memberikan informasi baru secara global yang sifatnya memberikan pencerahan pada pembaca.  Saya senang, majalah LEI menyajikan versi digital sehingga mempunyai jangkauan lebih luas, dan bisa membuahkan komunikasi yang efektif, terutama para profesional hukum muda. Digital Native yang saat ini sedang berada di fakultas hukum, atau mereka yang belum lama meniti karir di bidang hukum. Tentu saja mereka lebih nyaman membaca majalah, lain halnya dengan kaum Digital  migran Indonesia yang kebanyakan lebih suka majalah tercetak. Ini perlu dimaklumi karena mereka   mengenal komputer pada pertengahan dasawarsa 70-an (Mainframe dan Mini Computers), baru dasa warsa berikutnya mereka baru mendapatkan Personal Computer di pasaran, dan mengenal Internet pada dasawarsa 1990-an.

Saya berharap Majalah LEI menjadi majalah yang spesifik, sehingga dapat menambah alternatif bacaan bagi para profesional bidang hukum.

Suhartono, SH

iklan btn

1 Comment

1 Comment

  1. NESU

    15/01/2017 at

    Terimakasih banyak atas artikelnya, kebetulan lagi butuh artikel seperti ini, ijin copas ya.
    terimakasih dan salam sukses selalu

Komentar Anda...

To Top