Hukum

Super Makmur Harus Lepas Aset

BTN iklan

JAKARTA/Lei — PT Super Makmur harus bersiap untuk melepas seluruh asetnya setelah dinyatakan pailit dan insolvensi oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

Salah satu kurator PT Super Makmur Abdillah mengatakan debitur dinyatakan pailit karena gagal membujuk PT Bank Danamon Tbk. dan PT Bank Maybank Indonesia Tbk. untuk mendukung proposal perdamaiannya. Adapun, kedua bank tersebut merupakan kreditur pemegang hak jaminan atau separatis.

“Debitur telah dinyatakan pailit sejak Senin ,” kata Abdillah, Rabu (29/6).

Dia menambahkan dalam rapat kreditur sebanyak 18 dari 23 kreditur konkuren yang hadir menyatakan dukungan terhadap proposal perdamaian. Namun, ketika kreditur separatis bersikap menolak maka persyaratan diterimanya proposal perdamaian tidak terpenuhi.

Ketentuan tersebut, lanjutnya, diatur dalam Pasal 281 dan 289 Undang-undang No. 37/2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Debitur berstatus insolvensi yang berarti seluruh asetnya bisa langsung dieksekusi tanpa menunggu penetapan hakim pengawas.

Abdillah menerangkan kedua kreditur separatis menolak proposal debitur lantaran tawaran skema pembayaran selama 10 tahun dinilai terlalu lama. Terlebih, proposal perdamaian tersebut tidak banyak berubah sejak debitur masih menjalani proses restrukturisasi utang.

Dalam proposal perdamaian, debitur berencana menyelesaikan pembayaran utang pokok kepada kreditur separatis setelah melewati masa jeda (grace period) 12 bulan. Adapun, utang bunga akan dibayar secara bertahap mengikuti penambahan kapasitas produksi perusahaan.

Danamon dan Maybank, imbuhnya, memegang jaminan kebendaan milik debitur. Aset yang telah dipegang oleh kedua bank tersebut mencakup sertifikat tanah, bangunan pabrik, beserta mesin-mesin produksi.

Berdasarkan daftar piutang tetap tim pengurus, total tagihan Danamon dan Maybank masing-masing sebesar Rp122,87 miliar dan Rp103 miliar. Sementara itu, nilai pasar dari aset yang menjadi jaminan bank bisa mencapai Rp160 miliar.

Selanjutnya, tim kurator akan segera melakukan inventarisasi aset debitur untuk dimasukkan dalam boedel pailit. Salah satu destinasinya adalah pabrik yang terletak di Bogor, Jawa Barat.

Status insolvensi yang didapatkan debitur menjadikan tim kurator telah memiliki kewenangan secara penuh terhadap aset-aset perusahaan. Gerak cepat memang dilakukan untuk menghindari kerugian dari para kreditur.

Menurutnya, kondisi aset-aset tersebut harus segera dipastikan dan diinventarisir guna mengetahui risiko penurunan nilai. Selama ini, pihaknya mengetahui aset berupa tanah, bangunan, mesin produksi, dan kendaraan operasional melalui dokumen debitur.

Inventarisasi aset tersebut, imbuhnya, akan dilakukan secara linier dengan penyelenggaraan pendaftaran hingga pencocokan tagihan.

PENDEKATAN INTENS

Sementara itu, kuasa hukum debitur Jandri O. Siadari menyayangkan hasil pemungutan suara yang menjadikan kliennya jatuh pailit. Padahal, debitur sudah melakukan upaya pendekatan secara intens kepada kreditur separatis.

“Cukup sulit untuk menemukan titik temu dengan pihak bank, dampaknya pailit,” ujar Jandri.

Upaya pendekatan terus dilakukan debitur selama perpanjangan waktu PKPU yang ditempuh selama hampir 8 bulan. Akan tetapi, putusan pailit tersebut tidak akan mempengaruhi kinerjasister company, yakni PT Super Eximsari.

Dia menjelaskan kedua perusahaan tersebut memiliki basis produksi yang terpisah, sehingga Super Eximsari bisa menjalankan proposal perdamaian tanpa terganggu proses kepailitan Super Makmur.

Debitur dinyatakan dalam PKPU sejak 13 Oktober 2015 oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Permohonan yang diajukan oleh PT Java Lumbung Berkah selaku kreditur dinilai memenuhi persyaratan PKPU.(bisnis.com)

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close