Politik

Survei: Hasanah Layak Pimpin Jabar karena Solutif

BTN iklan

Bandung, LEI – Pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat (Jabar) nomor urut 2, Tb Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah) duduk, di paling pantas memimpin Jabar. Ini adalah hasil survei yang dirilis Ilma Penelitian dan Konsultasi pekan ini.

Peneliti Ilma Penelitian dan Konsultasi, Okan Darsyah, dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/5/2018), Menyampaikan, sebanyak 16,63% responden memilih paslon Hasanah karena memiliki program dan solusi nyata untuk kemajuan Jabar.

Kemudian, disusul pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi meraih 15,00%, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum 14,13%, dan Sudrajat-Ahmad Syaikhu 8,50%.
Survei dilakukan pada 15-20 Mei 2018 di 27 Kabupaten dan Kota di Jabar.

Oka menjelaskan, survei yang dilakukan lembaganya menggunakan teknik multistage random sampling terhadap 800 responden dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error sebesar 3,46%.

Menurut Oka, hasil tersebut merupakan temuan baru pascadebat pilgub Jabar 2018 putaran kedua bahwa paslon Hasanah dinilai memiliki program dan solusi nyata dalam memimpin Jabar.

Akademisi dan pengamat sosial lingkungan, Dr. Harjoko, menilai hasil survei Ilma Research dan Consulting yang menempatkan pasangan Hasanah unggul saat debat relevan dengan apa yang terjadi di lapangan. Pasalnya, Paslon Hasanah menyodorkan program yang sangat mudah dicerna publik dan melibatkan warga.

Harjoko mencontohkan tentang program penyelesaian masalah Sungai Citarum di Jabar yang ditawarkan Hasanah, yakni melalui Turkamling yang menekankan pada penegakan hukum dan partisipasi warga.

Harjoko mengungkapkan, lingkungan di Jabar merupakan hal vital yang harus segera diselesaikan oleh para pemimpin Tanah Pasundan ke depan, khususnya terkait masalah dua sungai utama, yakni Citarum dan Ciliwung.

Sebagai daerah yang kaya akan potensi alamnya, masyarakat Jabar sangat tergantung kepada kondisi alam yang baik, seperti kebutuhan energi listrik, maupun industri dan kebutuhan hidup lainnya. Jabar membutuhkan pemimpin yang mampu melibatkan masyarakat untuk menjaga lingkungan dan mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari.

Menurut Harjoko, kriteria di atas ditemukan pada program Turkamling (Infrastruktur, Keamanan, dan Lingkungan) yang diusung oleh paslon Hasanuddin dan Anton atau kang Hasan dan kang Anton.

“Menggerakan masyarakat untuk melindungi alam Jawa Barat dari kerusakan itu satu poin paling penting, dan melalui programnya, kang Hasan libatkan masyarakat,” kata Harjoko, yang juga menjabat Ketua STIA Bagasasi Bandung.

Harjoko memaparkan, program kang Hasan, dinilai tepat untuk mengatasi permasalahan lingkungan di Jabar. Menurutnya, masyarakat pada dasarnya memiliki kaitan langsung terkait kebersihan aliran sungai. Sehingga, melalui pembinaan masyarakat merupakan langkah tepat sehingga pemerintah akan mampu mengontrol kebersihan lingkungan untuk jangka panjang.

Selain itu, lanjut Harjoko, pemanfaatan sampah yang masih bisa didaur ulang menjadi energi terbarukan menjadi langkah cerdas yang dilakukan oleh kang Hasan untuk mengurangi polusi sampah, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Program kang Hasan terkait lingkungan saya kira sangat tepat, karena masalah Jabar sebagai daerah yang kaya akan DAS (Daerah Aliran Sungai) dan urusan lingkungan menjadi hal yang vital, dan partisipasi masyarakat sangat ditunggu,” paparnya.

Namun Harjoko mengingatkan, harus ada sikap tegas dari gubernur yang akan datang, mengenai pelanggaran hukum yang mencemari lingkungan. Misalnya saja, pembuangan limbah yang langsung ke sungai, serta perilaku masyarakat yang belum mematuhi aturan dalam membuang sampah sembarangan. Harjoko menilai, di tangan dua jendral seperti kang Hasan dan kang Anton, masalah penegakan hukum bisa teratasi dengan baik.

“Saya mendengar, bahwa Penegakan hukum dari perusahan industri-industri yang melanggar aturan, akan jadi prioritas dari Pak Hasan dan Pak Anton, dan itu bagus,” ujarnya.

Dalam Debat Pilkada Jabar Ke-2 yang berlangsung Senin (14/5) di Universitas Indonesia, Depok, Jabar, Hasanah menyampaikan siap menyelesaikan permasalah Sungai Citarum yang sempat membuat heboh isu lingkungan nasional, bahkan internasional, setelah menjadi salah satu sungai terkotor dengan lautan sampah.

Adapun hal yang akan dilakukan yakni memperbaik Daerah Aliran Sungai (DAS) yang ada di Jabar, mulai dari hulu hingga hilir, seperti ketentuan pajak retribusi dan sistem pengelolaan yang jelas, jaminan reklamasi, jaminan ketersediaan pasokan energi untuk masyarakat, hingga pengembangan potensi energi terbarukan.

Selain itu, Hasanah juga akan memperketat izin penambangan, yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan, serta mancabut izin bagi penambang yang membandel.

Terkait dengan survei Ilma, Harjoko menilai saat ini masyarakat Jabar sudah cerdas untuk menentukan pilihannya. “Dan debat itu bisa menjadi salah satu informasi untuk memutuskan pilihan,” ujar Harjoko.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seven + 16 =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami