Internasional

TAK ADA TEROBOSAN DALAM KUNJUNGAN PM TURKI KE AS

BTN iklan

Ankara, Turki,(Lei) – Kunjungan Perdana Menteri Turki Binali Yildirim ke Amerika Serikat pada 7-10 November tak menghasilkan terobosan mengenai penyelesaian masalah penting yang menjadi sengketa kedua negara.

Tapi kedua sekutu NATO tersebut sepakat untuk mencegah kemerosotan lebih jauh dalam hubungan bilateral mereka.

“Tak ada kesepakatan nyata mengenai beberapa masalah yang telah meracuni hubungan bilateral, tapi pada tingkat praktis kami melihat kedua pihak ingin meningkatnakn komunikasi dan kontak lebih lanjut guna mencegah hubungan menjadi makin tegang,” kata Kepala Biro Hurriyet Daily News di Ankara Serkan Demirtas kepada Xinhua.

“Saya kira ada keinginan meskipun mereka berbeda pendapat mengenai masalah utama agar hubungan mereka kembali ke jalur dan membuka saluran komunikasi untuk semua itu,” kata ahli urusan internasional itu, yang juga adalah pemerhati masalah pemerintah Turki.

Setelah pertikaian tersebut, Yildirim dan Wakil Presiden AS Mike Pence mengeluarkan pernyataan mengenai masa depan hubungan bilateral Turki-AS setelah pertemuan mereka, tapi tak ada terobosan yang diumumkan untuk menjernihkan keadaan.

Tak ada tanda bahwa AS setuju untuk mempertimbangkan pengekstradisian tokoh agama yang tinggal di AS, Fethullah Gulen –yang dituduh oleh Ankara menjadi otak upaya kudeta pada Juli 2016, atau menghentikan dukungan untuk mempersenjatai gerilyawan Kurdi Suriah –yang dipandang oleh Turki sebagai cabang dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Turki, AS dan Uni Eropa memasukkan PKK ke dalam kelompok teroris.

Sementara itu, Turki tidak memberi jaminan untuk membebaskan pastur injili Amerika Andrew Brunson –yang dipenjarakan sejak tahun lalu karena di duga memiliki hubungan dengan jaringan Gulen.

Di dalam pernyataannya setelah pertemuan tersebut, Pence menyampaikan kembali “keprihatinannya yang mendalam sehubungan dengan penangkapan warga negara Amerika, staf lokal Turki, wartawan, dan anggota masyarakat sipil berdasarkan hukum keadaan darurat”. Namun ia menekankan “kemitraan strategis antara Washinton dan Amerika”.

Yildirim menegaskan pembahasannya dengan Pence sebagai “sangat produktif”. Gedung Putih menyatakan Pence dan Yildirim berharap bisa “menegaskan babak baru” dalam hubungan AS-Turki. Namun, tidak jelas apa yang dimaksud dengan “menegaskan babak baru” dalam konteks masalah yang sesungguhnya.

“Masalah penting yang muncul dari pertemuan ini ialah komunikasi antara pemimpin kedua negara bisa meningkat dalam beberapa hari ke depan dan ini akan mencegah makin buruknya keadaan,” kata Demirtas.

Juga tak ada keputusan mengenai pemulihan penuh pemrosesan visa. Ankara dan Washington beberapa hari sebelum kunjungan Yildirim meredakan pembatasan visa oleh kedua pihak, yang mulai dilakukan pada awal Oktober, setelah penangkapan seorang pekerja Turki di Konsulat Amerika di Istanbul dengan tuduhan melakukan kegiatan mata-mata dan memiliki hubungan dengan pelaku kudeta.

“Kami mengharapkan normalisasi dalam krisis visa, dan Pence memiliki pendirian positif mengenai ditemukannya penyelesaian,” kata Yildirim.

Turki telah melancarkan penindasan luas terhadap jaringan Gulen setelah upaya kudeta tahun lalu. Ankaran menangkap puluhan ribu orang yang diduga sebagai pengikut Gulen di militer, kepolisian dan lembaga kehakiman.

(Antara/Xinhua-OANA)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close